SUATU ketika, Khalifah Umar bin Khotob Rodhiyallahuanhu tiba di Syam (sekarang wilayahnya Suriah, Lebanon, Yordania, dan Palestina). Ia ingin bertemu dan menanyakan seorang penguasa di sana. “Dimanakah saudaraku, Abu Ubaidah?” tanya Umar kepada penduduk Syam. “Sebentar lagi dia akan datang,” jawab seorang warga. Tak lama, Abu Ubaidah tiba. Ia turun dari kuda langsung merangkul Umar. Mereka menuju rumah Ubaidah, yang sebelumnya pernah menaklukan Kerajaahan . Ketika berada di dalam rumah, Umar tak melihat sesuatu barang berharga apalagi mewah di dalam rumah Abu Ubaidah, kecuali sebelah pedang, tameng, dan kudanya. “Hai Abu Ubaidah, mengapa kau tidak melakukan sesuatu sebagaimana yang diperbuat oleh sahabat-sahabatmu yang lain,” tanya Umar heran. “Hai Amirul Mukminin, inilah tempat peristirahatan yang aku miliki,” jawab Abu Ubaidah. Sangat pantas Abu Ubaidah bin Jarrah, seorang dari kalangan yang pertama masuk Islam di zaman Nabi Muhammad Sholallahu’alaihi wassalam (SAW), mengabarkan orang yang dijanjikan masuk surga sebelum mati. Selama hidup, Abu Ubaidah tidak pernah mengatakan sesuatu kecuali perkataan yang baik, bila tidak sanggup dia diam. Tidak terlintas dalam benaknya untuk menyakiti orang lain dan berbuat dosa. Perbuatannya selalu sejalan dengan perkataannya. Ketika diberi tanggung jawab, ia sangat amanah. Nabi SAW bersabda, “Setiap umat memiliki orang kepercayaan, dan orang kepercayaan umat ini adalah Abu Ubaidah bin Jarrah.” Bercermin dari kisah ini, bagaimanakah kondisi kehidupan para pemimpin dan para pembesar saat ini? Adakah yang serupa dengan kesederhanaan Abu Ubaidah, seorang panglima perang yang dapat menaklukkan Imperium Romawi dipimpin Kaisar Heraclius? Wallahua’lam bishawab. (Mursalin Yasland) Facebook WhatsApp Twitter Threads Navigasi pos Anggota Dewan (Tak) Terhormat