Nasi minyak atau nasi samin dan aneka lauknya khas orang Palembang. (Foto: SumatraLink.id/Mursalin Yasland) Sumatralink.id — Selain disajikan saat makan siang, nasi minyak atau nasi samin khas Kota Palembang dan daerah sekitarnya juga menjadi salah satu menu berbuka puasa Ramadhan. Nasi minyak ini disajikan dengan lauk ayam kecap, sate pentol, acar, dan sambal nanas mentah. Sejarah nasi minyak ini sudah ada sejak abad ke-17 masehi, yang pada waktu itu keluarga Sultan Palembang menyediakan kuliner ini saat pesta adat, acara pernikahan, dan juga hajatan keluarga. Nasi minyak menjadi menu terkenal di Kota Palembang dan daerah di Sumatra Selatan (Sumsel) lainnya. Nasi minyak ini diolah dengan minyak samin dicampur dengan racikan rempah-rempah seperti jinten, pala, bawang merah dan bawang putih, kunyit, dan susu cair. Penanakan nasi minyak yang sesungguhnya menggunakan api dari kayu bakar ditanak menggunakan wajan besar. Nasi ini ada yang berwarna kuning dan juga warna merah, bergantung dengan keinginan yang punya hajat. Biasanya, yang menanak nasi minyak ini orang khusus yang berpengalaman, tidak bisa sembarang orang. Rata-rata orang yang mengolah racikan nasi minyak orang-orang lama asli Palembang. Untuk menyantap nasi minyak tidak mudah sekarang. Warga asli apalagi pengunjung kesulitan mencari atau membeli nasi minyak di pasar kuliner. Pada saat Ramadhan, biasanya kuliner sajian takjil atau pasar beduk tersedia nasi minyak. Itu pun nasi minyak yang instan bukan buatan seperti zaman kesultanan Palembang dulu. Kalau sajian nasi minyak zaman dulu, cita rasanya berbeda dengan saat ini. Menurut Herlina (57 tahun), warga Palembang yang biasa membuat nasi minyak mengatakan, membuat nasi minyak harus menggunakan minyak samin. Minyak samin jarang dijual di pasaran. Sedangkan bumbu sudah jadi nasi minyak sudah ada yang jual. “Memang susah cari yang jual minyak samin yang khusus untuk buat nasi minyak. Tapi, sekarang sudah ada yang jual bumbu kari jadi,” kata Herlina, ibu dua anak ini, beberapa waktu lalu. Baca juga: Tekwan Palembang, Bukan Makanan Raja Setelah minyak samin tersedia, nasi dari beras lokal ditanak dengan minyak samin dicampur susu dan racikan rempah-rempah seperti jintan, kunyit, dan pala. Nasi minyak sudah ditanak, disajikan lauk pengiringnya seperti ayam kecap, sate pentol, sambel nanas, acar, dan juga kerupuk/kemplang. Riwayat kuliner nasi minyak atau nasi samin ini berasal dari akulturasi budaya orang pendatang di tanah sriwijaya dari orang melayu (Palembang), Arab (Timur Tengah), dan India. Akulturasi budaya berbagai negara ini membuat corak kehidupan orang Palembang khususnya menjadi beragam, termasuk pengaruh sajian kulinernya. Zaman kesultanan Palembang, memasak nasi minyak ini harus menggunakan kayu bakar yang diletakkan di sebuah tungku dengan wajan besar. Menanak nasi dengan kayu bakar memiliki aroma dan cita rasa berbeda dengan menanak menggunakan kompor minyak atau gas. Baca juga: Benjak Enjak, Kue Tradisional Lampung yang Mulai Luput Penanak nasi minyak mengaduk nasi yang ditanak dengan kayu khusus dan dilakukan setiap kali, tidak boleh berhenti lama. Hal ini selain untuk meratakan bumbunya juga menghindari nasi gosong di bagian bawah karena nyala api dari kayu bakar. Menanak nasi minyak untuk pesta pernikahan ini biasanya dilakukan beberapa orang bergantian mengaduk dan mengganti kayu bakarnya. Juru masak nasi minyak ini biasanya laki-laki, karena mengolah bahan-bahannya membutuhkan tenaga dan banyak orang, dalam waktu yang lama. (Mursalin Yasland) Facebook WhatsApp Twitter Threads Navigasi pos Nasi Minyak, Dulu Santapan Keluarga Sultan Palembang Menikmati Mudik Naik Kereta Ekonomi Rasa Eksekutif