SUMATRALINK.ID — Peristiwa alam selalu berulang. Gempa Liwa, 32 tahun silam meninggalkan bekas luka mendalam. Seorang warga Bandar Lampung sedang menatap nama-nama korban meninggal dunia pada Tugu Makam Korban Gempa Liwa, di Liwa, ibukota Kabupaten Lampung Barat, Lampung. Bumi Liwa bergoncang pada 16 Februari 1994, pukul 8.00. Dampak fenomena alam itu, sedikitnya 200 jiwa melayang, 2.000 orang luka parah, dan 75 persen bagunan roboh dan rusak. Menurut artikel Ikatan Ahli Geologi Indonesia, pada 23 Desember 1994 dikutip laman iagi.or.id, gempa bumi di Liwa ber-magnitud 6.5 berada di zona sesar Sumatra segmen Ranau-Suoh sepanjang 50 km. Jika pergeseran sesar akibat gempa bumi Liwa bermagnitud 6,5 adalah 1 meter, maka selang waktu ulangnya paling cepat diperkirakan 70 tahun. Liwa, berada di bagian selatan Bukit Barisan Selatan. Letaknya di antara Danau Ranau dan Suoh yang wilayahnya bermaterial vulkanis. Di daerah ini, terdapat Gunung Seminung, Danau Ranau, Gunung Raya, Gunung Kukusan, dan Gunung Pesagi. Semuanya masuk zona sesar Sumatra. Ahli Geologi berpendapat daerah Liwa dan sekitarnya tertutup hampir seluruhnya endapan gunung api kuarter. Daerah tersebut juga dipotong oleh beberapa sesar paling aktif yang membentang dari tepi timur laut Danau Ranau sampai Suoh. Jika pergeseran sesar akibat gempa bumi Liwa bermagnitud 6,5 adalah 1 meter, maka selang waktu ulangnya paling cepat diperkirakan 70 tahun. (Mursalin Yasland) Facebook WhatsApp Twitter Threads Navigasi pos Bung Hatta di Stasiun Tanjungkarang