SUMATRALINK.ID – Tak ada yang abadi (kekal) di dunia ini, kecuali keabadian itu sendiri. Manusia, terkadang sehat terkadang juga sakit. Ketika sehat tak lupa bersyukur, dan ketika sakit tak lupa pula bersabar. Dari Abu Hurairah Rodhiyallahuanhu (RA) berkata, Nabi Muhammad Sholallahu’alaihi wassalam (SAW) bersabda, “Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit, melainkan Allah juga menurunkan obatnya,” (HR. Bukhari, no. 5354). Dari Jabir bin Abdillah ra berkata, Rasulullah SAW bersabda; “Setiap penyakit ada obatnya. Apabila obat tersebut sesuai dengan penyakitnya, maka ia akan sembuh dengan izin Allah,” (HR. Muslim, no. 2204). Dari Usamah bin Syarik dalam Musnad Imam Ahmad, Nabi SAW bersabda; “Sesungguhnya Allah tidak menurunkan suatu penyakit, melainkan Allah juga menurunkan obatnya. Ini diketahui oleh sebagian orang dan tidak diketahui oleh yang lain,” (HR. Ahmad, 4:278). Dalil-dalil tersebut sangat jelas, setiap penyakit ada obatnya. Bagi penderita kanker tidak perlu khawatir. Tinggal lagi, obat semacam apa yang cocok sebagai penawar penyakit tersebut. Kanker adalah penyakit akibat pertumbuhan sel yang tumbuh tidak normal dan tidak terkendali di dalam tubuh. Pertumbuhan sel abnormal ini dapat merusak sel normal di sekitarnya dan di bagian tubuh yang lain. Berikut kisah unik tapi nyata seorang pengidap kanker yang sembuh. “Ini pengalaman saya sendiri, sembuh dari kanker dengan singkong (ubi kayu). Semoga pengalaman ini bermanfaat untuk banyak orang,” tulis Cynthia Jayasuriya seperti dikutip Ibnu Basyar dalam bukunya Mengisi Hati di Lorong Kehidupan (2), 2016. Saya mengidap kanker kandung kemih stadium 2. Setelah mengidap kanker di urethra. Ginjal, urethra, dan sebagian dari kandung kemih sudah diangkat. Setelah itu, saya menjalani radiasi di bagian perut. Saya merasa sehat selama tujuh tahun. Saya menjalani pemeriksaan rutin setiap tahun. Pada tahun ketujuh itu ada darah dalam urine saya, yang ternyata disebabkan oleh berkembangnya lagi sel kanker di kandung kemih. Kanker baru itu pun diangkat lagi. Namun, bagaimana kalau kanker itu berkembang lagi? Tanpa Kemoterapi Dari internet, saya menemukan informasi tentang penggunaan biji aprikot untuk pengobatan kanker di Australia dan Amerika Serikat TANPA KEMOTERAPI. Seorang dokter dari Inggris yang bertugas di sebuah tempat terpencil di Afganistan menemukan kandungan vitamin B17 dalam biji aprikot. Di Afganistan, kekayaan seseorang diukur dari jumlah pohon aprikot yang dimilikinya. Mereka tidak hanya makan buah aprikot, tetapi juga bijinya. Biji aprikot memiliki bentuk almond dan rasanya pahit. Orang-orang dari wilayah ini tidak ada yang menderita kanker. Setelah diteliti, biji aprikot mengandung vitamin B17. Saat sedang dirawat karena kanker, saya ingin tahu jenis makanan rutin kami yang mengandung vitamin B17. Ternyata, vitamin B17 ada dalam SINGKONG. Jadi, saya makan singkong 10 gram tiga kali sehari. Kandung Kemih Bersih dan Normal Setelah saya mengkonsumsi singkong selama satu bulan, saya melakukan pemeriksaan kandungan kemih yang dilakukan oleh dokter yang menangani kanker saya. Ia terkejut karena kandung kemih saya benar-benar bersih dan normal. Selama makan singkong, saya merasa sangat fit dan orang lain pun melihat saya sehat. Setelah itu, setiap tiga bulan saya periksa dan hasilnya tetap bersih. Sejak itu, saya hanya makan singkong dan tidak menjalani pengobatan lain. Secara sederhana, cara kerja singkong sebagai berikut: Nama ilmiah vitamin B17 adalah Amyangdaline. Sel kanker adalah sel yang belum matang dan memiliki enzim yang berbeda dengan enzim normal. Ketika vitamin B17 digabungkan dengan enzim sel normal, B17 akan terurai menjadi 3 jenis gula. Akan tetapi, ketika tergabung dengan enzim sel kanker, B17 terurai menjadi 1 gula, 1 benzaldehida, dan 1 asam hidrosianik. Asam hidrosianik inilah yang MEMBUNUH sel kanker secara lokal. Biji aprikot dan singkong sama-sama mengandung vitamin B17. Setelah saya menulis artikel sebelumnya pada tahun 2010, saya menerima beberapa informasi dari pasien kanker yang juga mengkonsumsi singkong. Sebulan Makan Singkong Mr. Pereira, laki-laki berusia 70 tahun terdiagnosis mengidap kanker prostat. Istrinya yang seorang pensiunan di rumah sakit kebetulan membaca artikel saya. Mereka tidak punya dana untuk biaya pengobatan kanker dan suntikan yang diberikan medis kepadanya, membuat Mr. Pereira sangat lemah. Istrinya memberikan singkong kepada suaminya Mr. Pereira. Setelah mengkonsumsi singkong selama sepekan, kondisinya mulai membaik. Setelah sebulan makan singkong setiap pagi, ia menjalani pemeriksaan. Sejak terdiagnosis kanker hasil test PSA-nya 280-290, tetapi setelah sebulan PSA-nya menjadi 5,89. Mereka mengunjungi saya untuk memperlihatkan hasil tes sebelum dan sesudah mengkonsumsi singkong. Mr. Pereira sudah tidak merasakan lagi gejala kanker. Tak Perlu Operasi Lagi Kisah lain, ada seorang lelaki yang mengidap kanker hati dan sudah menjalani operasi. Namun, dari hasil MRI scan berikutnya ternyata masih ada sel kanker yang belum terangkat. Setelah operasi, ia mulai makan singkong. Sebulan setelah makan singkong, dokter mengatakan, tidak perlu dilakukan operasi lagi karena dari MRI scan sel kanker itu tidak membesar. “Jadi, kenapa tidak mencoba makan singkong? Singkong murah, mudah didapat, dan mudah dimasak, dan rasanya juga enak,” kata Cynthia Jayasuriya. Caranya sangat mudah, yakni: (1) Pilih singkong yang segar dan ada noda biru. (2) Rebus dan jangan tutup panci selama memasak. Ini akan membantu menguapkan kelebihan asam hidrosianik. (3) Jangan mengkonsumsi makanan dan minimun yang mengandung jahe/ginger, seperti biskuit jahe sedikitnya 8 jam setelah mengkonsumsi singkong. Bagi seorang Muslim, selalu berusaha menjadi lebih baik lagi. Tidak ada kata menyerah dalam menjajaki hidup ini. Terkadang onak dan duri menghambat perjalanan kita. Takdir yang Allah SWT berikan, agar makhluk-Nya senantiasa mengambil hikmahnya. Allahua’lam bishawab. (Mursalin Yasland) Facebook WhatsApp Twitter Threads Navigasi pos Seperiuk Daging dan Roti Tak Habis Disantap Ribuan Orang