Radio Cawang, radio legendaris di Indonesia. (Foto: Dok. Sumatralink.id)

SUMATRALINK.ID — Kehadiran radio menjadi dambaan masyarakat kala itu. Tapi, pada zaman baheula, radio masih langka dan mahal. Ketiadaan perangkat radio, informasi tak tersebar cepat dan luas di masyarakat pelosok dan pegunungan.

Pada zaman pra dan pascakemerdekaan, hanya kalangan tertentu yang memiliki radio dan televisi. Selebihnya, mereka memeroleh informasi dari mulut ke mulut atau dari koran atau selebaran, yang itupun frekwensi terbitnya tak menentu.

Kondisi ini membuat hati Thayeb Mohammad Gobel, bapak kandung Rachmat Gobel, tergerak. Ebu, panggilan kecil Thayeb, putra Gorontalo, kelahiran 12 September 1930,  terinspirasi dengan pidato Presiden Sukarno untuk mengisi kekosongan informasi di masyarakat.

Pada suatu acara, pidato Sukarno memberikan gambaran di dalam Indonesia yang sudah merdeka, jika ingin disebut negara maju, para petani pun jauh di pedesaan, di lembah-lembah pengunungan di seluruh Indonesia, ini harus menikmati adanya radio, lemari es, dan alat elektronik lainnya.

“Pidato Bung Karno ini mengusik pikiran Pak Gobel dan menjadi inspirasi baginya untuk mendirikan sendiri pabrik radio,” tulis Ramadhan KH dalam bukunya Gobel, Pelopor Industri Elektronik Indonesia dengan Falsafah Usaha Pohon Pisang, 1994.

Ebu masih seorang pemuda enerjik. Ia bekerja di perusahaan “Behring”. Untuk mewujudkan keinginannya mendirikan pabrik radio, ia kerja sampingan di pabrik radio dan mesin teknik milik nonpribumi PT Intan Indonesia. Pabrik itu merekrut pekerja mayoritas pemuda pribumi.

Ragam dan jenis radio Cawang. (Foto: Sumatralink.id/Mursalin Yasland)

Niat ini juga sudah Ebu sampaikan kepada empat kawan sejawatnya di Behring. Pembicaraan lia sekawan ini baik terpisah maupun saat berkumpul ternyata memiliki niat yang sama ingin mendirikan pabrik radio di Indonesia milik pribumi.

Kalau niat dan usaha sudah melebur, semua yang diinginkan besar kemungkinan terwujud. Ebu berhenti bekerjadi Behring dan PT Intan Indonesia. Hanya dua tahun iang bekerja di sana. Ia mencari peluang ingin mendirikan perusahaan sendiri.

Cikal bakal Gobel memiliki pabrik sendiri, tatkala ia diajak Mr Yong mendirikan perusahaan di bidang plastik. Berdirilah pabrik plastik PT Golden Star Plastik Co. Ltd. Gobel menjadi dirutnya.

Karir Gobel moncer di pabrik plastik tersebut. Ia terpilih menjadi ketua Persatuan Pengusaha Palstik se-Indonesia. Jejak langkahnya mulai terpatri, lewat beasiswa Colombo Plan, ia terpanggil untuk belajar dan menambah ilmu terkait plastik di Jepang (Tokyo).

Tak lama di pabrik plastik, hati kecil Gobel tetap terpanggil untuk mendirikan pabrik radio miliks sendiri. Niat lama belum terwujud, ia mengontak lagi empat kawannya ketika kerja di Behring. Semua sepakat, tapi masalah modal, menjadi faktor utama.

Sebelumnya, Gobel sudah mencari peluang untuk mendapatkan modal pinjaman dari pemerintah. Peluang ini ia rundingkan dengan keempat sahabatnya tadi. Gobel sudah mendapat kepercayaan dari pemerintah.

Hasil rundingan itu, mereka masing-masing mendapatkan saham pada perusahaan yang akan mereka dirikan. Keempat sahabatnya mendapatkan saham kosong, tidak perlu menyetor uang.

Dengan modal Rp30.000 dari kantong Gobel, berdirilah pabrik radio bernama PT Transistor Radio Mig. Co. Dari sini, mereka mendapat pinjaman modal dari Bank Industri Nasional sebesar Rp5 juta.

Modal uang pinjaman Rp5 juta, Gobel membeli tanah kosong di Cawang, Jakarta. Tanah seluas 2 hektare tersebut akan didirikan pabrik radio. Pabrik radio pun berdiri dan beroperasi, banyak sahabat dan kawan Gobel yang hijrah kerja ke pabriknya.

Pabrik radio transistor pertama di Indonesia berdiri di Cawang. Gobel bersyukur dan gembira, cita-cita mulianya dibantu empat sahabatnya terwujud. Perusahaannya memang masih bayi dan belum memiliki akte perusahaan

Cawang, nama produk radionya. Komponen radio transistor Cawang diperoleh dari Austria.  Masyarakat Indonesia dapat menikmati siaran berita dan hiburan di berbagai penjuru negeri. Radio Cawang dan variannya merek National ini menjadi terkenal dan legendaris di Tanah Air. (Mursalin Yasland)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *