Banjir di Cisirung, Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, beberapa waktu lalu. (Ilustrasi Foto: Republika.co.id/Edi Yusuf) SumatraLink.id — Ketika kondisi senang dan lapang, banyak yang lupa siapa Penciptanya. Ketika sulit, susah, apalagi sedang ditimpa musibah, baru mau kembali kepada Yang Maha Kuasa, Allah SWT. Bukankah manusia itu tempatnya salah dan khilaf, hanya kepada-Nya kita kembali untuk bermohon dan meminta. Bencana alam akan selalu datang, silih berganti, tidak memilih dia seorang beriman atau kafir, kaya atau miskin, tua atau muda, laki-laki atau perempuan, besar ataupun kecil. Kalau Allah SWT sudah berkehendak (takdir), tidak ada yang dapat menghalangi, apalagi menentangnya. Manusia hanya menjalani hidup di dunia ini sesuai dengan kodratnya. Tujuan hadirnya manusia di muka bumi, semata-mata menghamba kepada Allah SWT, seperti dalam Alquran Surah Az-Dzariyat: 56, “Tidak aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” Hujan yang turun dengan curah tinggi dalam waktu yang lama sebagian orang mengeklaim menjadi penyebab terjadinya bencana di muka bumi. Dampaknya tanah longsor dan pemukiman penduduk banjir, harta benda terendam, kendaraan hanyut, bahkan dapat merenggut nyawa manusia. Padahal, ketika hujan turun seharusnya bersyukur, karena hal itu menunjukkan rahmat Allah SWT sedang turun ke bumi. Umat Muslim dituntut untuk berdoa. "Allahumma shoiban nafi'an, Ya Allah, turunkanlah hujan yang bermanfaat,"(HR. Bukhari). Sudahkah kita berdoa saat hujan turun? Jangan-jangan kita malah mencela ketika hujan turun, karena menghambat perjalanan, menunda pekerjaan, atau menimbulkan masalah-masalah dunia lainnya. Ingatkah? Salah satu doa mustajab tersebut, ketika hujan turun, semua doa kita dikabulkan Allah SWT. Baca juga: Banyak Masalah, Jangan Melupakan Doa Musibah alam seperti banjir, tanah longsor, gempa bumi, gunung meletus, apalagi gelombang tsunami, semua kehendak Allah SWT. Tak ada seorang manusia pun yang dapat memprediksi pasti musibah yang akan datang. Manusia hanya bisa memprediksi dan berusaha meskipun dengan teknologi, tapi ingat penentu akhir Yang Maha Kuasa. Teknologi yang dibangga-banggakan orang dapat ini dan itu, hanya sebagai alat bantu semata bukan penentu. Ketika kita kufur jelas ada dampaknya, ketika kita bersyukur pasti ada manfaatnya. Jangankan musibah besar yang dicontohkan tadi, ketika lembaran daun-daun dari ranting yang jatuh ke bumi pun tanpa terkecuali atas kehendak Sang Maha Pencipta. Ketika musibah datang menimpa kita, tidak sepantasnya menyalahkan alam apa yang disebut bencana alam, apalagi yang menciptakan alam tersebut. Kita lupa siapa yang menciptakan alam dan manusia dari tidak ada menjadi ada. Allah SWT menciptakan dan menjadikan sesuatu di bumi dan langit ini sesuai dengan kadarnya, tidak melebihinya atau menguranginya. Peredaran tata surya di langit sesuai dengan jalurnya, tanpa bertabrakan, tidak bergerak melenceng sedikitpun. Hal sama dengan diciptakannya manusia di bumi ini sudah sesuai dengan kehendaknya berpasang-pasangan sesuai dengan kodratnya. Baca juga: Menjadikan Ta'awwun Solusi Masalah Dunia Begitu juga ketika Allah SWT menurunkan hujan di bumi sesuai dengan kadarnya, tidak lebih dan tidak kurang. Penyebab banjir dan tanah longsor bukan karena hujan yang curah tinggi dan lama, akan tetapi karena ulah manusia yang serakah dengan mengubah ritme alam yang sedang dikelolanya. “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar),” (QS. Ar-Rum: 41). Kita lihat banyak hutan-hutan digunduli sehingga tidak dapat bervegetasi, satwa hutan diburu sehingga memutuskan jalur simbiosis mutualisme, buang sampah di saluran (kanal/kali) air sehingga sempitnya arus turun air , bibir pantai direklamasi dibuat perumahan, kantor, mal atau hotel sehingga hilangnya ruang gerak air. Daerah-daerah resapan air seperti rawa dan sawah disulap menjadi perkebunan besar atau pertambakan yang terbentang luas yang berdampak tangkapan air hilang. Semua atas keserakahan manusia mulai dari pucuk pimpinan hingga rakyat biasa, tanpa sedikitpun memedulikan dampak negatifnya. Baca juga: Bertanyalah Sebelum Tersesat Masihkah kita menyalahkan alam? Siapa yang patut disalahkan? Manusia salah bukan alam. Alam sudah banyak memberikan kehidupan manusia. Alam selalu bertasbih kepada Rabb-Nya. Tapi, manusia memang tamak dan serakah kepada alam. Ketika alam terganggu, pencipta alam menjadi murka. Allahu’alam bishawab. (Mursalin Yasland) Facebook WhatsApp Twitter Threads Navigasi pos Alquran, Manual Book Selamat Menuju Kampung Akhirat Belajar Berbagi ala Semut yang ‘Bertabrakan’