Memilih pemimpin umat. (Ilustrasi Foto: Dok Republika)
Memilih pemimpin umat. (Ilustrasi Foto: Dok Republika)

SumatraLink.id — Sepeninggal Rasulullah Shalallahu’alaihi wassalam (SAW), kepemimpinan umat Islam dilanjutkan secara estafet kepada para sahabatnya rodhiyallahuanhum (ra). Berdasarkan nubuwah Rasul SAW, setiap 100 tahun akan ada pemimpin yang menaungi umat dengan adil dan sejahtera. Umar bin Abdul Aziz, cucu sahabat Umar bin Khatab ra, pernah hadir di muka bumi ini untuk membawa kemaslahatan umat.

Umar bin Abdul Aziz, setidaknya telah membuktikan bahwa nyata ada sosok pemimpin yang adil yang mampu menyejahterakan umatnya kala itu. Hal tersebut terwujud dari doa kakeknya Umar bin Khotob ra: “Semoga dari anak keturunan Umar lahir seorang yang memenuhi bumi dengan keadilan. Ciri lelaki tersebut adalah memiliki tanda khusus di wajahnya.” (diriwayatkan Nafi ra — Dalail Al Nubuwah karya Imam Al-Baihaqi. 6:492).

Ali bin Abi Thalib ra mengatakan, “Janganlah kalian mengutuk Bani Umayyah karena di kalangan mereka terdapat seorang pemimpin yang saleh yaitu Umar bin Abdul Aziz.” (Dalail Al-Nubuwah karya Imam Al-Baihaqi).

Kepemimpinan dua sosok Umar: Umar bin Khatab ra dan Umar bin Abdul Aziz telah mewarnai dunia dan telah membuktikan kepada umat dan penduduk bumi ini bahwa keadilan seorang pemimpin nyata adanya bukan mimpi. Kehadiran kedua sosok Umar ini, seakan kita yang hidup di zaman sekarang tak memercayai tindakan dan perilaku seindah dan seideal kepemimpinan mereka.

Tak diragukan lagi dalam sebuah riwayat shohih, secuil cerita (masih banyak kisah lain) yang mahfum adanya bahwa sosok Umar bin Khotob ra setelah ronda kampung tengah malam dan mendapati keluarga miskin yang kelaparan. Merasa bersalah, tak menunggu nanti-nanti secepatnya ia menggotong sendiri sekarung gandum untuk dibawa kepada keluarga yang kelaparan tersebut pada malam hari.

Bisa saja Umar bin Khatab ra menyuruh stafnya mengirimkan sekarung gandum tersebut kepada ibu dan anak yang kelaparan tersebut, seperti kita sekarang mengirim sembako atau karangan bunga kepada seseorang. Itupun harus dimediamassakan (disebarkan di medsos).

Tetapi Umar ra berbeda dengan kita yang hidup di akhir zaman ini. Umar ingin menebus dosanya dengan menggotong sendiri karung gandum berjalan kaki, berletih dan berkeringat hingga di depan rumah rakyatnya tengah malam.


Sedangkan sosok pemimpin Umar bin Abdul Aziz di saat berkuasa, harus mematikan lampu tatkala ada tamu dalam urusan bukan kenegaraan pada malam hari. Mereka berbicara gelap-gelapan. Sepintas kita meremehkan sikap beliau yang hanya mematikan setitik lampu hanya untuk urusan di luar kenegaraan.

Berapa banyak dari kita yang hidup di zaman sekarang menggunakan fasilitas kecil hingga mewah milik negara untuk kepentingan pribadi, keluarga, dan golongan. Tak bisa lagi membedakan ini urusan kantor dan ini urusan di luar kantor.

Bahkan ketika tidak menjabat suatu jabatan lagi, sebagian dari kita masih merasa sebagai pejabat atau pemimpin dan tetap ingin menguasai fasilitas yang selama ini telah diberikan negara untuk seorang pejabat aktif.

Berapa banyak bekas pejabat dan pemimpin yang melarikan mobil dinas, mengambil sisa-sisa harta di kantor dan rumah dinas masuk ke dalam rumah pribadi, dan ada juga — seperti kata berita — yang masih mau mengambil karpet kantor, jam dinding dan sapu dari rumah dinas.

Zaman kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz, saking sejahtera rakyatnya, tak ada lagi orang yang mau menerima sedekah, infak, dan zakat. Berbeda dengan umat yang hidup di era sekarang, rakyat miskin dan kaya berlomba-lomba ingin mendapatkan dan mencari jatah sedekah, infak, dan zakat.

Tangan di bawah, menurut mereka, lebih baik dari tangan di atas. Bahkan, orang yang 'perut kenyang tapi cepat lapar' juga sempat-sempatnya mengkorupsi dan memanipulasi uang sedekah, infak, dan zakat. Naudzubillah minzalik.

Ketamakan dan keserahakan seorang pemimpin justru saat ini yang ditonjolkan, bukan kerelaan dan keikhlasan harta pribadi yang disumbangkan kepada negara untuk kesejahteraan rakyatnya.

Sejatinya, sosok pemimpin menabung amal shalih menuju akhirat, tatkala pada waktu nanti akan diminta pertanggungjawaban selama mendapat amanah rakyat untuk memimpin sebuah jabatan umat.

Saat ini memang tak mudah lagi menemukan sosok pemimpin seperti dua Umar tersebut. Zaman hedonisme dan milenial telah merubah perilaku manusia yang notabene awalnya memang sombong, pelit, rakus, serakah, dan tamak menjadi sosok pemimpin yang amanah dan adil, yang bertekad menyejahterakan rakyat yang dipimpinnya tanpa lips service. Sosok pemimpin yang merasa sakit dan gelisah serta tak bisa tidur, tatkala masih ada rakyatnya yang kelaparan, miskin, dan teraniaya.

Semoga Pemilu 2024 menghasilkan sosok pemimpin yang dapat menjiwai perilaku sosok “Dua Umar” yang telah menggetarkan penduduk bumi dan langit. (Emye)

Sumber: Dinukil dari Buku Sepotong Paha dari Aisyah (2019) karya Mursalin Yasland.