Jamaah umroh memanfaatkan waktu berdoa di depan Multazam Ka'bah, Masjid al-Haram. (Foto: SumatraLink/Mursalin Yasland) SumatraLink.id – Kehidupan ini bergerak, yang ujungnya pasti menemui kematian. Siapa yang tidak punya masalah dalam hidup ini? Hidup pasti menghadapi masalah. Betapa getir dan peliknya manusia menghadapi persoalan dan tantangan hidup, jangan pernah mengambil jalan pintas yang diharamkan. Jalan pintas yang dianggap dapat menghilangkan nasib buruk, malah justru terpuruk. Maka itu, sepanjang hidup manusia, ujian dan musibah akan datang. Hanya saja kadar dan kapasitasnya yang berbeda masing-masing orang. Ada yang diberikan musibah berupa harta (kekayaan atau kekurangan), anak, dan fitnah lainnya. Makin tinggi jabatan, popularitas, strata sosial lainnya, makin kencang pula masalah yang dihadapi. Ibarat pohon yang tinggi, terpaan angin semakin kuat. Banyak yang sukses menghadapi terpaan hidup, tapi tidak sedikit pula banyak yang gagal, dan berujung putus asa. Mereka mencari jalan pintas, sehingga racun menjadi sirup, dan tali menjadi tempat bergantung. Na'udzubillahi mindzalik. Kuncinya, hadapi masalah dengan sabar. Kesabaran membuat hati dan pikiran menjadi normal kembali. Solusi akan menghampiri kita, tatkala akal dan pikiran kita terbebas dari kebuntuan. Bukankah, dibalik kesulitan ada kemudahan. Faainna ma'al usyri yusroo, inna ma'alusyri yusroo, "Maka, sesungguhnya bersama kesulitan (al-usr), ada kemudahan (yusran). (Ayat ini diulang lagi) Sesungguhnya, bersama kesulitan ada kemudahan," (QS. Al-Insyirah (94) : 5-6). Kebalikannya, menghadapi masalah dengan jalan pintas, membuat akal dan pikiran kita menjadi buntu, dan kalang kabut. Saat itu, syaitan masuk membujuk rayu dengan tipu dayanya. Terperosoklah diri kita ke dalam jurang kenistaan, yang dibenci Allah SWT. Allah SWT tak memberikan beban hidup kepada seseorang, tanpa orang tersebut sanggup menjalaninya. Dia Maha Tahu kemampuan hambanya saat diberikan cobaan, ujian, dan musibah. Tinggal lagi kemampuan kita, apakah dapat mengolah masalah atau ujian hidup sesuai dengan perintah-Nya atau tidak. Baca juga: Doa Fudhail bin Iyadh untuk Pemimpin Terkadang pada titik kulminasi, kita dihadapkan pada keniscayaan. Seakan masalah tak kunjung selesai. Tidak ada solusi lagi. Tidak ada jalan lagi. Seakan semuanya tertutup di depan mata kita. Namun, kita lupa: di atas langit, masih ada langit. Doa, menjadi senjata mutakhir bagi seorang muslim dalam menghadapi semuanya. Memanjat doa, memohon doa kepada dzat Maha Pencipta, menjadi senjata pamungkas kaum muslimin di dunia ini. Berat, bila masalah disandarkan hanya pada dunia. Ringan, bila masalah disandarkan kepada sang Pencipta Dunia. Kehidupan dunia, sebuah perhiasan yang terus digapai semua insan. Padahal, dunia seperti fatamorgana, semakin dicari, semakin tidak puas. Setelah mendapatkan satu gunung emas, naluri manusia akan terus mencari dua atau tiga gunung emas lainnya. Begitulah dunia, tidak akan habis-habisnya. Maka tepatlah, dunia adalah perhiasan yang menipu. Bersandar kepada manusia semata, dalam menghadapi masalah, justru akan semakin berat. Karena manusia memiliki keterbatasan, manusia juga memiliki masalah, meski berbeda masalah dengan kita. Lagi pula manusia memiliki kelemahan, dan tidak punya kuasa apapun. Bersandarlah kepada yang menciptakan manusia: Allah SWT, zat yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Seberat apapun masalah yang dihadapi, mintalah pertolongan kepada Allah SWT. Salah satu jalan dengan berdoa. Fasilitas doa, menjadi jalan termurah, tercepat, dan hasilnya menakjubkan. Sudah banyak kisah-kisah seseorang yang menurut akal dan logika manusia tidak mungkin tapi di hadapan Allah SWT pasti nyata. Kalau Allah SWT berkehendak, tak seorang pun dapat menghalanginya. Bukankah, doa-doa yang kita panjatkan, boleh jadi belum tentu terbaik bagi kita. Baik bagi kita belum tentu bagi Allah. Tapi, kalau Allah mengabulkan doa kita itulah yang terbaik. "Berdoalah kalian kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan (permohonan) kalian," (QS. Al-Ghafir 40:60). Sabar dan shalat disertai doa dan amalan lainnya, mampu mengubah apa yang tidak mungkin menjadi mungkin. Mampu menyelesaikan seberat apapun persoalan hidup, menjadi mudah dan ringan. Tawakal kepada Allah SWT setelah berikhtiar, menjadi penting. Allahua’lam bishawab. (Mursalin Yasland) Facebook WhatsApp Twitter Threads Navigasi pos Tamsil Kehidupan, Harta dan Anak Hiasan Dunia Setiap Jiwa Menanti “Tamu Misterius”