SUMATRALINK. ID — Menyeru untuk berbuat baik dan mencegah kemungkaran atau dalam Agama Islam amar’ ma’ruf dan nahi mungkar menjadi kewajiban seorang Muslim. Dalam hal ini, Luqman menasihati anaknya agar sabar saat melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar. Kesabaran menjadi titik tolak seorang Muslim untuk berpartisipasi dalam kebaikan dan mencegah kemungkaran, yang tidak hanya mementingkan diri sendiri dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala (SWT), tetapi bermuamalah (bersosialisasi) sesama manusia. Seorang penyeru kebaikan dan mencegah kemungkaran, tentu akan mendapat tantangan dan cobaan antarsesama. Penyeru akan menerima balasan setimpal yakni cacian, dimusuhi, dan juga diancam, bahkan dikriminalisasi dan masuk penjara. Terhadap amar ma’ruf dan nahi mungkar ini, sesuatu yang pasti terjadi dan memiliki konsekwensi. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya yang demikian termasuk hal-hal yang diwajibakan (oleh Allah),” (QS. Luqman: 17). Seorang penyeru kebaikan dan mencegah kemungkaran, tentu akan mendapat tantangan dan cobaan antarsesama. Penyeru akan menerima balasan setimpal yakni cacian, dimusuhi, dan juga diancam, bahkan dikriminalisasi dan masuk penjara. Solusi untuk mengatasi hal tersebut, Luqman menasihati anaknya agar bersabar. “Dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu,” (QS. Luqman: 17). Bersabar adalah sesuatu yang harus dimiliki para penyeru, agar dakwahnya berhasil. Mengenai sabar ini tidak ada batasnya. Meski sabar berbatas waktunya, ketika seseorang itu telah meninggal dunia. Maka selesainya dakwahnya. Allahua’lam bishawab. (Mursalin Yasland) Facebook WhatsApp Twitter Threads Navigasi pos Nasihat Luqman (2): Berbakti kepada Kedua Orang Tua