Seorang anak muda lagi mengetik dengan mesin tik manual. (Foto: Dok. Sumatralink.id)

NIAT mau wawancara dengan rektor, tapi nasib berlaku lain. Siang hari itu cerah, suasana kampus universitas swasta ternama di Kota Palembang normal-normal saja. Tak ada yang aneh, apalagi  mencurigakan di gedung rektorat berlantai dua yang berada di Jl Ahmad Yani, Seberang Ulu II.

Memang tidak ada hari apes atau hari sial, seperti mahfum diyakini sebagian orang. Tapi, ini diluar ekspektasi. Sebagai wartawan pemula tahun 1990-an, lagi semangat-semangatnya memburu (hunting) berita. Ada-ada saja tantangan dan hambatan. Mau tidak mau harus dihadapi. Selagi di jalan yang benar, apapun yang terjadi di depan, terjadilah.

Motor bebek yang setiap hari menemani hunting  telah diparkir di tempatnya. Sejenak berjalan menuju gedung rektorat. Perlengkapan untuk wawancara dengan rektor sudah disiapkan dalam tas kecil seperti blocknote dan tape recorder tanpa kamera.

Biasanya, reporter jarang dilengkapi kamera. Kala itu, media cetak seperti koran bila membutuhkan foto narasumber mengajak fotografer. Namun, fotografer yang hanya seorang saja, tidak semua hdapat mendampingi reporter di lapangan. Reporter biasanya selepas wawancara meminta foto-foto dokumen pribadi narasumber.

Di front office gedung rektorat hanya ada seorang bapak tua yang jaga. Kebetulan tidak ada staf lain di sana. Bapak tua tersebut menyuruh mengisi identitas di buku tamu. Setelah menyampaikan keperluan untuk bertemu rektor, saya naik ke lantai dua. Di ruangan depan ruang rektor, bertemu staf kesekretariatan rektor.

“Pak Rektor sedang keluar, barusan saja,” kata staf perempuan tersebut. Sebelumnya, sudah pernah sepakatan  dengan stafnya melalui (dulu pakai) telepon meja.

Tidak ada pesan dari rektor untuk tamunya. Tapi, stafnya meminta untuk rela menunggu sampai rektor kembali lagi. Tapi, itu tidak ada jaminan rektor kembali lebih cepat atau lebih lama. Untuk tidak berlama-lama di gedung itu, saya menyampaikan kepada stafnya, nanti saya kesini lagi.

Turun dari lantai dua, di depan tangga menuju luar gedung, saya diajak bapak tua tadi ke sebuah ruangan. Tidak jelas maksud dan tujuannya. Saya husnudzon saja. Barangkali ada tempat menunggu rektor yang nyaman, daripada pulang keluar kampus atau ke tempat lain.

Pintu ruangan dibuka bapak tua tadi. Di depan ruangan itu agak sepi. Tidak ada mahasiswa hilir mudik. Saya diajak masuk bapak itu. Di dalam ruangan, duduk seorang bapak berperawakan tegap, rambut cepak. Saya disuruh menemui bapak yang sedang duduk dekat meja kerjanya. Dalam ruangan memang sepi, tidak ada orang.

Belum salaman, bapak itu langsung marah-marah. Mukanya memerah. Sedangkan bapak tua penjaga kampus itu tadi sudah keluar ruangan. Pintunya ditutup.

“Kamu ini maunya apa?” bentak bapak yang tegap tersebut kepada saya sambil menunjuk-nunjuk muka saya.

“Memang ada apa, Pak?” tanya saya heran.

“Kamu hebat, kamu wartawan memang sudah hebat,” kata bapak itu.

Bapak tersebut langsung nyerocos kata-kata tak sedap didengar. Saya semakin bingung dan semakin heran, apa maksud bapak ini marah-marah kepada saya. Saya tidak ngeh. Belum saya ngomong, bapak itu langsung menimpali dengan kata-kata seperti kerasukan setan.

“Kamu tahu saya?” kata bapak itu. Memang saya tidak tahu dia.

Bapak itu mengeluarkan kartu tanda anggota ABRI. Saya sempat baca pangkatnya kapten. Namanya lupa. Sepertinya bapak itu pensiunan atau desersi, tidak jelas. Bapak itu langsung mengeluarkan pistol di hadapan saya.

Setelah dipegang dan diarahkan ke kepala saya, pistol tersebut digeletakkan di atas meja. Saya sedikit was-was menghadapi oknum tentra gilo ini. Yang saya khawatirkan, kalau terjadi apa-apa, di dalam ruangan itu tidak ada siapa-siapa, jadi tidak ada saksi.

Saya merasa tidak ada masalah di kampus itu. Selama jadi wartawan (pemula), boleh dibilang hanya beberapa kali ke kampus tersebut. Bisa dihitung dengan jari. Saya pikir tidak ada masalah dengan pemberitaan saya, lagi pula liputan bukan konfirmasi masalah atau kasus.

Selama kemarahan bapak separuh baya tersebut meluapkan kepada saya yang sudah terdesak, tidak ada pembelaan sama sekali dari saya, apa maksudnya. Yang saya pikirkan, bagaimana keluar ruangan. agar kondisi bisa normal di hadapan banyak orang.

Alhamdulillah, bapak tua penjaga resepsionis kampus tadi tiba-tiba membuka pintu dan masuk ruangan. Saat itulah, saya gercep menuju pintu dan keluar ruangan.  Maka, selamatlah saya dari amarah murka bapak oknum tentra gilo tersebut.

Setelah ditelusuri, ternyata bapak oknum tentra gilo tersebut salah orang. Wat-wat gawoh…. (Mursalin Yasland)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *