SUMATRALINK.ID – Seorang lelaki bersedekah kepada seorang perempuan pada malam hari. Esoknya, orang-orang pada ribut mengatakan perempuan pezina mendapat sedekah tadi malam. Lelaki itu berucap, “Ya Allah hanya bagi-Mu segala puji! Sedekahku jatuh pada perempuan pezina. Aku akan bersedekah lagi.”

Malam berikutnya, lelaki tadi keluar dan bersedekah lagi lalu diterima seorang lelaki. Besoknya, orang-orang membicarakan, seorang kaya raya mendapatkan sedekah tadi malam. Lelaki tadi berucap, “Ya Allah hanya bagi-Mu segala puji! Sedekahku jatuh pada orang kaya. Aku akan bersedekah lagi.”

Malam selanjutnya, lelaki tadi keluar dan bersedekah lagi lalu diterima seorang lelaki lain. Esoknya, orang-orang mengatakan, seorang pencuri mendapatkan sedekah. Lelaki tadi berucap, “Ya Allah bagi-Mu segala puji! Sedekahku ternyata jatuh pada perempuan pezina, seorang kaya raya, dan seorang pencuri.

Tak lama, lelaki tersebut didatangi seseorang tak dikenal dan mengatakan, “Sedekahmu benar-benar telah diterima.” Lalu ia berkata, “Boleh jadi, perempuan pezina itu akan menghentikan perbuatan zinanya karena sedekahmu. Orang kaya yang diberikan sedekah bisa mengambil pelajaran dan mau memberikan sebagian rezeki dari Allah kepada orang lain. Dan mungkin saja, seorang pencuri tadi dapat menghentikan perbuatan karena sedekahmu.”

Kisah dari sabda Nabi Muhammad Sholallahu’alaihi wassalam (SAW) yang diriwayatkan Bukhari Rohimahullah dari Abu Hurairah Rodhiyallahuanhu (RA) tersebut dapat diambil ibroh betapa pentingnya arti sedekah dalam kehidupan ini terlebih ganjaran pahalanya di akhirat kelak.

Jangan takut kekurangan atau kehabisan harta bila niat sudah terpatri untuk bersedekah. Masih banyak orang kaya yang kikir dan pelit tidak mau berbagi rezeki yang telah dianugerahi Allah SWT kepadanya dalam berbagai pekerjaan atau usahanya.

Dari riwayat Abu Hurairah RA, Nabi SAW bersabda, “Harta itu sama sekali tidak ada berkurang kerena sedekah….”

Belum pernah terdengar ada seseorang yang gemar bersedekah akan tetapi ia kekurangan harta atau bangkrut gara-gara banyak sedekah. Malah, semakin orang tersebut giat dan gemar bersedekah secara ikhlas baik dalam keadaan sulit ataupun senggang, atau baik dalam kondisi berkekurangan atau berlebih, rezekinya akan terus mengalir saja.

Ikrimah meriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, ia berkata, “Dua dari setan dan dua dari Allah Ta’ala,” kemudian ia membaca ayat, “Setan itu menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir). Sedangkan Allah menjanjikan untukmu ampunan dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karuniah-Nya) lagi Maha Mengetahui.”

Keutamaan sedekah sangatlah luar biasa, sampai malaikat mendoakan setiap pagi. Dari Abu Darda RA, Nabi Muhammad SAW bersabda, “….Kedua malaikat berdoa, ‘Ya Allah, berilah ganti dengan segera bagi orang yang membelanjakan hartanya dan binasakanlah dengan segera orang yang menahan (kikir atas) hartanya’.”

Persoalan sedekah ini juga tidak bisa sembarangan. Sedekah kepada orang lain dari harta atau barang yang baik dan dilakukan dengan ikhlas akan berdampak pada orang yang bersedekah maupun dari orang yang menerima sedekah. Bukankah doa baik dari orang yang diberi sedekah tanpa diketahui pemberi sedekah akan mudah diijabah.

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebaktian yang sempurna sebelum kami menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai,” (QS. Ali Imran: 92).

Namun sebaliknya, bila seseorang ingin bersedekah hendaknya tidak dilakukan dengan riya’ atau sum’ah, apalagi niatnya ingin diketahui orang banyak dan disebarkan di media sosial.

“Jangan menghilangkan pahala sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti perasaan si penerima (sedekah),” (QS. Al-Baqarah: 265).

Bagi yang tidak berkecukupan atau berkekurangan harta, sedekah masih diperkenankan tidak harus menunggu ada atau kaya. Sedekah bisa dengan kelebihan makanan, sedekah dengan tenaga, atau juga menjaga dirinya dari api neraka hanya dengan sedekah separuh biji kurma. Bila separuh biji kurma juga tiada, hendaknya ia menahan dirinya untuk tidak menyakitkan orang lain.

Semoga kita semua memiliki ghiroh (semangat) untuk tetap gemar bersedekah baik dalam keadaan lapang maupun sempit yang dilakukan rutin tidak melihat sedikit dan banyaknya, tapi istiqomahnya. Allahua’lam bishawab. (Mursalin Yasland)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *