Masjid Jami Al Anwar di Telukbetung, Bandar Lampung. (Foto: Mursalin Yasland) SumatraLink.id — Siapa yang tidak kenal Gunung Krakatau? Gunung berapi yang terletak di perairan Selat Sunda (perbatasan Sumatra – Jawa) ini meletus tahun Agustus 1883. Salah satu saksi bisu peristiwa meletusnya gunung purba itu yakni bangunan Masjid Jami Al Anwar di Telukbetung, Kota Bandar Lampung. Bila berada di Kota Bandar Lampung, ibu kota Provinsi Lampung, tak lengkap bila tidak berkunjung ke Masjid Jami Al-Anwar. Masjid yang berada di Jl Laksamana Malahayati Nomor 100 Telukbetung, Bandar Lampung, ini telah berusia 185 tahun. Masjid ini terletak di pusat keramaian (permukiman padat) penduduk dan perdagangan di kawasan Telukbetung. Sejak dahulu, kawasan ini menjadi sentra perdagangan ritel terkenal di Lampung karena posisinya yang berada di bibir pantai Teluk Lampung, yang menghubungkan dengan perairaan Selat Sunda. Bila dilihat sepintas dari luar atau saat melintas di Jl Malahayati, bangunan masjid ini tampak biasa-biasa saja. Tidak terlihat ada keistimewaan atau keunikan yang berarti. Dan, tak ada sesuatu yang menonjol akan keunikan dari masjid ini. Keberadaan menara atau kubah masjid yang telah menjadi simbol sebuah masjid juga tak ada corak khusus yang menunjukkan keistimewaannya. Padahal, Masjid Jami Al Anwar Telukbetung yang berusia hampir dua abad ini memiliki sejarah yang spesial bagi Provinsi Lampung. Masjid ini merupakan salah satu masjid tertua di daerah Lampung. Banyak masjid tua lainnya di Lampung, tapi hanya masjid tua ini lebih dekat dengan Gunung Krakatau. Masjid Jami Al Anwar didirikan tahun 1839 dan hingga kini telah mengalami tiga masa peralihan kekuasaan di nusantara. Yakni, masa penjajahan, kemerdekaan, dan setelah kemerdekaan. Masjid ini tetap berdiri kokoh hingga sekarang. Letusan Krakatau Menurut Ketua Seksi Sarana dan Fisik Bangunan Pengurus Masjid Jami Al Anwar Telukbetung, Muhammad Achmadi Malik (70 tahun), berdasarkan catatan sejarah, masjid ini berdiri pada tahun 1839. Ketika itu, bangunan masjid sangat kecil dan hanya berbentuk sebuah mushala yang terletak di atas lahan wakaf milik warga seluas 400 meter persegi. Ketika Gunung Krakatau yang berada di tengah perairan Selat Sunda meletus pada tahun 1883, bangunan masjid pun ikut rata dengan tanah. Tak hanya masjid yang ketika itu masih berupa mushala Al Anwar, ribuan rumah dan ratusan ribu jiwa masyarakat Lampung turut menjadi korban letusan Gunung Krakatau. Pasca-letusan Gunung Krakatau, wilayah Lampung yang berada di ujung selatan Pulau Sumatra kembali dihuni orang. Penghuninya pun berasal dari beragam etnis dan suku. Di antaranya, selain warga asli Lampung, juga terdapat suku Bugis, Palembang, Bengkulu, Banten, dan Jawa. Lima tahun setelah gunung meletus, Muhammad Saleh bin Karaeng, Daeng Sawijaya, dan masyarakat setempat, termasuk para saudagar dari Palembang, Banten, Bengkulu, Bugis, dan tokoh Lampung, bermusyawarah untuk membangun kembali mushala yang telah hancur tersebut. Berdirilah Masjid Jami Al Anwar. Setengah abad setelah guncangan Gunung Krakatau, warga dari berbagai suku, yang tinggal di bibir pantai Teluk Lampung ini, kembali membangun dan merenovasi bangunan masjid bersejarah yang runtuh tersebut. Lalu, berdirilah Masjid Jami Al Anwar pada tahun 1888. Pada masa penjajahan tersebut, pembangunan masjid ini masih mengandalkan konstruksi dan bahan material seadanya. Achmadi mengatakan, Masjid Al Anwar saat didirikan menggunakan bahan dan konstruksi yang sangat sederhana. Bahkan, gaya bangunannya tidak meniru gaya arsitektur bangunan yang biasa diterapkan di masa penjajahan. “Konstruksi bangunan masjid dikerjakan secara bergotong royong bersama segenap masyarakat setempat. Hingga sekarang ini, tidak diketahui secara pasti asal usul arsitek pembuat masjid ini,” kata Achmadi. Ia mengatakan, arsitektur masjid tidak meniru bangunan masjid dari negara luar. Para pendiri masjid, kata dia, hanya ingin mendirikan masjid sebagai tempat ibadah dan berkumpulnya warga pada masa penjajahan untuk melawan penjajah di Lampung. “Bangunannya tidak ada corak khas. Yang jelas, berdiri masjid saja sudah lumayan,” ujar Achmadi menirukan cerita dari kakek dan neneknya dahulu. Armen Syafei (78 tahun), warga sekitar masjid mengatakan, bangunan masjid tua ini memang tidak ada ciri khusus. Namun, untuk arsitekturnya meniru benteng pertahanan milik penjajah. “Bangunan masjid ini tidak ada ciri khusus. Konstruksinya mengarah pada bangunan benteng pertahanan. Lihat saja tiang dan dindingnya dibuat dengan ukuran tebal seperti benteng pertahanan dari musuh,” kata Armen. Tanpa Semen Keunikan masjid ini justru tampak dari keberadaan tiang saka guru di dalamnya. Bila hampir semua masjid menggunakan empat tiang saka guru yang dijadikan penahan atau rangka dari atap, Masjid Jami Al Anwar ini justru menggunakan enam tiang saka guru yang besar. “Enam tiang inilah yang menjadi ciri khas bangunan lama masjid,” kata Achmadi. Enam tiang dengan diameter sekitar 50 sentimeter dan tinggi 8 meter yang berada di tengah masjid berfungsi menopang kubah atas yang terbuat dari kayu. Selain tiang saka guru, keunikan lain dari masjid ini adalah keberadaan pintu masuk masjid. Dari dulu hingga sekarang, pintu itu tak mengalami perubahan yang berarti. Dinding bangunan lama masjid yang bertumpuan batu bata berlapis sebagai pintu masuk masjid juga masih terlihat kokoh. “Menurut ceritanya, tiang-tiang dan dindingnya dibuat tanpa semen, tapi dengan adukan telur campur kapur,” tutur Achmadi. Sangat mungkin, kata dia, bila adukan campuran batu, pasir, dan telur pada masa penjajahan dulu turut memperkokoh bangunan tanpa ada kerusakan sedikit pun hingga saat ini. “Coba, kalau bangunannya sudah menggunakan semen, pasti ada yang berubah pada masjid yang berumur lebih dari 100 tahun ini,” ujar lelaki asal Madura ini. Renovasi Masjid Keberadaan Masjid Jami Al Anwar yang berdiri sekarang merupakan hasil pemugaran atau renovasi tahun 1962. Panitia pembangunan masjid tetap mempertahankan bangunan asli masjid, seperti tiang dan dinding pintu masuk masjid. Tiang dan dinding masjid lama saat ini sudah berada di dalam masjid hasil renovasi. Menurut data, setelah renovasi pertama tahun 1962, masjid ini sudah beberapa kali mengalami renovasi, yakni tahun 1994 dan 1997. Masjid yang berukuran sekitar 30 x 35 meter ini berdiri di atas tanah wakaf seluas 6.500 meter persegi dan mampu menampung lebih dari 2.000 jamaah. Pada masa renovasi pertama, telah dibangun menara. Pada tahun 1994, menara masjid ini mengalami perubahan menjadi 26 meter. Di pintu masuk masjid, dibangun teras sederhana, namun bergaya arsitektur lama masa penjajahan Belanda. Ia mengatakan, pada renovasi tahun 1962, konstruksi bangunan ini masih bercirikan konstruksi bangunan pada 1888. Hal ini bisa dilihat dari dinding masjid, pintu masuk masjid, dan menara masjid, termasuk pagar yang mengelilingi masjid. Semua dibuat dengan batu bersusun berlapis, seperti bangunan masa penjajahan dulu. Dalam catatan sejarah, masjid ini pada masa perjuangan kemerdekaan melawan penjajah Belanda menjadi basis tempat berkumpulnya para tokoh pejuang untuk mengatur strategi perlawanan penjajah. Pejuang tersebut di antaranya adalah Alamsjah Ratuperwiranegara, Kapten Subroto, KH Nawawi, dan KH Toha. Sebagai masjid yang tertua di Lampung, Masjid Al Anwar juga memiliki banyak peninggalan kuno, di antaranya dua buah meriam peninggalan Portugis, kitab tafsir Alquran yang sudah berumur lebih dari satu setengah abad. Terdapat ratusan buku agama Islam berusia 150 tahun, naskah kuno letusan Krakatau 1883, dan gentong air untuk tempat berbuka puasa. Di masjid ini, terdapat sumur tua yang tidak pernah kering saat musim kemarau untuk mengambil air wudhu. “Meriam ini pemberian pemerintah daerah waktu itu. Ini sebagai ciri khas masjid yang dibangun pada masa penjajahan,” kata Achmadi. Beduk Masjid Menurut Achmadi Malik, masjid tersebut masih menggunakan beduk untuk memanggil orang shalat. Hal ini dilakukan untuk mempertahankan ciri. Di dalam masjid tersebut, ada dua beduk dengan ukuran berbeda. Beduk pertama lebih besar dengan kondisi bentangan kulitnya sudah robek dan tidak digunakan lagi, kecuali pada malam takbiran karena untuk meramaikan suasana. Sedangkan beduk yang kini masih bagus berdiameter sekitar satu meter dan siapa pun boleh memukulnya jika waktu shalat telah tiba. Ia menjelaskan, syiar tersebut dilakukan ketika hendak masuk waktu shalat serta malam takbiran, baik Idul Fitri maupun Idul Adha.*** Sumber: Koran Republika, Ahad 13 September 2009, penulis Mursalin Yasland. Editor: Mursalin Yasland Facebook WhatsApp Twitter Threads Navigasi pos Krismon 1998, Turis Jepang Tawar Rumah Warisan di Lampung Rp 1 Miliar Masjid Jami Al Anwar Dibangun Perantau Asal Bugis