Mushab Al Quran. (Foto: Sumatralink.id/Mursalin Yasland)

SUMATRALINK.ID – Tak disangkal lagi mukjizat Al-Quran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Sholallahu’alaihi wassalam (SAW) telah terbukti sejak 14 abab lebih lalu sampai sekarang. Kehadiran Al-Quran di tengah kaum bangsa Arab jahiliyah menjadi pemantik untuk meluruskan kembali jalan kehidupan manusia seutuhnya.

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Aku tinggalkan untuk kalian dua hal yang selama ini kalian berpegang teguh kepada keduanya, maka kalian tidak akan pernah tersesat sepeninggalku; yakni Kitabullah (Al-Quran) dan Sunnah Rasul-Nya (Hadist),” (HR. Al-Hakim).

Sebelum Al-Quran turun kepada Rasul-Nya SAW, kehidupan bangsa Arab sudah tidak menentu keyakinannya, kejahiliyahannya, kemaksiatannya, dan kemungkarannya. Siapa yang kuat dia menang, siapa yang lemah dia akan tertindas, siapa yang kaya dia dihormati, siapa yang miskin akan tersingkir.

Dalam kurun waktu yang lama nabi dan rasul tidak turun setelah diutusnya Nabi Isa ‘Alaissalam, sehingga peradaban bangsa Arab kalau itu seakan kehilangan arah dan tujuan dalam kehidupannya. Manusia tidak lagi memiliki panutan, teladan, dan contoh untuk kehidupan yang diharapkan. Pegangan mereka masih mengagungkan dan mengunggulkan agama atau keyakinan nenek moyang mereka.

Paganisme merajalela di setiap peradaban manusia kalu itu, sehingga bila ada yang mengganggu tuhan-tuhan buatan mereka maka akan dibabat dan dibinasakan. Belum lagi, aneka kepercayaan dengan ritual yang jauh dari tauhid semakin dibela dan ditiru, dengan dalih agar selamat.

Kedudukan orang tua yang memiliki anak bayi perempuan seakan hina dan malu dalam kehidupan pergaulan, sehingga banyak bayi perempuan yang suci lahir ke dunia dibunuh dan dikubur. Kaum perempuan perannya semakin terpinggirakan, termasuk kaum perempuan yang sedang haid, seperti barang najis yang harus dijauhi.

Islam datang mereformasi semua itu. Islam mengubah cara pandang bangsa Arab jahiliyah menuju terang benderang. Malamnya dakwah Islam itu, bagaikan siang hari. Semua terang benderang dan tidak ada yang ditutup-tutupi dan disembunyikan melalui turunnya kalam Allah SWT: Al-Quran kepada Nabi Muhammad SAW.

Hikmah diturunkannya Al-Quran kepada Rasul SAW secara berangsur juga menjadi manfaat bagi kalangan bangsa Arab yang penuh dengan problematika hidup. Sehingga ayat per ayat Al-Quran dapat menuntaskan permasalahan umat kala itu, yang tidak mungkin dapat diselesaikan dengan secara langsung turun Al-Quran secara penuh dan utuh.

Banyak kalangan petinggi bangsa Arab kala itu, yang tadi gagah, berani, dan kasar, serta tidak ada lawan tanding, setelah Islam datang mampu meluluhkan hati yang keras seperti batu menjadi air yang bening putih seperti salju.

Kisah yang dikutip dari buku Ibadah Sepenuh Hati karya Amru Khalid (2006), ketika Umar bin Khotob Rodhiyallahuanhu sebelum masuk Islam, dikenal orang pemberani, jago gulat, dan siapa yang menentangnya maka pedangnya yang bergerak menebas leher lawannya.

Umar dikenal penyembah berhala berupa patung. Suatu hari, ia membuat patung dari roti dari gandum yang diadonnya sendiri. Setelah jadi, disembah. Namun suatu waktu ia lapar, tidak ada yang dimakan, ia mengambil patung dari roti tersebut lalu dimakan.

Berhala yang dijadikan tuhannya ia makan dan masuk ke dalam perutnya. Umar menyesal dan meminta maaf, karena tuhannya sudah menjadi penghuni perutnya yang lapar itu. Begini bangsa Arab kala itu yang tidak mengerti dengan konsep ketuhanan (ketauhidan) yang sebenarnya.

Melalui lantunan ayat-ayat Al-Quran dari saudaranya sendiri, Umar bin Khotob ra mulai tergugah. Relung-relung hatinya yang keras itu mulai meluluh dan melunak. Setelah mendengar dan meresapi arti dari kalam Allah SWT, sehingga ia tergerak ingin menemui Nabi Muhammad SAW yang menjadi musuhnya tersebut, untuk masuk Islam dan bersyahadat.

Dari jalan dakwah Nabi Saw beserta pada sahabat lainnya, kehadiran Al-Quran sebagai petunjuk dan pembeda yang hak dan batil membawa umat menuju kehidupan yang mulai dari era kegelapan menuju hidayah yang terang benderang.

Kemukjizatan Al-Quran tidak terkalahkan dan tersaingi oleh apapun dan siapa pun. Setelah Nabi Muhammad SAW meninggal dunia, jalan dan gerakan dakwah dilanjutkan para sahabat, tabi’in, tabiut tabi’in, dan ulama salaf yang menyebar ke seantero dunia, sehingga Islam berjaya menguasai sebagian dunia yang selama ini dikuasai hegemoni Persia dan Romawi. Allahua’lam bishawab. (Mursalin Yasland)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *