SUMATRALINK.ID, LAMPUNG –- Setelah puluhan tahun ‘menikmati’ separuh malam lampu listrik, warga Pulau Sebesi bersyukur. Kehadiran listrik PLN nonstop (24 jam) beberapa tahun terakhir, membuat aktivitas melaut nelayan dan anak sekolah seperti “hidup” kembali, setelah “mati suri” sekian puluh tahun. Seorang warga Dusun Regahan Lada III, Yusuf, biasanya menjual ikan hasil tangkapan ikan nelayan di lingkungan warga dusunnya saja. Ikan-ikan laut itu tak bisa dibawa ke luar pulau. Tidak adanya es batu (pendingin), membuatnya menjual ikan dengan harga miring, agar habis terjual. Tidak ada jalan lain untuk menyimpan ikan hasil tangkapan nelayan kecuali ada mesin pendingin (kulkas atau freezer), atau es batu. Tapi, alat tersebut membutuhkan listrik penuh. Warga Pulau Sebesi, tak mungkin membeli es batu dari luar pulau yang jarak tempuhnya 2,5 jam menggunakan kapal motor. “Yang penting ikan terjual habis walaupun murah, karena tidak mungkin disimpan lagi,” kata Yusuf di Dusun Regahan Lada III Pulau Sebesi, Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, beberapa waktu lalu. Yusuf dan para nelayan di Pulau Sebesi sudah tidak pusing lagi bila hasil tangkapan ikannya di laut banyak. Sejak empat tahun terakhir, Pulau Sebesi yang dekat dengan Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda sudah dapat menikmati listrik 24 jam penuh. Nelayan mulai aktif melaut dengan perahu-perahunya. Hasil tangkapan ikan yang melimpah dapat disimpan di kulkas atau freezer atau juga dengan es batu buatan sendiri di rumah. “Sekarang warga Pulau Sebesi sudah banyak kemajuannya semenjak adanya (listrik) PLN 24 jam,” kata Rahmatullah, tokoh masyarakat Pulau Sebesi kepada Sumatralink.id, Kamis (16/10/2025). Nelayan di Pulau Sebesi tidak khawatir lagi melaut untuk menangkap ikan yang banyak dibawa pulang, karena tempat penyimpanan ikan sudah tersedia. Nelayan juga dapat menjual ikan hasil tangkapan kepada pihak kedua atau ketiga di luar pulau dengan harga bersaing. Selama ini, nelayan melaut hanya untuk memenuhi kebutuhan dapur rumah tangga masing-masing saja, bukan untuk dijual. Setelah ada kepastian listrik menyala 24 nelayan dapat menambah pendapatan keluarga dari menjual ikan kepada pihak lain. Dengan es batu buatan sendiri di rumah-rumah nelayan, hasil tangkapan ikan dapat dikemas dan dibawa untuk dijual ke luar pulau. “Alhamdulillah, banyak kemajuan,” kata Rahmatullah. Menurut dia, tidak saja berdampak pada nelayan dengan kehadiran listrik 24 jam nonstop ini. Listrik juga dapat digunakan anak-anak sekolah belajar dan guru-guru mengajar anak didiknya. Selama ini, alat peraga sekolah yang menggunakan daya listrik tidak dapat dimanfaatkan untuk belajar-mengajar, karena siang hari listrik padam. Dermaga kapal motor Desa Regahan Lada, Pulau Sebesi. (Foto: Sumatralink.id/Mursalin Yasland) Para guru yang memiliki laptop atau alat peraga elektronik lainnya di sekolah hanya tersimpan rapi di lemari atau rak. Aktivitas belajar-mengajar di sekolah berlangsung secara manual, tidak seperti anak sekolah di kota yang lancar menggunakan perangkat komunikasi berjaringan internet. Heri (43 tahun), guru honorer di SDN Desa Tejang Pulau Sebesi mengatakan, alat peraga mengajar seperti laptop, proyektor, televisi, radio dan lainnya selama ini tidak tersentuh sama sekali. Listrik yang tidak menyala sama sekali pada siang hari membuat aktivitas belajar-mengajar di sekolah (SD dan SMP) masih manual. “Sekarang sudah era teknologi, pelajaran sudah harus menggunakan alat elektronik dan internet,” kata Heri, yang sudah mengajar 10 tahun. Menurut dia, kehadiran listrik 24 jam di desa-desa terpencil dan di pulau-pulau terluar sangat dibutuhkan warga, tidak saja bagi aktivitas warga tapi juga proses belajar-mengajar di sekolah, untuk tetap berkompetisi dengan peserta didik lainnya. Seperti diketahui, warga Pulau Sebesi selama ini hanya mengandalkan satu PLTD dengan kapasitas terbatas yang ada di pulau tersebut, sangat bergantung dengan solar. Ketika terlambat mengambil stok BBM di Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan, pemukiman warga otomatis gelap gulita. PLTD tersebut hanya dapat melayani kebutuhan listrik warga di Pulau Sebesi dari pukul 18.00 hingga 22.00 WIB. Selebihnya, warga terpaksa menggunakan lampu darurat atau aki mobil, dan juga mesin generator hingga waktu Subuh. Warga setempat hanya menikmati jatah penerangan listrik setengah malam saja. Pasalnya, PLTD hanya mengkonsumsi jatah solar terbatas tidak sampai pagi atau siang hari. PLTD tersebut menghabiskan BBM solar 22 sampai 23 drum, satu drum berisi 22 liter solar. Kebutuhan 22 drum dari petang sampai tengah malam setidaknya 440 liter solar per bulan. Sedangkan per malamnya listrik menyala membutuhkan 15 liter solar. Waktu empat jam listrik menyala, hanya bisa dimanfaatkan warga untuk mengecas baterai telepon seluler, dan juga sebentar menonton televisi. Sedangkan untuk menyalakan kulkas tak bisa karena durasinya tidak cukup. Pulau Sebesi masuk Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung. Saat ini pulau tersebut dihuni sekira 700 kepala keluarga dengan total jiwa 3.000 lebih. Terdapat satu desa dengan empat dusun. Pulau ini dapat dicapai dari Dermaga Canti, Kalianda, menggunakan kapal motor menuju Dermaga Desa Tejang atau Dermaga Dusun Regahan Lada III. Durasi menggunakan kapal motor dua jam. Di Pulau Sebesi hanya terdapat sekolah negeri dan SMP swasta. Anak-anak warga pulau, setelah tamat dari SMP harus melanjutkan sekolah dengan berhijrah ke kabupaten, karena belum tersedia jenjang SMA. Kehadiran listrik 24 jam efektif sejak tahun 2020, membuat perekonomian di Pulau Sebesi mulai bergairah. Setelah banyak pemberitaan minimnya pasokan listrik di Pulau Sebesi, saat memperingati Hari Listrik Nasional ke-74, PLN Unit Induk Distribusi (UID) Lampung bersama PLN UP3 Tanjung Karang dan PLN ULP Kalianda memberikan harapan baru kepada warga Pulau Sebesi pada 1 November 2019. PLN UID Lampung menghadirkan PLTD Sebesi sebesar 3 × 100 killowatt (KW) dengan pengoperasian PLTD selama 24 jam. Hal tersebut masuk dalam program lanjutan sejak diresmikannya PLTD pada tahun 2017 lalu. Seremonial yang dilaksanakan pada 1 November 2019. (Mursalin Yasland) Facebook WhatsApp Twitter Threads Navigasi pos Pelanggan dan Pembaca Setia Kolom Hikmah Koran Republika Wafat Muhammadiyah Organisasi Keagamaan Terkaya Ke-4 di Dunia