Bung Hatta dan Buku.Bung Hatta dan Buku. (Foto: Dok. Sumatralink.id)

SUMATRALINK.ID – Suatu hari, Bung Hatta memanggil Meutia, anak sulungnya. Panggilan ini tampak serius dari wajah Bung Hatta yang tidak seperti biasanya ketika bercengkrama di dalam rumah.

Meutia Farida bergegas memasuki ruang kerja sehari-hari sang proklamator Indonesia itu di dalam rumahnya. Mimik muka sang ayah tampak lain dari kebiasaanya.

“Meutia, pilihlah buku-buku dari bibliotik Ayah di atas yang berguna bagi studi Meutia!” pinta Bung Hatta.

“Buat apa, Yah?” tanya Meutia heran.

“Buat Meutia sendiri. Sebab kalau Ayah meninggal nanti, mungkin kalian bermaksud menjual buku-buku Ayah untuk biaya hidup Ibu dan kalian. Meutia kan tahu pensiun Ayah….”

Belum selesai kalimat ayahnya itu, Meutia (terpaksa memotong) dan merasakan  ayahnya akan mengatakan bahwa pensiun Ayah takkan cukup untuk membiayai hidup kami, terutama Ibu, ketika ia tinggalkan nanti.

Meutia juga merasakan bahwa ayahnya akan bilang, kalau sekarang masih ada keluarga yang masih membantu ia dan keluarganya saat ini. Lalu, bagaimanakah bila Ayah meninggal nanti?

Maksud dan tujuan dari pertemuan serius itu, membuat Meutia tahu ujung pembicaraan itu. Untuk itu, ia segera memutus ucapan ayahnya yang sedikit risau dan sedih.

“Jangan Ayah! Saya tidak mau ambil buku Ayah dari atas. Buku-buku Ayah tidak boleh kami jual. Masih banyak barang lain yang bisa kami jual kalau memang diperlukan,” kata Meutia tegas.

Sang Putri Jaga Bukunya

Sebagai anak tertua, Meutia yang lahir ketika ayahnya berusia 45 tahun. Seperti diketahui, Bung Hatta mau menikah — sesuai dengan niatnya – setelah Indonesia merdeka dari penjajah.

Lima tahun kemudian, Gemala adik Meutia lahir. Dan empat tahun setelah Gemala, Halida, adik bungsunya lahir. Ketiga anak perempuan Bung Hatta dan Rahmi hidup dalam sederhana pasca-mundur sebagai wakil presiden (wapres) mendampingi Presiden Sukarno pada 1 Desember 1956.

Dialog singkat ayah dan anak sulungnya seperti dikutip buku Bung Hatta, Pribadinya dalam Kenangan (1980), ini sangat membekas di hati Meutia. Sebagai anak tertua, Meutia tidak ingin kecintaan ayahnya terhadap buku-bukunya yang dikoleksi dan ditulis sejak muda membuat ia bersedih, apalagi terpaksa harus menjualnya demi melanjutkan kehidupan.

Perpustakaan Pribadi Bung Hatta

Meutia bersikukuh untuk tidak mengambil buku-buku ayahnya untuk keperluan studinya, apalagi harus menjualnya. Alasan Meutia sangat membekas tatkala ia pernah melihat perpustakaan Mohammad Yamin yang pernah (dibeli) dan dikelola Pertamina.

Ceritanya, ketika Meutia mengurus penerbitan majalah dengan Pertamina tahun 1976, ia melihat perpustakaan Prof Mohammad Yamin SH yang berpindah tangan ke Pertamina. Perpustakaan beliau dibeli pertamina, perusahaan negara yang waktu itu era keemasannya.

“Sungguh sedih apa yang saya lihat pada perpustakaan Mohammad Yamin. Buku-buku tidak teratur menurut katalog, bahkan pada satu sisi yang panjang terjemur sinar matahari,” kata Meutia dalam tulisanya berjudul Ayahanda: Pribadinya dalam Kenanganku.

Buku-buku koleksi pejuang Mohammad Yamin yang terkumpul dalam sebuah perpustakaan tidak terawat dengan baik, meski sudah dikelola oleh perusahaan terkenal saat itu. Bahkan, perpustakaan tersebut tak ada tenaga khusus pengelolanya.

