Anak-anak dan orang dewasa di Ethiopia (Afrika) melantunkan ayat suci Al-Quran. (Foto: Dok. Sumatralink.id)

SUMATRALINK.ID – Mayoritas raja zaman lampau terkesan bengis dan kejam. Tapi, tidak bagi Raja Najasyi. Penguasa Negeri Habasyah (sekarang Ethiopia/Afrika) yang berlaku adil tersebut pernah meneteskan air mata tatkala mendengar ayat-ayat Al-Quran Surat Maryam.

Hijrahnya 12 orang laki-laki dan empat perempuan kaum muslimin dari Makkah ke Habasyah menjadi tonggak bersejarah bagi Raja Najasyi mengenal Islam. Kepergian mereka dari Tanah Air-nya pada tahun ke-5 H (615 M), Makkah lantaran mendapat tekanan fisik dan ancaman pembunuhan dari kaum Quraisy.

Nabi Muhammad Sholallahu’alaihi wassalam (SAW) sudah mengetahui Najasyi, seorang raja yang adil, tak bakal ada seorang pun yang teraniaya di sisinya. Beliau memerintahkan agar beberapa orang Muslim hijrah ke Habasyah untuk menyelamatkan imannya.

Ini hijrah pertama kaum muslimin sebelum ke Yastrib (Madinah). Kaum Quraisy mengutus dua orang menghadap Raja Najasyi, agar mengembalikan belasan orang tersebut ke Makkah. Najasyi tak begitu saja mengabulkan permintaan kedua orang utusan petinggi Makkah.

Meski kedua utusan tersebut telah “menyogok” penjaga dan pengawal Raja Najasyi dengan hadiah istimewa, namun Najasyi tidak serta merta terbuai dengan ucapan siapa pun.

Raja Najasyi melakukan cek dan ricek atas informasi sepihak yang diterimanya. Dipanggilah juru bicara kaum Muslimin segera menghadap raja. Ja’far bin Abu Thalib tiba di hadapan raja.

“Macam apakah agama kalian…? tanya Najasyi, yang kala itu beragama Nashrani.

“Wahai Tuan Raja, dulu kami pemeluk agama jahiliyah. Kami menyembah berhala, memakan bangkai, berbuat mesum, memutus silaturahmi, menyakit tetangga,” jawab Ja’far, juru bicara kaum Muslimin.

“Allah mengutus seorang rasul dari kalangan kami, kami ketahui nasab, kejujuran, amanah, dan kesucian dirinya. Beliau menyeru kami kepada Allah dan mengesakan-Nya..,” lanjut Ja’far.

“Apakah engkau bisa membacakan sedikit ajaran dari Allah yang dibawa (Rasulullah SAW)?” tanya Najasyi.

“Ya…,” jawab Ja’far.

“Kalau begitu bacakanlah kepadaku,” ujar Najasyi di dampingi para uskup.

Sesungguhnya ini yang dibawa Isa benar-benar keluar dari satu misykat (sumber). Pergilah kalian berdua. Demi Allah aku tidak akan menyerahkan mereka kepada kalian berdua dan sama sekali tidak.Raja Najasyi

Lalu, Ja’far membacakan Al Quran dengan hafalannya Surat Maryam (19) ayat 29-33.

Mendengar ayat-ayat Surat Maryam itu, spontan Raja Najasyi menangis. Air matanya membasahi jenggotnya. Tak hanya itu, para uskup yang mendampingi Najasyi turut menangis.

“Sesungguhnya ini yang dibawa Isa benar-benar keluar dari satu misykat (sumber yang sama). Pergilah kalian berdua. Demi Allah aku tidak akan menyerahkan mereka kepada kalian berdua dan sama sekali tidak,” kata Raja Najasyi kepada dua utusan Kaum Quraisy seperti dinukil Syaikh Shafiyyurhman al-Mubarakfuri dalam kitabnya Ar-Rahiq al-Makhtum.

Surat Maryam ayat 29-33 ini menjadi lantunan favorit penduduk di Ethiopia di belahan Benua Afrika yang dikenal berkulit hitam dan rambut ikal. Lantunan merdu ayat suci Al-Quran pada Surat Maryam tersebut video viral di jagat maya.l

Dari negeri Ethiopia ini, juga ada tiga orang istimewa yang menduduki maqom terbaik yakni Lukman al-Hakim, budak hitam yang namanya terukir di Al-Quran. Bilal bin Robah, muadzin Rasulullah SAW, dan Raja Najasyi.  Allahua’lam bishawab (Mursalin Yasland)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *