SUMATRALINK.ID – Nabi Muhammad Sholallahu’alaihi wassalam (SAW) menamakannya Amirul Ummah (pemimpin/kepercayaan umat Islam) dan juga disebut Amirul Umara (pemimpin para penguasa). Ia seorang Ahlul Badar yang dijamin masuk surga, namun tidak melupakan amanah umatnya. Abu Ubaidah Amir bin Abdullah bin Al-Jarrah, namanya. Pada Perang Badar, ia sangat pemberani melawan kaum musyrikin dan ia pun menjadi target utama musuhnya. Ada seorang musuh yang selalu mengincarnya, namun berhasil ditaklukannya layaknya singa lapar di padang pasir yang tandus. Ia juga yang menjadi tameng Nabi SAW pada Perang Uhud tatkala musuh (kaum musyrikin) beberapa kali menyerang Rasulullah SAW. Tebasan pedang musuh menembus topi baja Nabi SAW sehingga dua ring topi baja menusuk pipi Rasul SAW. Abu Ubaidah sigap mencabut dua ring topi baja yang menancap di pipi Nabi SAW, yang mengakibatkan dua gigi Abu Ubaidah copot (tanggal). Tapi Nabi SAW mengatakan, “Tidak seorang pun yang gigi depannya tanggal yang paling tampan selain Abu Ubaidah.” Tak diragukan lagi sikap tegas ketaatannya kepada Allah Subhanahuwata’ala (SWT) dan Rasul SAW. Hal ini membuat Khalifah Umar bin Khotob Rodhiyallahuanhu (RA) sampai mengatakan sosok dan wala (loyalitas) Abu Ubaidah yang agung. “Seandainya Abu Ubaidah hidup niscaya aku menunjuknya sebagai (khalifah) penggantiku,” seperti dikutip buku Sahabat-sahabat Rasululah SAW karya Syaikh Mahmud Al Mishri (II/2010). Ada kisah menarik yang membuat Khalifah Umar yang tegas sempat tertegun dan meneteskan air mata. Suatu hari, Umar mengirim 4.000 dirham dan 400 dinar dari Madinah kepada Abu Ubaidah, yang saat itu memimpin pasukan di Negeri Syam, tanah Baitul Maqdis. Abu Ubaidah membagi-bagikan kepada umat seluruhnya tanpa tersisa. Ketika Umar ke Negeri Syam, para panglima pasukan dan petinggi Syam menyambutnya. Umar bertanya, “Dimana saudaraku?” Mereka menjawab, “Siapa saudaramu wahai Amirul Mukminin?” Umar menjawab, “Abu Ubadiah…” Mereka mengatakan, “Sedang menuju kemari.” Tak lama, Abu Ubaidah datang dengan seekor untanya. Ia memberi salam kepada Umar, khalifah kedua setelah Abu Bakar Ashidiq. “Tinggalkan kami berdua…?” kata Umar kepada hadirin. “Bawalah aku ke rumahmu!” ujar Umar kepada Abu Ubaidah. “Apa yang engkau lakukan di rumahku wahai Amirul Mukminin. Engkau hanya ingin memeras air matamu karena aku,” tanya Abu Ubaidah. Umar berjalan menuju rumah Abu Ubaidah. Masuklah Umar ke dalam rumahnya. Padahal Abu Ubaidah telah menahannya. Menakjubkan, Umar tidak melihat apa pun perabotan di dalam rumah Abu Ubaidah, selain pedang dan tameng besi. “Mana barang-barangmu? Aku hanya melihat tikar, nampan, dan kantong air yang usang, padahal engkau adalah panglima. Apakah engkau mempunyai makanan?” tanya Umar lagi. Abu Ubaidah menuju keranjang kecil dan mengeluarkan beberapa potong roti yang masih tersisa. Lalu, Umar tersendak, tertegun, dan menangis tersedu-sedu. “Aku sudah katakan kepadamu wahai Amirul Mukminin, engkau akan memeras air matamu karena melihat (kondisi)-ku. Cukup bagi kami bekal yang menyampaikan ke tujuan,” kata Abu Ubaidah. “Seandainya engkau mempunyai perabotan (sesuatu) rumah tangga…? Dunia telah mengubah kami semua selain engkau, wahai Abu Ubaidah,” kata Khalifah Umar sembari meneteskan air mata. Ternyata, kegelimangan dunia tak mampu menyentuh hati Abu Ubaidah. Padahal ia seorang panglima pasukan dan khalifah umat pada waktu itu. Jasad Abu Ubaidah hidup bersama dunia tetapi arwahnya berada di surga Allah SWT. Ia teladan umat terutama para pemimpin dunia. Allahua’lam bishawab. (Mursalin Yasland) Facebook WhatsApp Twitter Threads Navigasi pos Artis Lawas Andy Achmad Berburu Keris Sejak Tahun 1970 Kisah Nabi Muhammad SAW Tak Jadi Dipenggal Arab Badui