Masjid Nabawi di Madinah. (Foto: Sumatralink.id/Mursalin Yasland)

SUMATRALINK.ID – Bekal takwa dan amal sholih membuat masalah di dunia ini menjadi mudah. Allah Subhanahuwata’ala (SWT) memberikan pertolongan kepada hamba-Nya yang berbuat kebaikan. Seperti kisah Nabi Muhammad Sholallahu’alaihi wassalam (SAW) tak jadi dipenggal seorang Arab Badui yang yang telah mencabut pedang Nabi SAW.

Dalam riwayatnya yang diceritakan Abdur Razzaq dari Jabir bin Abdullah, Rasulullah SAW pernah singgah di suatu tempat. Lalu, para sahabat berpencar mencari tempat dan pohon besar untuk berlindung dari terik matahari. Nabi SAW bernaungan di sebatang pohon dan menggantungkan sebilah pedang di ranting pohon.

Tiba-tiba, ada seorang Arab Badui, lalu mengambil dan mencabut pedang Nabi SAW yang tergantung di dahan pohon. Ia menuju ke arah Nabi SAW.

“Siapakah yang akan menghalangimu dariku (untuk membunuh Nabi SAW)?” tanya Arab Badui.

“Allah…,” jawab Nabi SAW singkat.

Mendengar jawaban singkat dan jelas tersebut, seorang Arab Badui melanjutkan lagi pertanyaan yang sama sampai tiga kali.

“Siapakah yang akan menghalangimu dariku?” tanya Arab Badui yang telah menghunuskan pedang ke arah Nabi SAW.

Tapi, Nabi SAW tetap teguh menjawab, “Allah…”, dan “Allah….”

Tak berapa lama, seorang Arab Badui tersebut memasukkan lagi pedang Nabi SAW ke dalam sarungnya. Lalu, Nabi SAW memanggi para sahabatnya yang bersafar bersama di beberapa tempat berlindung.

Nabi SAW menceritakan kejadian tersebut kepada beberapa sahabatnya, kalau ada seorang Arab Badui ingin memenggalnya. Sedangkan Arab Badui tersebut telah duduk di sisi Nabi SAW, tetapi beliau SAW tidak menghukumnya, sementara sahabat telah bersiap untuk menghukum seorang Arab Badui tersebut.

Dalam riwayat lain, seperti dinukil dari Tafsir Ibnu Katsir, Ma’mar berkata, Qatadah pernah menceritakan hal serupa. Menurut dia, ada suatu kaum dari bangsa Arab yang hendak membinasakan Rasulullah SAW. Kaum tersebut mengutus seorang Arab Badui untuk membunuh Nabi SAW.

Qatadah dalam menafsirkan Surah Al-Maaidah ayat 5 yang artinya, “Ingatlah kamu akan nikmat Allah (yang diberikan-Nya) kepadamu pada waktu suatu kaum bermaksud hendak menggerakkan tangannya kepadamu (untuk berbuat jahat).”

Ayat ini turun berkenaan dengan keadaan Bani Nadhir ketika mereka hendak menimpakan batu penggiling kepada Nabi SAW, saat beliau mendatangi mereka untuk minta tolong kepada mereka perihal tebusan kabilah ‘Amiriyiin.

Kemudian, mereka menugaskan ‘Amr bin Jahhsy bin Ka’ab untuk menanggapi masalah itu. Mereka memerintahkan untuk menimpakan batu besar kepada Nabi SAW dari atas, saat beliau duduk di bawah dinding. Kemudian, Allah SWT memperlihatkan kepada Nabi SAW rencana jahat mereka kepadanya. Maka, beliau SAW bersama sahabat kembali ke Madinah.

Dalam kondisi tersebut, turunlah ayat: “Dan hanya kepada Allah sajalah orang-orang mukmin itu haru bertawakkal,” (QS. Al-Maaidah: 11).

Artinya, siapa pun yang bertawakkal kepada Allah, maka Allah SWT akan mencukupi apa diinginkannya, dipelihara dan dijaga dari niat jahat manusia. Rasulullah SAW memerintahkan para sahabat menuju kaum tersebut, dan berhasil mengepung dan mengusir mereka. Allahua’lam bishawab. (Mursalin Yasland)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *