SUMATRALINK.ID – Tak terasa puasa Ramadhan segera berakhir, hari raya Idul Fitri siap menyongsong. Umat Muslim menyambut bulan istimewa dengan suka cita dan ketika akan berpisah ia berduka cita. Beragam tradisi unik tampil berkesan ketika menyambut Ramadhan dan hari raya lebaran di setiap tempat. Kaum muslimin gegap gempita menyongsong Ramadhan di seluruh dunia, sebagaimana para salafus sholih sudah bersiap enam bulan sebelum Ramadhan tiba. Persiapan matang kaum muslimin mengisi hari-hari dan malam-malamnya yang penuh hikmah untuk meraih bulan penuh ampunan dosa. Hilal sudah terlihat, Marhaban ya Syahru Ramadhan…. Jamaah meramaikan shalat tarawih ditambah witir di masjid dan musholla. Tilawah Al-Quran menghiasi malam-malam sunyi. Asap dapur mulai mengepul menanti sahur tiba. Tua-muda, anak-anak dewasa, laki dan perempuan berduyun-duyun ke masjid untuk shalat subuh berjamaah. Suara Adzan Maghrib bergema di menara masjid tanda berbuka puasa. Dengan berucap Bismillah, sebutir kurma membasahi tenggorokan yang kering selama kurang lebih 13 jam. Seteguk, dua-tiga teguk air mengisi ruang-ruang kosong dalam perut untuk menormalisasi kerja usus. Anak-anak prabaligh belajar puasa setengah hari, belajar shalat wajib, tarawih, witir dan ikut sahur bersama meski rasa kantuk masih tersisa. Bagi orang dewasa, yang telah berulang kali mendapati Ramadhan, seakan menjadi momentum reuni menjalani puasa dan ibadah Ramadhan agar lebih baik dari sebelumnya. Hidangan untuk berbuka atau ifthor jama’i (buka bersama) tak kurang-kurang menunya. Para penjual aneka kuliner lokal dan moderen keluar ke jalan dan pasar kaget. Para pembeli bebas membeli dan menentukan menu buka puasa atau sahurnya. Tradisi kuliner Ramadhan terus berulang setiap tahunnya. “Maka nikmat Rabb-mu yang manakah yang kamu dustakan,” (QS. Ar-Rahmaan: 13). Nikmat-nikmat yang Allah Subhanahuwata’ala (SWT) berikan sudah tampil jelas di dunia. Semua kita bergelimang dengannya tanpa dapat mengingkari dan mendustakannya. “Hanya kepada-Mu ya Allah kami memuji….” Sebulan penuh berpuasa, meninggalkan yang halal pada siang hari, menjalani ibadah malam, kini saatnya Ramadhan pergi. Bulan penuh ampunan dosa yang didalamnya segenap syaitan-iblis dibelenggu, pintu surga dibuka selebar-lebarnya dan seluas-luasnya bagi umat Nabi Muhammad Sholalallahu’alaihi wassalam (SAW) yang beriman. Satu-satunya bulan dalam kalender hijriah yang terdapat lailatul qodar, yang pahalanya seribu bulan atau lebih dari 83 tahun. Sangat beruntung bagi seorang hamba yang mendapatkan lailatul qodar pada Ramadhan tahun ini. Mereka, yakin, adalah orang-orang pilihan Allah SWT — yang tidak memandang banyak atau sedikit ibadah, kaya atau miskin, pejabat atau pekerja, senang atau susah, tua atau muda, laki-laki atau perempuan. Semua mendapatkan peluang dan kesempatan yang sama untuk meraih lailatul qodar. Dari Abu Hurairah Rodhiyallahuanhu (ra), Nabi SAW bersabda, “Barang siapa shalat pada malam kemuliaan (lailatul qadar) karena keimanan dan mengharap pahala semata dari Allah, maka Allah mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu,” (HR. Bukhari, Muslim). Sejak awal Ramadhan hingga 10 malam terakhir, tak lupa, lisan kita berucap terus menerus, “Allahumma innaka tuhibbul ‘afwa fa’fuanni (Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, dan Mencintai ampunan, maka ampunilah aku),” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah). Hari ini, kita sudah berada di ujung Ramadhan. Semua ibadah yang telah dilazimi siang dan malam selama Ramadhan, tentunya akan berlanjut pada 11 bulan berikutnya, kecuali shalat tarawih. Tentu, kita semua tidak ingin Ramadhan berlalu, sedangkan dosa-dosa kita tidak diampuni Allah SWT, dan puasa dan amal sholih kita tidak diterima. Semua orang yang beriman yang dipanggil Allah SWT untuk berpuasa sebagaimana orang terdahulu, tidak ingin menjadi orang yang merugi; baik di dunia terlebih di akhirat. Rugi di dunia masih bisa diatasi, akan tetapi rugi di akhirat tidak ada yang menanggungnya. Semoga Ramadhan tahun ini membekas pada hamba-hamba yang mengharap perjumpaan dengan Allah SWT kelak. Bukankah kegembiraan orang-orang yang berpuasa itu ketika berbuka dan berjumpa dengan Allah SWT, dzat yang menguasai kerajaan langit dan bumi kelak. Allahua’lam bishawab. (Mursalin Yasland) Facebook WhatsApp Twitter Threads Navigasi pos Nasihat Umar kepada Kaum Muslimin Idul Fitri Melahirkan Kesalehan Sosial