Ryamizard Ryacudu.Danrem 044/Gapo Kolonel Ryamizard Ryacudu saat memberikan pengarahan kepada korban banjir bandang di Lahat, 1995. (Foto-foto: Mursalin Yasland)

TERKABAR banjir bandang petang hari, sekira tahun 1995 redaksi kantor menugaskanku berangkat ke TKP untuk meliput. Pukul delapan malam, Kereta Api Sindang Marga yang aku tumpangi berangkat dari Stasiun Kertapati menuju Lubuklinggau, Kabupaten Musi Rawas, Sumatra Selatan (Sumsel).

Kabupaten Lahat berada di pertengahan perjalanan kereta, sedangkan jarak tempuh dari Kertapati menuju Lubuklinggau sekitar enam atau tujuh jam. Setelah liputan reguler siang itu, kondisi badan terasa capek. Akhirnya tertidur pulas.

Kereta berhenti. Terdengar ramai suara penumpang. Aku terbangun. Setelah bertanya kepada penumpang sebelah, aku tergesa-gesa mengambil tas lalu turun kereta di Stasiun Lahat. Seandainya tak sadar saat itu, jelas aku terbawa kereta sampai Linggau, alamat liputan bencana gagal.

Stasiun Kota Lahat saat itu sepi dan gelap pada dini hari, sekira pukul 01.30. Penumpang yang turun di Lahat sudah sepi. Tak ada lagi, tukang ojek, tak ada lagi angkutan umum. Tujuanku hanya fokus ke TKP banjir yang tidak jelas mau naik apa ke lokasi.

Tapi, ada daya. Aku harus menunggu beberapa jam menjelang Subuh. Tekadku, aku segera berada di lokasi sebelum matahari terbit. Setelah bertanya ke sana kemari, akhirnya aku mendapati info tempat mangkal angkutan umum ke arah TKP.

Untuk menghabiskan waktu beberapa jam kemudian, sambil mengobrol dan begadang dengan tukang jualan makanan malam, aku segera menuju satu titik. Tempat itu, ada satu angkutan umum pertama menuju dusun dekat lokasi banjir bandang.

Mobil angkutan itu memang mengangkut pedagang hasil pangan dari dusun-dusun menuju Kota Lahat pada dini hari. Mobil itu kembali lagi ke daerahnya, untuk menjemput pedagang lagi pada petang harinya. Begitu kesehariannya.

Baca juga: Penakluk Romawi yang Hidup Sederhana

Aku menjadi penumpang pertama di dalam mobil angkutan itu. Biasalah, mobil jalan kalau penumpang sudah penuh. Aku berburu waktu, sementara sopir berburu penumpang. Dua hal sama-sama penting. Tak berapa lama, akhirnya penumpang terisi penuh. Mobil berangkat ke kampung.

Target sebelum matahari terbit, ternyata tak sempurna. Angkutan umum yang aku tumpangi tiba di terminal pangkalan, hari sudah pagi. Aku bergegas mencari tumpangan. Tapi, tidak ada yang menuju lokasi banjir.

Lokasi banjir bandang memang agak terdalam karena dekat perbukitan. Alat komunikasi telepon di tempat itu masih telepon engkol, dengan jam-jam tertentu.

Terpaksa cari tumpangan motor warga yang mengarah ke lokasi. Dari satu motor ke motor warga lain, beberapa kali ganti tumpangan motor warga akhirnya mendekat lokasi banjir. Untuk sampai di lokasi, harus berjalan beberapa kilometer lagi.

Pagi itu, belum terlihat terlihat sama sekali lalu lalang mobil ambulans, aparat pemerintah, polisi, dan militer yang melintas. Jadi, sama sekali tidak ada tumpangan biar cepat ke lokasi.

Belum pukul 7.00 aku sudah di lokasi. Seperti biasa, aku meliput apa yang seharusnya diliput dalam berita bencana; straight news dan feature news termasuk foto-foto dokumentasi. Dulu, belum musim telepon seluler apalagi smartphone bisa foto dan video.

Lokasi banjir bandang sangat luas, jadi harus ekstratenaga meluncur ke lokasi. Jalan-jalan sudah tertutup tanah, rumah-rumah warga sudah rusak dan hanyut, termasuk kebun-kebun warga rata. Warga terlihat masih sibuk mengevakuasi harta bendanya setelah disapu banjir.

Tampak arus air sungai masih deras dari puncak bukit. Khawatir juga terjadi banjir bandang susulan, karena hujan masih turun walau tidak deras. Satu titik ke titik lain aku telusuri walaupun tidak bisa menjangkau daerah terparah di pedalaman dekat perbukitan.

Menjelang tengah hari, aku kembali ke lokasi penampungan warga terdampak banjir. Di tempat itu sudah dipasang tenda darurat dan pengungsian darurat. Petugas puskesmas sudah ada, aparat kepolisian dan TNI juga sudah mulai banyak. Kiriman bantuan makanan dan minuman masih sedikit mengalir. Artinya, baru siang hari ada bantuan.

Beberapa saat kemudian, ada beberapa mobil TNI tiba di lokasi. Ternyata, Danrem 044/Garuda Dempo Kolonel Ryamizard Ryacudu. Tak banyak ngomong, beliau langsung langsung menuju titik-titik terparah banjir bandang, dengan berjalan kaki dan naik motor. Ia perintahkan aparatnya bergotong royong membantu korban banjir.

Sebagai satu-satunya wartawan dari Palembang yang sudah ada di lokasi, belum ada wartawan lokal sekalipun. Aku ikut dalam tinjauan Danrem tersebut. Lumayan, dapat tumpangan aparatnya  untuk mencapai titik-titik terparah, yang diyakini banyak korban jiwa.

Setelah meninjau pada petang harinya, Danrem kembali ke tempat pengungsian dan berbicara kepada warga terdampak. Seusai acara pertemuan, aku berkesempatan mewawancarainya. Banjir bandang Lahat menjadi berbagai berita dan ficer, termasuk wawancara khusus dengan Danrem 044 Gapo yang waktu itu masih berpangkat kolonel.

Kini, sang kolonel tersebut sudah tiada. Selamat jalan Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu. (Mursalin Yasland)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *