Gubuk Seng Pulau Sebesi.Gubuk Seng, Pulau Sebesi Lampung. (Foto: Sumatralink.id/Mursalin Yasland)

GEMURUH ombak menghempas batu karang memecah sunyi dan senyap di perairan Selat Sunda. Beragam suara burung beterbangan menerjang angin laut menambah nikmat saat memandang Gunung Anak Krakatau (GAK) dari Gubuk Seng.

Gubuk Seng, begitu penduduk Pulau Sebesi menyebutnya. Pulau di Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung tersebut yang bagian selatannya berjarak  hanya kisaran 10-15 km dari GAK.

Perbukitan Pulau Sebesi yang menghadap GAK menjadi satu-satunya lokasi strategis memanjakan mata menikmati keindahan alam ciptaan Allah Subhanahuwata’ala. Selain Sebesi, terdapat dua pulau (Sertung dan Panjang) terdekat GAK, namun tanpa penghuni.

Selain memantau dari bukit, siapa pun bisa juga melihat anak gunung berapi purba Krakatau di bawah bukit Gubuk Seng. Pantai berisi hamparan batu cadas – yang menjorok hampir ke tengah laut — menjadi pijakan utama untuk melihat langsung aktivitas GAK.

Bila niatan turun dari Gubuk Seng mengitari hamparan batu cadas hanya untuk melihat GAK dari dekat, ada baiknya nasihat penduduk setempat menjadi perhatian semua pihak. Tapi, dilalahnya, masih banyak yang berkunjung ke Gubuk Seng termasuk wisatawan lokal dan mancanegara abai dengan keselamatan jiwa. Warga bilang banyak “orang luar” hilang tanpa jejak digulung ombak.

Biasanya, wisawatan mancanegara berlayar menggunakan kapal motor sewaan mengitari Pulau Sebesi menuju kawasan Gubuk Seng. Lokasi tersebut memang sangat eksotis bagi mereka, selain alamnya masih original juga kawasan tersebut sangat menantang para petualang.

Pemerintah melarang siapa pun baik nelayan maupun wisatawan mendekat GAK, apalagi menginjakkan kaki di gunung. Larangan mendekat radius 3-5 km ini berkaitan dengan GAK sering terjadi erupsi, mengeluarkan lava pijar merah dan debu abu vulkanis yang membahayakan kesehatan.

Wisatawan asing sering bersandar di bibir pantai sekitar Pulau Sebesi. Mereka sengaja ingin melihat Gunung Anak Krakatau dari dekat. Tapi, masalahnya, siapa yang bisa memantau mereka selamat atau tidak, karena lokasi tersebut sepi senyap.

***

Gunung Krakatau (gunung berapi purba) yang meletus pada Agustus 1883, dalam rentang waktu kaldera vulkanisnya telah bermetamorfosis menjadi GAK sampai sekarang. GAK termasuk gunung berapi yang masih aktif vulkanisnya dalam waktu tertentu.

Pada Ahad (22/9/2024), GAK terakhir erupsi mengeluarkan kolom abu dari puncaknya setinggi 1.000 meter pada 16 Desember 2023. Sebelumnya, erupsi GAK yang memuntahkan lava pijar merah dan kolom abu terus beriringan yang dapat dilihat terang dari Pulau Sebesi, terutama pada malam hari.

Pengunjung berdiri melihat GAK dari dekat. Sayang berkabut. (Foto: Sumatralink.id/Mursalin Yasland)

Setelah dua tahun “tidur”, GAK kembali erupsi pada Sabtu-Ahad (5-6/9/2026). Erupsi GAK kali ini mengeluarkan abu vulkanis berwarna hitam pekat yang menyebar ditiup angin ke berbagai tempat. Debu abu vulkanis menghujani wilayah Lampung, Banten, Jakarta, dan Bandung.

Setelah dua hari berturut-turut, sebaran abu vulkanis GAK mulai menipis pada Senin (7/9/2026). Meski abu vulkanis berwarna hitam pekat berkurang, namun debu pasir masih menghujani rumah warga. Dampaknya, anak sekolah belajar di rumah secara daring.

***

Gubuk Seng dinilai lokasi terdekat dan teraman, meski tidak nyaman sewaktu-waktu. Jarak tempuh dari Desa Tejang hanya sekira 30 menit naik motor. Medan jalannya setapak dan berliku, menanjak dan menurun. Sebagian ada jurang yang terjal. Sepanjang jalan terdapat ladang-ladang warga seperti pisang, lada, kopi, kelapa, nira, dan lainnya.

Pada dataran tinggi Gubuk Seng sebenarnya sudah berdiri permanen Menara Pos Pemantau GAK. Pemantauan aktivitas GAK dari pos ini dinilai sangat valid dan cepat respondnya.

Saat berkunjung ke pos tersebut, menara tersebut tidak terpakai lagi. Sejak aktivitas pemantauan GAK dipindah ke Desa Hargo Pancuran, Rajabasa, kondisi menara setinggi 100 meter tersebut terbengkalai dan rusak, seperti menara gading tak berpenghuni.

Bencana tsunami pada 22 Desember 2018 memberi sinyal keberadaan Pos Pemantau GAK di Gubuk Seng bermanfaat. Setidaknya data yang tercatat dapat terdistribusi sinyalnya dengan cepat ke pihak terkait untuk mengantisipasi bencana dan banyaknya korban jiwa. Ada baiknya, menara pos pemantau GAK ini dipulihkan lagi, agar aktivitas GAK terpantau lebih detil, valid, dan cepat tersampaikan.

Memang, bencana malam itu, tsunami menghantam Gubuk Seng menjadi tempat pertama dan terparah. Isi ladang dan kebun warga hancur termasuk gubuk-gubuknya hayut. Saat itu, gelombang tsunami melebihi pucuk pohon kelapa normal.

Gubuk Seng bukan tempat pemukiman warga. Sehari-hari kawasan ini sepi penduduk, karena hanya tempat berladang atau berkebun. Ketika musim panen pemilik ladang mulai mendiami gubuk-gubuk yang hanya beratap seng bekas seadanya di ladangnya. (Mursalin Yasland)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *