SUMATRALINK.ID, JAKARTA — Untuk menentukan 1 Syawal hari raya Idul Fitri 1447 H, Kementerian Agama (Kemenag) menggelar sidang isbat di Kantor Kemenag Jakarta, pada Kamis (19/3/2026). Sebelum sidang isbat, Tim Hisab Rukyat Kemenag menggelar seminar tentang posisi hilal. Dirjen Bimas Islam Abu Rokhmad mengatakan, sidang isbat merupakan mekanisme resmi pemerintah untuk menentukan awal bulan Hijriah, khususnya bulan Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijah. “Sidang isbat diawali dengan seminar pemaparan posisi hilal oleh Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama. Setelah itu dilanjutkan dengan sidang tertutup untuk membahas hasil rukyatulhilal,” kata Abu Rokhmad dalam keterangan persnya yang diterima, Selasa (17/3/2026). Pada sidang isbat tertutup tersebut, ia mengatakan tim menerima masukan dari berbagai daerah terkait dengan pemantauan hilal. Setelah dilakukan pembahasan dan musyawarah, hasilnya akan diumumkan ke masyarakat melalui pemerintah. Sidang isbat melibatkan perwakilan duta besar negara sahabat, pimpinan Komisi VIII DPR RI, perwakilan Mahkamah Agung Republik Indonesia, MUI, serta lembaga terkait seperti BMKG, Badan Informasi Geospasial, Badan Riset dan Inovasi Nasional, dan kalangan akademisi falak, termasuk dari ITB. Rokhmad mengatakan, berdasarkan perhitungan astronomi (hisab), pada saat rukyat atau 29 Ramadhan 1447 H yang bertepatan dengan 19 Maret 2026, posisi hilal di seluruh wilayah Indonesia sudah berada di atas ufuk. Ketinggian ketinggian hilal antara 0 derajat 54 menit 27 detik hingga 3 derajat 7 menit 52 detik. Sementara sudut elongasi hilal diperkirakan berkisar antara 4 derajat 32 menit 40 detik hingga 6 derajat 6 menit 11 detik. Penetapan awal Syawal 1447 H akan menunggu laporan hasil rukyatul hilal dari seluruh daerah yang kemudian dibahas dalam sidang isbat. – Abu Rokhmad Menurut Abu Rokhmad, seluruh sistem hisab juga menunjukkan bahwa ijtimak menjelang Syawal 1447 H terjadi pada 19 Maret 2026 sekitar pukul 08.23 WIB. Meski demikian, pemerintah tetap menunggu hasil rukyatul hilal sebelum menetapkan awal Syawal. “Penetapan awal Syawal 1447 H akan menunggu laporan hasil rukyatul hilal dari seluruh daerah yang kemudian dibahas dalam sidang isbat,” ujar Rokhmad. Kemenag akan melakukan pemantauan hilal di 117 titik lokasi yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Pengamatan ini melibatkan kantor wilayah Kemenag, kantor Kemenag kabupaten/kota, pengadilan agama, organisasi kemasyarakatan Islam, serta instansi terkait di daerah. Sejumlah lokasi pengamatan hilal antara lain di Aceh, Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua. Beberapa titik strategis di antaranya Observatorium Tgk. Selain itu juga pengamatan di Chiek Kuta Karang di Lhoknga, Observatorium Astronomi Itera Lampung Selatan, Planetarium dan Observatorium KH Zubair Umar Al-Jailani di Semarang, Pantai Pancur Alas Purwo Banyuwangi, hingga Pantai Lampu Satu di Merauke. Hasil rukyat dari berbagai lokasi tersebut akan menjadi bahan pertimbangan dalam sidang isbat sebelum pemerintah mengumumkan secara resmi penetapan 1 Syawal 1447 H atau Hari Raya Idul Fitri 2026 kepada masyarakat. Sebelumnya, PP Muhammadiyah berdasarkan hisabnya telah menetapkan bahwa 1 Syawal 1447 H jatuh pada Jumat (20/3/2026). Kemenag memprediksi terjadi perbedaan hari raya Idul Fitri sehari setelahnya. (*) Editor: Mursalin Yasland Facebook WhatsApp Twitter Threads Navigasi pos Pasokan Pupuk Nasional Tak Terganggu Konflik Timur Tengah