Para pejuang keluarga mengadu nasib di tepian Sungai Musi, Palembang. (Foto-foto: Sumatralink.id/Mursalin Yasland)

SUMATRALINK.ID, PALEMBANG — Mentari beranjak naik, terpal kapal motor mulai tersingkap. Deru perahu getek mengiringi hempasan gelombang air, menambah kehangatan segelas kopi pagi dan pisang goreng di tepian Sungai Musi.

Para pejuang keluarga bersiap melebur tenaga dan keringat. Alas punggung dan handuk kecil telah melingkar di leher. Topi dan penutup muka sudah terpasang. Mereka bersigap tempur berkelindan nafas berat sepanjang hari.

Tak ada kata lelah, tak ada kata malas. Mereka bergelut alot dengan waktu dan cuaca. Mereka bergegas mencari cuan sebanyak-banyaknya di hari itu. Tak pulang sebelum mengantongi rezeki demi keluarga.

Selagi Sungai Musi belum surut, saat itulah rezeki mengalir ke kantong-kantong pejuang keluarga. Transportasi sungai masih menjadi andalan mereka. Kebutuhan rumah tangga tak dapat terhindari dari simbiosis mutualisme: penjual, pembeli, dan penikmat.

Tepian Musi bergantung dan berjabat erat dengan mereka. Roda ekonomi akan terseok dan lumpuh. Tirai-tirai  toko tertutup. Kapal-kapal motor pengangkut bahan pokok akan oleng, bila pejuang keluarga mogok.

Ada cerita tapi takbanyak asa. Komunitasnya tak berbalut badan hukum. Siapa peduli? Calon-calon penguasa negeri, hanya bertandang lima tahunan. Setelah itu, selamat tinggal kenangan. Tiada yang peduli.  Hanya kaos bercorak kusam dan robek melekat di badan.

Tetap saja, nasib mereka bergantung rupiah di saku celana masing-masing. Bantuan sosial yang menggelontor dari penguasa negeri terkadang tak sampai di dapur rumah, bahkan banyak yang salah menyeberang ke rumah sebelah.

Tatkala malam bergelantung cahaya bintang, mereka rebahan melepas perih. Bertafakur dan bersyukur. Nikmat hari itu boleh jadi dapat menyambung esok hari. Belum jelas nasib anak negeri ke depan.

Terngiang dalam benak mereka: Masih ada hari esok yang lebih baik, Nak…! (Mimpi pejuang keluarga) Semoga anak-cucu zuriatku tak mewarisi nasib peluh orangtuanya.

Seperti kata Virgoun, aku pernah bermimpi, indah hari tua bersamamu. Cantik indah rambut panjangmu meskipun nanti tak hitam lagi. (Mursalin Yasland)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *