SUMATRALINK.ID – Sepele tapi penting, kadang kala hal penting banyak yang menyepelekannya. Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta Fathul Wahid punya cara lain dalam mengelola dunia pendidikan di kampusnya agar bermartabat dan bermanfaat. Setelah viral dua tahun lalu, Fathul Wahid tidak mau mencantumkan gelar akademiknya, atau memanggilnya profesor kecuali dalam ijazah dan transkrip nilai, kali ini ia juga menolak menggunakan tanda tangan elektronik. Sewindu lamanya (2018-2022 dan 2022-2026) Fathul Wahid menandatangani ijazah, transkrip nilai, akte mengajar, sertifikat profesi, dan sertifikat cumlaude mahasiswa dengan tanda tangan basah (tinta). “Berarti pada selama delapan tahun, sudah sekitar 200.000 tanda tangan saya menempel di ijazah, transkrip, akte mengajar, sertifikat profesi, dan sertifikat cumlaude,” kata Fathul Wahid dalam akun medsosnya, Senin (27/4/2026). Sudah dua periode berjalan, ia memimpin UII Yogyakarta. Pada perhelatan Wisuda UII yang digelar Ahad (26/4/2026), menjadi ajang pamungkas baginya. Dan menjadi saksi kebahagiaan 43 ribu wisudawan. Sebentar lagi, rektor UII akan berganti dengan orang lain. “Wisuda UII pada Ahad, 26 April 2026, merupakan yang pamungkas bagi saya sebagai rektor. Insya Allah pada 1 Juni 2026, UII akan mempunyai nahkoda baru,” ujar lulusan doktor University of Agder, Norwegia ini dikenal pakar sistem dan teknologi informasi. Selama menjadi rektor, Fathul Wahid hanya dua kali absen secara fisik saat pelaksanaan wisuda umum. Hal tersebut terkendala dengan masa pandemi dan terpapar Covid-19. Berbicara tanda tangan basah, sebagian besar orang yang memegang jabatan/amanah tidak mau ambil pusing, atau tidak mau capek dan lelah. Mereka menggantikan tanda tangan basah (pena) dengan tanda tangan stempel atau barcode (elektronik). Ketika tanda tangan itulah, saya punya kesempatan melantunkan doa pengharapan baik kepada semua wisudawan- Fathul Wahid Hal itu memang praktis dan instan. Tapi, tidak dengan Fathul Wahid. Ia bercerita pernah ada tawaran menggunakan tanda tangan elektronik, sesuai dengan perkembangan zaman. Alasan tanda tangan elektronik, karena lembaran kertas yang mau ditandatangani semakin banyak, tebal, dan menumpuk. “Saya pernah diminta mengganti tanda tangan basah dengan elektronik. Saya menolak. Meski lelah, dapat menandatangani dokumen akademik satu per satu (tapi) merupakan sebuah kebahagiaan,” kata Fathul Wahid. Ada satu hal yang menjadi kebahagiaan seorang Fathul Wahid ketika menjabat rektor UII. Ia rela mengikhlaskan waktu sibuknya demi menandatangani langsung dengan penanya pada lembaran ijazah, transkrip nilai, dan dokumen penting lainnya. “Ketika tanda tangan itulah, saya punya kesempatan melantunkan doa pengharapan baik kepada semua wisudawan,” ujar Fathul Wahid. Bagi sebagian orang hal tersebut sepele dan menganggap tidak penting-penting amat. Tapi, bagi Rektor UII ini tanda tangan asli penting dan boleh jadi membahagiakan mahasiswanya bisa mengenang tanda tangannya langsung dari penanya plus doa kebaikan bagi mahasiswanya. Selipan doa sembari menandatangani ijazah atau transkrip nilai ratusan ribu mahasiswanya ini punya kebahagiaan sendiri bagi Fathul Wahid. Semoga untaian doa dari pemimpin tertinggi kampusnya terkabulkan. “Tetaplah menjadi orang baik, yang keberadaannya dicari, kehadirannya dinanti, kepergiannya dirindui, kebaikannya diteladani, dan kelak kematiannya ditangisi,” pesan Fathul Wahid ketika mengakhiri pidato wisudanya lalu. (Mursalin Yasland) Facebook WhatsApp Twitter Threads Navigasi pos Bangun Lubis, Dosen yang Tak Meninggalkan Dunia Wartawan