Pedagang Kaki Lima.Ilustrasi: Pedagang K-5. (Foto: AI/Sumatralink.id)

SUMATRALINK.ID – Oleh A Husein *)

Saya pernah ditanya kawan, “Berapa kaki kuda picak?” Ketika saya jawab, “Empat,” dia bilang, “Dua belas.” Kok bisa? Tentu bisa sebab yang dia maksud dengan picak adalah ‘Sali dan cecak’.

Jelas, teman saya bercanda. Karena itu, alih-alih kesal, saya malah geli dibuatnya.

Sebaliknya, nada berang karena merasa dianggap bodoh terasa pada surat Mattew Moore bertanggal 16 Mei (2004) di Kompas saat menanggapi tulisan R William Liddle tentang kaki lima di rubrik ini 24 Apri (2004) lalu.

Dengan menyebut guru bahasa Indonesia, teman, dan asistennya sebagai rujukan, Moore yakin sudah bertindak benar menelusuri makna kaki lima. Sayangnya, ia kurang menyadari bahwa sang guru, teman, asisten, dan sejumlah pedagang K-5 belum tentu merupakan narasumber yang tepat untuk menjelaskan asal-usul sebuah istilah.

Saya hampir 20 tahun tinggal di Pondok Pinang, Jakarta Selatan. Ada beberapa orang tua yang saya tanya mengenai muasal nama Pondok Pinang. Jawaban mereka berbeda-besa. Tak satu pun yang menyakinkan. Lain hal bila yang ditanya nama Pondok Indah, “dusun” mewah tetangga Pondo Pinang.

Dengan membandingkan keduanya saja, akan mudah mengetahui nama Pondok Indah yang berusia baru 20-an tahun itu diilhami dari nama Pondok Pinang. Tentu tanpa maksud mengejek bahwa pondok-pondok ‘gubuk, rumah’ di Pondok Pinang tak ada yang indah.

Di Pondok Pinang juga ada tempat bernama Karet. Kebetulan saya tahu kawasan itu dulu kebun karet. Kondektur metromini dan sopir Mikrolet biasa meneriakkan “Karet! Karet1” tanpa tahu asal usul nama itu. Sekali peristiwa seorang kondektur kebingunan ketika saya minta diturunkan di Karet. Ia bilang, “Karet itu di mana, Pak?” Maklum, di situ sudah berdiri masjid besar bernama Ni’matul Ittihad. Belakangan sebagian kondektur mulai meneriakkan “Masjid! Masjid!” Padahal, bagi orang-orang Pondok Pinang, “masjid” adalah sebutan untuk sebuah gang yang di dalamnya terdapat masjid lain: Darus Salam.

Ihwal pedagang kaki lima, guru SD saya dulu bilang istilah itu lahir dari salah kaprah orang Indonesia. Aslinya, katanya tanpa menyebut Raffles, dari bahasa Inggris: five foot. Itu satuan panjang sekitar 60 inci. Yang dimaksud adalah lebar trotoar. Namun, kenapa lima kaki itu menjadi kaki lima? Guru saya tidak menjelaskan.

Ketika membuka Kamus Umum Bahasa Indonesia susunan WJS Poerwadarminta (1976), saya dapati dua makna istilah itu: ‘lantai (tangga) di muka pintu atau di tepi jalan’ dan ‘lantai diberi beratap sebagai penghubung rumah dengan rumah’. Saya menghormati Poerwadarminta sebagai salah satu perintis perkamusan di Indonesia. Karena itu, saya percaya kepadanya.

Sebutan kaki lima yang oleh Moore dihubungkan dengan para pedagang yang menggunakan gerobak dorong beroda dua dan berpenopang di depan agak keliru. Banyak teman saya yang berjualan koran, gorengan, pakaian, rokok, dan lain-lain di trotoar. Mereka disebut pedagang kaki lima padahal ada yang hanya menggelar tikar, mengginakan pikulan, atau tumpukan papan.

Ada pula yang menanti pembeli di kios berkaki empat dengan dua roda. Bila penunggu kios dua orang, jumlah kaki beserta roda jadi sepuluh. Kalau begitu, apakah kedua orang itu disebut pedagang kaki sepuluh?

Pengusutan sejarah dan makna suatu istilah dengan bertanya kepada para penggunanya, yang merupakan generasi keberapa dan tidak hirau dengan etimologi, tidak bisa membuahkan jawaban akurat. Lain soal bila ada dokumen yang bisa diperiksa. Apalagi kalau narasumber terbatas di suatu tempat.

Di Medan dan sekitaranya, misalnya, istilah kaki lima amat populer untuk trotoar atau sidewalk seperti yang dikatakan Liddle. Di kota lain nama buat tempat selebar lima kaki itu emperan toko.

Moore sebenarnya sudah mencoba bertanya kepada beberapa pengguna praktis istilah kaki lima itu. Hanya saja, isi tanyaannya belum jelas, apakah berbunyi apa sih kaki lima itu atau mengapa pedangang dengan gerobak disebut kaki lima? Yang terang, definisi Moore tentang kaki lima, seperti yang dibabarkan Liddle, sangat mengada-ada.

*) Penulis, penduduk Pondok Pinang, Jakarta

Tulisan ini dikutip utuh dari koran Kompas, edisi Sabtu, 29 Mei 2004.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *