Rezeki sudah diatur. (Foto: Dok. Sumatralink.id)

SUMATRALINK.ID – Semua makhluk yang ada di bumi ini, Allah Subhanahuwata’ala (SWT) telah memberi rezekinya masing-masing sesuai kadar kebutuhannya hingga ajal menjemput. Terkadang jalan rezeki datang tidak disangka-sangka, asalkan sebagai muslim harus menyakini dengan ketentuan Allah SWT.

Sebagai umat yang beriman, tentu melihat datangnya rezeki tidak semata-mata datang begitu saja, dan hanya menunggu. Akan tetapi, mengharap kedatangan rezeki tetap terpaut dengan tali Allah SWT, dan menjauhkan diri dari godaan syaitan, hawa nafsu, dan juga pengaruh orang lain.

Syaikh Ibrahim bin Adham, seorang wali besar, ketika hendak mengarungi padang pasir, setan gencar mengganggu dan menggodanya.

“Ini padang pasir, engkau bisa masti karena tidak membawa bekal,” bisik setan.

Syaikh Ibrahim tidak gentar dengan godaan setan itu. Ia tetap kuat ingin bersafar di padang pasir tanpa ada bekan di tangan. Setan terus menggodanya. Tapi ia balas dengan shalat berkali-kali. Syaikh Ibrahim membuktikan godaan setan, dan berhasil mengarungi padang pasir selama 12 tahun.

Kisah Harun Al-Rasyid menunaikan ibadah haji dengan berjalan kaki. Ia bertemu dengan Syaikh Ibrahim bin Adham sedang mengitari padang pasir selama satu tahun.

Harun Al-Rasyid melihatnya Syaikh Ibrahim sedang shalat di bawah tiang penunjuk jalan. Harun mendekatinya dan menanyakan kabarnya.

“Bagaimana keadaan tuan saat ini?” tanya Harun Al-Rasyid seperti ditulis Imam Al-Ghazaly dalam bukunya Minhajul Abidin (1995)

Syaikh Ibrahim menjawabnya dengan syair.

“Secara terus menerus kita menambal dunia ini. Tetapi, selalu pula merobek-robek agama kita, akhirnya agama hancur, dan dunia pun tidak bisa lagi dibela.

“Beruntunglah orang yang memilih Allah sebagai Tuhannya, dan rela meninggalkan dunia demi mengharapkan dari Tuhannya.”

Harun Al-Rasyid terdiam atas jawaban Syaikh Ibrahim. Betapa tidak, makna syair Syaikh tersebut setidaknya banyak memuja-muja dunia, dan menyepelekan agama, sehingga agamanya berantakan, sehingga Allah SWT pun menjauh. Jawaban Syaikh Ibrahim yang penuh makna itu membuat Harun Al-Rasyid menangis tersedu-sedu.

Mengenai rezeki yang datang tak terduga berkat keyakinan seseorang kepada Allah SWT. Dalam riwayat lain, seorang sholih tengah berjalan di tengah padang pasir. Setan selau menggodanya.

“Di padang pasir ini tiada kesuburan dan orang lain. Engkau bisa mati di sini karena tidak membawa bekal,” godaan setan terkutuk.

Orang sholih tersebut tidak menghiraukan bujukan setan, tetap melanjutkan perjalanan lewat padang pasir yang tandus dan tanpa makanan sedikitpun. Ia juga tidak meminta makanan kepada orang lain.

“Aku tidak makan apa-apa, kecuali ada orang memasukkan ke mulutku samin dan madu,” kata orang sholih tersebut.

Sepanjang perjalanan, justru orang sholih tersebut tidak menempuh jalan yang biasa dilintasi orang, ia malah memilih jalan tersendiri tanpa ada orang lain.

Setelah lama berjalan di padang pasir, ia melihat ada kafilah berjalan di kejauhan, sepertinya ia tersesat. Orang sholih tersebut merebahkan tubuhnya di padang pasir agar tidak kelihatan kafilah tersebut.

Allah SWT mentakdirkan lain dengan keinginan orang sholih tersebut. Kafilah tadi mendekat orang sholih yang terbaring di pasir. “Aku memejamkan mata, tetapi ia mendekatiku, dan kafilah itu berkata:

‘Kasihan, rupanya orang ini putus di perjalanan dan ia pingsan karena kelaparan dan kehausan. Biar aku masukkan ke dalam mulutnya samin dan madu. Sebab, kalau makanan keras mungkin akan membahayakannya. Dengan madu dan samin mudah-mudahan ia siuman dari pingsannya.’”  

Orang sholih tersebut sengaja menutup rapat-rapat mulutnya, agar makanan itu tidak masuk mulutnya. Setelah beberapa kali dicoba untuk memasukkan makanan, ia terpaksa menggunakan pisau untuk membuka mulut orang sholih tersebut. Orang sholih tersebut tertawa….

“Gilakah engkau?” kata kafilah. Kafilah bercerita ia menemukan orang itu dalam kondisi pingsan dan tergeletak di pasir. Tapi, tiba-tiba engku tertawa.

“Tidak, aku tidak gila. Alhamdulillah…,” jawab orang sholih tadi. Sepintas ia ceritakan perjalanan safarnya mengitari padang pasir selalu digoda setan dengan ketakutan-ketakutan akan mati tidak memiliki bekal makanan dan minuman. Ternyata ada orang yang bertemu dengannya dan mendapatkan makanan dan minuman.

Dari dua kisah tersebut, jelaslah bila seseorang kuat bertawakkal kepada Allah SWT dalam kondisi apapun, ia akan tetap mendapatkan rezekinya dari jalan tidak disangka-sangka atau tidak terduga. Semua itu, semata-mata hanya Allah SWT yang mengatur rezeki makhluknya.

Allah SWT berfirman, “Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman,” (QS. Al-Maidah: 23).

Masalah rezeki, tentu harus yakin rezeki akan datang kepada kita sesuai dengan ketentuan Allah SWT. Kemudian, keterkaitan rezeki dengan ketakwaan dan ketawakkalan seseorang selalu bertalian.

Allah SWT berfirman, “Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga. Siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allah-lah yang menuntaskan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah membuat ketentuan bagi setiap sesuatu,” (QS. At-Talaq: 2-3).  

Selanjutnya, ketawakkalan ini dibarengi dengan ikhtiar yang sungguh-sungguh dan terus menerus dan menepis godaan setan dan orang lain yang menakut-nakuti atau mengancam sesuatu, padahal Allah SWT telah menjamin rezeki kita. Allahua’lam bishawab. (Mursalin Yasland)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *