Kakbah di Masjidil Haram.Kakbah di Masjidil Haram. (Foto: Sumatralink.id/Mursalin Yasland)

SUMATRALINK.ID – Oleh Totok Edhy, jamaah haji asal Jakarta

Ketika itu, aku ingin sekali mencium Hajar Aswad. Akan tetapi sulit untuk menembus kerumunan “raksasa” manusia. Kumpulan jamaah haji memadati wilayah sekitar Kakbah.

Keinginan yang menggebu-gebu itu, di tengah-tengah orang yang berdesakan menunaikan ibadah haji, tiba-tiba datang seorang pemuda. Ia tampan sekali, tubuhnya tegap, berkopiah, dan berpakaian ihram.

Pemuda tampan itu mengucapkan salam dengan sopan.

“Assalamu’alaikum?” sapanya.

“Wa’alaykumussalam,” jawabku sedikit terpesona melihat ketampanannya.

“Bapak mau mencium hajar aswad?” tanya pemuda tadi.

“Ya,” jawabku lagi.

Dalam hatiku bertanyat-tanya, mengapa ia tahu maksud hati ingin mencium hajar aswad. Dan bagaimana juga ia tahu kalau aku belum dan sangat ingin mencium hajar aswad?

“Mari ikut saya,” pemuda itu mengajakku.

Tanpa sempat berkata-kata lagi, aku melihat pemuda tampan tersebut berdoa sebentar.

Sempat aku sadar, tempat minum dan semprotan airnya hilang. Padahal, dua barang itu sangat penting bagiku.

Aku mengikuti langkah pemuda tersebut menuju area hajar aswad. Aku heran dan merasa aneh, kalau dipikir akal sehat.

Ratusan orang tinggi besar, seakan-akan dan seolah-olah minggir memberikan jalan kepada pemuda tampan itu, sehingga mudah bagiku menuju hajar aswad.

“Silahkan, Pak!” kata pemuda itu ketika tiba di depan hajar aswad.

Aku menangis. Air mataku tak tertahan meleleh. Karena terharu, dan merasa kecil di hadapan Allah SWT. Entahlah, tak terlukiskan lagi perasaan kala itu.

“Sudah cukup Pak,” kata pemuda tadi segera mengingatkan.

“Terima kasih, Pak,” timpalku.

“Oh, ya. Bapak siapa?” tanyaku penasaran. Aku memanggilnya bapak karena menghormati, walaupun usia terpaut jauh dariku.

“Bapak kehilangan apa?” tanya pemuda tersebut mengalihkan pertanyaanku sebelumnya.

“Tempat minum dan semprotan saya hilang,” kataku.

Saat itu, tiba-tiba pemuda tampan tersebut menghilang di kerumunan banyak jamaah haji. Aku mencari-cari lagi pemuda tampan tadi. Tapi, ia hilang ditelan kerumunan jamaah haji.

Tak disangkal, saat melihat Kakbah, terdapat tempat minum dan semprotan miliku yang hilang berada di tembok Kakbah. Ini sangat menakjubkan.

“Siapa yang meletakkannya di sini?” tanyaku dalam hati merasa heran.

“Ya… Allah, yang mengatur langkahku hingga kemari, dan menunjukkan tempat ini,” doaku sambil bersujud syukur di tempat itu.

Sampai saat ini, aku masih bertanya-tanya, siapa pemuda tampan tersebut, yang selalu menyembunyikan identitasnya? Wallahua’lam bishawab. (Disarikan dari buku E. Kosasih: 100 Keajaiban di Tanah Suci)

Editor: Mursalin Yasland

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *