Kantor Leideng (sekarang Kantor Wali Kota Palembang) di Jl Merdeka. (Foto: Sumatralink.id/Mursalin Yasland)

SUMATRALINK.ID, PALEMBANG – Seperti zaman dulu, bunyi sirine mengaung akan terdengar lagi dari Kantor Leideng atau Watertoren (Menara Air). Warga Kota Palembang akan mendengar suara tersebut yang zaman dulu pada pukul 7.00 kini pukul 11.30 dan 12.00 pada hari kerja.

Tak hanya suara sirine yang mengaung, akan tetapi gedung Watertoren yang sekarang menjadi Kantor Wali Kota Palembang, sinaran lampu skylight juga akan tampak di langit Kota Palembang berjuluk Kota BARI. Lampung skylight ini akan menyala menjelang waktu Maghrib selama bulan Ramadhan.

“Siang tadi kito uji coba sirine dan jugo skylight yang akan dioperasike tiap hari dengan jam-jam tertentu yang sudah dijadwalke,” kata Wali Kota Palembang Ratu Dewa seperti dikutip dari akun FB-nya, Selasa (17/2/2026).

Ratu Dewa mengatakan, untuk suara sirine akan dimulai pukul 12.00 pada hari kerja Senin sampai Kamis. Sedangkan pada hari Jumat, sirine menyala pada pukul 11.30. “Dan jugo (sirine berbunyi) waktu Imsak (sahur) selama bulan Ramadhan,” kata Ratu Dewa.

Siang tadi kito uji coba sirine dan jugo skylight yang akan dioperasike tiap hari dengan jam-jam tertentu yang sudah dijadwalke. – Ratu Dewa

Kantor Wali Kota Palembang ini tempat berkantor Ratu Dewa selaku wali kota. Kantor yang dibangun zaman kolonial Hindia Belanda tersebut bernama Watertoren (Menara Air) pada 1926-1929. Gedung warna putih menjulang tinggi di Jalan Merdeka tersebut dilengkapi dengan banyak pipa besi.

Perancang Watertoren yang dibangun Pemerintah Hindia Belanda satu abad lalu yakni S.Snuijf. Tinggi bangunan mencapai 35 meter, dengan kapasitas menampung air bersih yang disaring dari air Sungai Musi mencapai 1.200 meter kubik.

Baca juga: Watertoren, Landmark Kota Palembang Sejak Zaman Kolonial

Kantor Leideng, warga Kota Palembang menyebutnya. Menara air milik Belanda ini (waktu itu) hanya kalangan terbatas yang dapat menikmati air bersih. Diantaranya, pemukiman elite di kawasan Talang Semut, yang penghuninya juga orang-orang Belanda dan pekerja Pemerintah Hindia Belanda.

Seorang warga Palembang kelahiran tahun 1960-an menceritakan, bunyi sirine selalu terdengar dari Kantor Leideng tersebut setiap pukul 7.00 saat pegawai masuk kantor. Suasana ini sangat lazim bagi warga Kota Pempek tersebut untuk mengetahui jam masuk kantor atau penanda hari pagi.

“Kalu mase kecik dulu, galak tedenger bunyi suling besak nian mengaung dari Sungi Musi. Dulu dak tahu kalu bunyi itu dari Kantor Leideng, kami raso dari kapal besak yang nak liwat Proyek (Jembatan Ampera) jembatan tengahnyo diangkat,” kata seorang warga yang pernah bermukim pada zaman Presiden Soeharto di belakang Pasar Cinde, Palembang. (Emye)

Editor: Mursalin Yasland

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *