Gudang pupuk di LampungSalah satu gudang pupuk di Lampung. (Foto: Sumatralink.id/Mursalin Yasland)

SUMATRALINK.ID, JAKARTA – Meski terjadi konflik di Timur Tengah, PT Pupuk Indonesia (Persero) memastikan pasokan pupuk nasional tetap aman. Kapasitas produksi dan cadangan stok bahan baku untuk kebutuhan petani masih tetap terjaga.  

“Kami memastikan pasokan pupuk nasional tetap aman, sehingga petani dapat terus menanam tanpa perlu khawatir terhadap ketersediaan pupuk,” kata Sekretaris Perusahaan Pupuk Indonesia, Yehezkiel Adiperwira dalam keterangan pers yang diterima, Senin (9/3/2026).

Saat ini, dia mengatakan PT Pupuk Indonesia memiliki kapasitas produksi mencapai 14,5 juta ton per tahun untuk berbagai jenis pupuk. Khusus untuk pupuk urea, kapasitas produksi Pupuk Indonesia bahkan mampu memenuhi seluruh kebutuhan domestik.

Secara fundamental, menurut dia, produksi urea nasional juga memiliki tingkat kemandirian yang terjaga, karena bahan baku utamanya berupa gas bumi dapat dipenuhi dari domestik dengan pasokan dan harga yang sudah diatur oleh pemerintah.

Ia mengatakan, meskipun terjadi eskalasi konflik di Selat Hormuz, yang merupakan salah satu jalur distribusi penting urea global, kondisi tersebut tidak berdampak langsung terhadap pasokan pupuk urea nasional.

Pupuk Indonesia merupakan produsen urea terbesar di kawasan Asia Pasifik, Timur Tengah, dan Afrika Utara, dan memiliki kapasitas produksi yang kuat. “Kami memiliki kemampuan untuk menjaga pasokan pupuk tetap optimal bagi petani Indonesia,” kata Yehezkiel.

Pupuk Indonesia juga memperkuat ketahanan rantai pasok melalui diversifikasi sumber bahan baku strategis pupuk yang masih diimpor. Beberapa bahan baku pupuk memang tidak tersedia secara alami di Indonesia, seperti fosfat (P) dan kalium (K) yang menjadi komponen penting dalam produksi pupuk NPK.

Kami memiliki kemampuan untuk menjaga pasokan pupuk tetap optimal bagi petani Indonesia. – Yehezkiel Adiperwira

Saat ini Pupuk Indonesia memperoleh pasokan fosfat (P) dari negara-negara di kawasan Afrika Utara, seperti Maroko, Tunisia, dan Aljazair. Sementara itu, pasokan kalium (K) diperoleh dari Kanada dan Laos yang berada di luar wilayah konflik Timur Tengah, sehingga risiko gangguan pasokan dapat diminimalkan.

Bahan baku pupuk yang berpotensi terdampak langsung konflik di Timur Tengah yakni sulfur (S) yang berasal dari Uni Emirat Arab, Qatar dan Kuwait. Meski demikian, sumber pasokan sulfur (S) bagi Pupuk Indonesia tersedia dari negara lain seperti Kanada, sehingga risiko gangguan pasokan dapat diantisipasi.

Pupuk Indonesia juga memperkuat manajemen stok bahan baku dengan menjaga ketersediaan fosfat, kalium dan sulfur yang saat ini berada pada tingkat yang mencukupi untuk mendukung produksi.

Penguatan manajemen stok bahan baku ini juga menjadi langkah antisipatif terhadap potensi kenaikan biaya logistik akibat meningkatnya harga minyak dunia. Pupuk Indonesia optimistis dapat menjaga stabilitas pasokan pupuk nasional. (*)

Editor: Mursalin Yasland

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *