SUMATRALINK.ID, PALANGKARAYA — Anok minggat. Ia bosan tinggal di kelas. Keramaian orang membuatnya kabur dari sekolah. Sri Rahayu, gurunya, sibuk. Ia berlarian sembari berteriak keras; memanggil-manggil si Anok. Anok tak peduli, ia tetap bertahan dan bertengger di ranting pepohonan yang tinggi. Kelakuan si Anok, membuat sejumlah pengunjung Yayasan Borneo Orangutan Survival (BOS) Nyaru Menteng, Palangkaraya, Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) terkesima. Semua mata pengunjung tertuju ke atas pohon: menyaksikan atraksi Anok, individu orangutan binaan, yang bergelantungan di pohon hutan pendidikan (Arboretum). Anok, orangutan betina usia delapan tahun salah satu dari 250 individu orangutan Kalimantan (termasuk empat bayi) ikut program reintroduksi BOS Nyaru Menteng (data Februari 2016). Ia sering bolos sekolah. Kelakuannya seusai sekolah sering memisahkan diri dari kawan lainnya. “Anok memang berbeda dengan yang lain. Seperti manusia, dia cewek ingin mendapat perhatian pengunjung,” kata Sri Rahayu (38 tahun), koordinator baby sitter orangutan di BOS Nyaru Menteng, beberapa waktu lalul. Yayasan BOS Nyaru Menteng memiliki area perhutanan pendidikan seluas 62 ribu hektare (ha), sedangkan kawasan pengelolaan orangutan (Central reintroduction) seluas 15 ribu ha. Untuk membina ratusan orangutan, BOS Nyaru Menteng memiliki 47 orang baby sitter, 57 orang teknisi, delapan dokter hewan, dan satu paramedis. Sri Rahayu, pengasuh orangutan di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. (Foto: Sumatralink.id/Mursalin Yasland) Sri Rahayu membawahi 47 orang baby sitter orangutan, semuanya perempuan rata-rata ibu rumah tangga. Babysitter bertugas dalam dua bagian waktu; mulai pukul 07.00 sampai 14.00 dan pukul 14.00 sampai malam. Tugas baby sitter selain mengasuh dan merawat orangutan, juga menjadi guru kelas sekolah orangutan pada pagi dan petang hari. Selama delapan tahun mengabdi di BOS Nyaru Menteng, Sri Rahayu merasa dekat dengan habitat orangutan. Awalnya bekerja, rasa takut kepada satwa liar tersebut sangat manusiawi. “Waktu baru kerja, rasa takut pasti ada karena yang dihadapi orangutan liar,” tutur ibu satu anak ini. Seiring waktu, ia mampu “menaklukkan’ karakter orangutan. Sri Rahayu menjadi terbiasa bergaul dan bercengkrama dengan orangutan, layaknya seperti manusia. Ia pernah tidak tidur hanya menemani bayi orangutan (usia 0-2 tahun) yang sedang sakit. Seperti manusia, bayi orangutan yang sakit tersebut digendong, dielus, dan disayang agar cepat pulih. Tiga hari tiga malam, Sri Rahayu tidak pulang ke rumah. Ia harus berada di ruang karantina isolasi orangutan yang sakit. Hima, nama orangutan yang sakit tersebut. “Saya pernah tidak tidur semalaman, hanya gara-gara bayi orangutan sakit demam. Saya kasihan kalau ada yang sakit,” ujarnya. Menurut Sri Rahayu, pada dasarnya sifat satwa sama dengan manusia. Mereka tidak mau disakiti dan tidak mau dicurangi. “Tapi memang sifat buas binatang masih melekat, jadi tetap waspada,” ucap istri Gunawan, pekerja harian lepas di Palangkaraya. Ia pernah dicakar orangutan di tangan dan kakinya. Ia tahu bahwa orangutan yang mencakarnya iseng, ingin mendapat perhatian dari baby sitter-nya. Keinginan marah, jelas ada pada Sri Rahayu. “Kalau marah jelas marah. Tapi, marahnya hanya menegur atau mencubitnya. Enaknya orangutan tahu kalau kita marah,” cerita ibu yang bergabung di BOS Nyaru Menteng sejak tahun 2001. Lantas soal kesehatan baby sitter yang “bergumul” dengan orangutan setiap hari, ia mengatakan setiap pulang kerja mendapat sterilisasi, semua atribusi selama bekerja yang melekat di tubuh tidak dibawa pulang. Pulang ke rumah, para baby sitter sudah steril. Setiap Desember atau Januari, baby sitter mendapat cek kesehatan utuh (general check up). Saat ini, Sri Rahayu harus memimpin 47 orang baby sitter. Masing-masing baby sitter bertugas ganda; baik sebagai pengasuh juga sekaligus sebagai guru kelas orangutan. Satu baby sitter bisa menangani delapan individu orangutan usia 0-3 tahun. Waktu belajar tidak sama dengan belajar anak sekolah manusia. Waktunya bergantung dengan kemauan dan selera orangutan, tapi tetap pagi hingga petang. Di sekolah orangutan ada sembilan kelas. Masing-masing kelas sesuai dengan tingkatan umur orangutan. Masa bayi orangutan 0-2 tahun, kelas 1 mulai usia tiga tahun. Mereka diajarkan memanjat pohon ketinggian dua meter. Naik kelas tinggi, diajarkan lagi memanjat pohon di atas dua meter. Hingga kelas 9, orangutan diajarkan memanjat pohon lebih dari 20 meter. Selain belajar memanjat, tugas baby sitter juga memberikan pelajaran mengenalkan jenis makanan dan memakan buah-buahan, bergaul, dan terakhir mencari makanan. Orangutan juga diajarkan menghadapi musuh alaminya seperti ular dan biawak. Selama masa karantina (identifikasi orangutan), baby sitter tak lupa memerhatikan kuku dan rambut orangutan, untuk dipotong kalau panjang. Sri Rahayu menyatakan kesulitan menghadapi orangutan saat belajar di kelas, yakni mengurusi pola makan orangutan. Orangutan dikenalkan jenis buah-buahan yang harus dikonsumsinya namun kemauannya berbeda. Tujuan dari sekolah, kata dia, agar saat dilepasliarkan orangutan dapat mandiri di hutan habitatnya. Anok, sudah di kelas 7. Menginjak usia 12 tahun, nantinya ia harus dilepasliarkan ke habitatnya. Sri Rahayu tak bisa menahan rasa harunya, saat orangutan binaannya harus ‘keluar’ dari karantina. Ibu-ibu yang berhati lembut setiap hari mengasuh orangutan, pun tak bisa menahan tetesan air matanya tatkala ada perpisahan orangutan dengan mereka. (Mursalin Yasland) Facebook WhatsApp Twitter Threads Navigasi pos Demi Hidup, Ibu Ini Rela Mengupas Kayu Gelam Mengenal Agoestjik Bakri, Pejuang Kemerdekaan Sumsel