“Dalam benak saya terlintas, betapa akan sangat menyedihkan apabila perpustakaan Ayah menemui nasib yang sama. Sejak itu saya bertekad, bagaimana pun juga, anak-anak Hatta harus merawat sendiri buku-buku Ayah, milik pribadi beliau yang bagi Ayah sendiri tak ada taranya,” tekad Meutia.

Tekad Meutia dan dua adiknya tersebut, setelah ayah dan ibunya wafat, hingga kini Perpustakaan Pribadi Bung Hatta masih ada dan tersimpan, terkelola, dan terpajang dengan baik di rumahnya.

Memang, menurut informasi media sosial akun IG @yayasanhatta, perpustakaan pribadi Bung Hatta masih belum bisa dibuka secara luas untuk publik dengan alasan tertentu.

“Koleksinya memang sudah tua, sarana pendukungnya sudah mumpuni seperti humidifier, kipas angin+ada AC juga. Memang perlu waktu dan dana tidak sedikit untuk preservasi, konservasi serta revitalisasi.

“Sebagian sudah dilakukan dan kami tampilkan di pameran 124 tahun Bung Hatta di Makam Bung Hatta Tanah Kusir,” tulis @yayasanhatta, Ahad, 23 Juli 2026.

Uang Jajan Beli Buku

Kecintaan Bung Hatta terhadap buku sudah sejak kecil. Menurut R. Lembaq Tua, kakak perempuan Bung Hatta, di sekitar Hatta selalu ada buku. Buku, sudah menjadi bagian dari hidupnya. Setiap lembar kertas dari bukunya, dibukanya secara hati-hati dan dibacanya secara cermat.

Waktu Bung Hatta di penjara, Lembaq menuturkan, dia selalu meminta untuk dikirimi buku. Setiap orang yang meminjam bukunya, selalu dicatat dalam buku: nama, tanggal meminjam, tanggal mengembalikannya, serta orang tersebut selalu diingatkannya agar menjaga buku yang dipinjamnya sebaik-baiknya.

“Kebiasaan Hatta ini sebagai potret hidup dari ayahnya, yang tertib, rajin, dan hemat,” kata Lembaq dalam dalam tulisan Adik dan Kenangan.

Hal sama terungkap dari Julinar Idris Koestono, adik sepupu Bung Hatta. Ia mengatakan, beliau kecil hidup sangat rapi dan teratur. Segala sesuatu beliau atur dengan rapi, begitu juga uang jajan sehari-hari yang diberikan nenek.

“Uang ini beliau susun begitu rupa, di atas meja ulis beliau, agar nantinya kalu sudah cukup dimasukkan ke Postspaarbank (Bank Tabungan Pos). Dari uang itu, ia membeli buku-bukunya untuk meneruskan sekolahnya,” ujar Julinar dalam tulisannya Bung Hatta: Pembimbing Rakyat dan Keluarga Kami.

Wakil Presiden Periksa Buku

Ketika ia sudah menjadi wapres, Bung Hatta dan keluarga berada di Bukit Tinggi pada thaun 1949. Ia bertempat tinggal di gedung Tri Arga. Setiap Ahad, beliau selalu pulang ke rumah kampungnya di Tajungkang. Ia bertemu keluarga dan sanak famili serta beristirahat.

Pada kesempatan itu, ia menyempatkan diri untuk memeriksa buku-buku dari perpustakaan keluarga, yang terdiri dari buku-buku beliau dari masa SD dan Sekolah Menengah, sampai beliau meninggalkan Padang dan hijrah ke Jakarta (Betawi).

Buku Jadi Mas Kawin

Terakhir, puncak kecintaan Bung Hatta pada buku, hingga ia menikahi Rahmi dengan memberikan mas kawin sebuah buku berjudul Alam Pikiran Yunani kepada calon istrinya.

Hingga Saleha, sang Ibu Bung Hatta cemas. Mas kawin hanya sebuah buku, sepertinya Bung Hatta tidak mampu memberikan mas kawin yang lebih berharga.

“Saya mempunyai beberapa uang emas yang besar-besar, berikan itu juga sebagai mas kawin,” kata Saleha kepada Bung Hatta.

Tapi, Bung Hatta menolaknya. Penolakan Bung Hatta mendapat dukungan dari sejawatnya. Alasannya, ternyata ada yang jauh lebih beharga dibandingkan emas dan harta. (Mursalin Yasland)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *