SUMATRALINK.ID – Menunaikan rukun Islam kelima, menjadi dambaan setiap Muslim. Salah satunya Jumaria, nenek berusia 70 tahun asal Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, ini Allah Subhanahuwata’ala (SWT) mampukan ia berangkat haji tahun ini (1447 H/2026 M). Sehari-hari, nenek ini sebagai buruh lepas di sawah dan ladang/kebun milik orang lain. Ia hanya mengambil upah untuk membersihkan dan merawat kebun dan sawah. Pekerjaan kasar ini ia jalani dengan ikhlas demi niatnya berangkat haji. Ia menerima upah dari majikannya Rp 200 ribu sebulan, tak tentu. Terkadang tiga bulan baru mendapat Rp 200 ribu. Eloknya, nenek ini tidak mengeluh seberapa pun upah yang ia terima per bulan. Baca juga: Sedekah di Tanah Suci, Dibalas di Tanah Air Setiap kali menerima jasa, separuh dari upahnya ia tabung khusus untuk berangkat haji. Nenek ini memiliki kebiasaan menabung dalam sebuah ember. Sekira ia menerima upah 100 ribu, separuhnya Rp 50 ribu ia masukkan dalam ember. Kadang kalau tidak ada uang untuk membeli lauk makan, nenek ini sebisa mungkin mencari lauk makan sehari-hari seadanya. “Ambil daun ubi, rebus, dan makan. Asal tidak tarik uang tabungan,” kata Jumaria seperti dilansir IG @kemenhaj.ri, Senin (18/5/2026). Niat Jumaria untuk berangkat haji sudah tertanam sejak awal. Dari tabungan dalam ember puluhan tahun, tersedia uang yang mencukup mendaftar haji dan mendapatkan porsi haji. Ia mendaftar haji di sebuah bank resmi dengan setoran awal Rp 25 juta pada tahun 2011. Jumaria mendapat porsi berangkat haji 15 tahun kemudian. Sembari menunggu berangkat yang masih lama, ia tak lelah menyisihkan hasil kerjanya menabung dalam ember. Menunaikan ibadah haji, bagi Jumaria hal yang istimewa. Ia orang yang tidak berpunya, dan secara logika sulit untuk memenuhi kebutuhan haji secara finasial. Tapi, ia masih yakin dengan kekuasaan Allah SWT. Baca juga: Berkah Air Zam Zam Jantungku Normal Lagi “(Berangkat haji) Biaya sendiri, kalau saya dapat uang sedikit saya simpan, saya kerja di sawah punya orang,” tutur Jumaria. Saat wawancara dengan petugas haji, Jumaria menuturkan tidak ada waktu luang baginya kecuali bekerja dan menabung. “Seadainya saya tidak di sini (berhaji), saya (sudah) kerja (di ladang),” ujar Jumaria. Ternyata berhaji, bukan soal kaya atau miskin. Tapi niat yang ikhlas. Allah SWT bukan memanggil orang yang mampu, tapi Allah SWT memampukan orang yang dipanggil. Semoga mabrur dan mabruroh jamaah haji! (Mursalin Yasland) Facebook WhatsApp Twitter Threads Navigasi pos Sedekah di Tanah Suci, Dibalas di Tanah Air