Kota Jeddah, Saudi Arabia. (Ilustrasi Foto: SumatraLink/Mursalin Yasland) SumatraLink.id — Ambillah suatu perumpamaan untuk mereka tentang dua tokoh. Seorang diantara mereka, Kami (Allah) berikan dua bidang kebun anggur. Di sekelilingnya Kami tumbuhkan pohon-pohon palma. Di antara kedua kebun itu kami adakan tanam-tanaman. Kedua kebun itu, banyak mendatangkan hasil. Panennya tidak pernah gagal (setiap musim). Dan di antara kedua kebun itu, Kami alirkan sebuah sungai. (Selain itu), iapun mempunyai pula kekayaan lain. Lalu diajaknya (seorang) mukmin kawannya bertukar pikiran. Katanya, "Aku mempunyai kehebatan lebih banyak dari padamu: baik di bidang harta, (sebagaimana engkau lihat), maupun di bidang pergaulan." Lalu dia masuk ke dalam kebunnya bersama mukmin kawannya tadi dengan lagak angkuh, seraya berkata: "Aku kira kebun ini tidak akan punah selamanya… "Dan aku kira kiamatpun tak akan datang! Andaikan benar aku harus kembali kepada Tuhanku, pasti akau akan mendapat barang sesuatu yang lebih baik lagi dari kebun ini, sebagai gantinya." Sang mukmin kawannya tadi menegurnya: "Mengapa engkau mengingkari Tuhan yang telah menciptakanmu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, kemudian dijadikan-Nya engkau seorang manusia sempurna?" "Tetapi aku tidak akan bersikap sepertimu, karena aku percaya bahwa Dialah Allah Tuhanku dan aku tidak mempersekutukan Tuhanku dengan siapapun… "Dan mengapa waktu engkau masuk ke kebunmu itu tidak mengucapkan: Maa syaa Allah (semuanya terjadi karena Allah), dan Laa quawatailla billah (tidak ada daya upaya kecuali dengan pertolongan Allah). Baca juga: Menjadikan Ta'awwun Solusi Masalah Dunia Semoga Tuhanku memberiku kebun yang lebih baik dari kebunmu ini, dan menggalakkan halilintar dari langit yang akan menggayang kebunmu sampai licin dan tandus. Atau airnya jadi surut dan mengering, sehingga engkau tidak mampu untuk mendapatkannya lagi. Lalu, bencana besar menggayang isi kebunnya (yang pernah dibanggakannya itu), sehingga ia berhampa tangan karena biaya yang telah dikeluarkannya sia-sia belaka. Semua hasil buah anggurnya menjadi ambruk sekaligus dengan junjungannya (pemilik kebun tadi). "Aduhai…! Kiranya dahulu aku tidak mempersekutukan Tuhanku dengan sesuatu…! sesalnya (tiada berguna). Tiada teman sejawat yang dahulu dibanggakan dapat membelanya selain daripada Allah, tiada pula ia dapat membela dirinya sendiri. Dalam keadaan (yang gawat semacam ini), satu-satunya andalan hanya dari Allah, andalan tunggal…! Dialah sebaik-baiknya pemberi ganjaran, sebaik-baiknya Pemberi balasan. Dan tampilkanlah untuk mereka suatu perumpamaan, bahwa kehidupan dunia ini ibarat air hujan yang Kami turunkan dari langit. Segala tumbuh-tumuhan bumi menyerapnya, (sehingga ia bertunas dengan suburnya), kemudian jadi kering kerontang dihembus angin. Allah Maha Kuasa atas segala-galaya. Harta kekayaan dan anak pinak itu adalah hiasan hidup di dunia, sedang karya bakti yang abadi itulah yang paling baik pahalanya dalam pandangan Allah, paling baik segi citanya. (Dinukil dari QS. Al Kahfi/Mursalin Yasland) Facebook WhatsApp Twitter Threads Navigasi pos Menyikapi Menang dan Kalah dalam Kontestasi Apapun Banyak Masalah? Jangan Melupakan Doa