Lapangan Hatta.Lapangan Hatta, Palembang. (Foto: Sumatralink.id/Mursalin Yasland)

SUMATRALINK.ID — Dua tahun setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Wakil Presiden Mohammad Hatta mengadakan lawatan ke Palembang, Sumatra Selatan. Bung Hatta tiba di Kota Palembang setelah estafet menggunakan kereta api dari Yogyakarta, Jakarta, Lampung, hingga Palembang, pada Juni 1947.

Kabar kedatangan Bung Hatta di Palembang mendapat antusias rakyat Palembang untuk melihat dan bertemu langsung sang proklamator tersebut. Kedatangan Bung Hatta telah dijemput Gubernur Sumatra Teuku Mohammad Hasan dan Residen Palembang Mohamad Isa di Stasiun KA Tanjungkarang, Lampung.

Bung Hatta belum datang, Stasiun KA Kertapati telah dipadati rakyat. Rakyat ingin melihat langsung sosok Bung Hatta, yang selama ini hanya terdengar dari lisan ke lisan dan surat kabar saat Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dikumandangkan pada 17 Agustus 1945.

Rakyat sangat antusias ingin menjemput Bung Hatta tatkala tiba di Stasiun Kertapati yang berada di Seberang Ulu I. Bung Hatta tiba turun dari kereta pada petang hari, langsung disambut antusias dan sukacita rakyat Palembang.

Sepanjang perjalanan, rombongan Bung Hatta mendapat apresiasi tinggi dari rakyat Palembang yang sudah berdatangan dan menunggu lama hingga menjelang malam.

Salah satu sudut Lapangan (Olahraga) Hatta, Palembang. (Foto: Sumatralink.id/Mursalin Yasland)

Bung Hatta bersama rombongan melanjutkan perjalanan menuju rumah Residen Palembang Mohamad Isa di Jalan Indrapura. Bung Hatta bermalam di rumahnya. Sepanjang malam, Bung Hatta banyak menerima para tokoh dan pejuang daerah tersebut.

Baca juga: Bung Hatta Tak Pernah Diundang HUT RI

Menurut Leila H Rachmantio, anak kedua Mohammad Isa, rumah bapaknya banyak kedatangan para pemuka masyarakat dan tokoh-tokoh Palembang baik dari kalangan sipil maupun militer.

“Tamu yang datang tiada henti mengalir hingga larut malam,” kata Leila, seperti dikutip Feris Yuarsa dalam bukunya Mohammad Isa, Pejuang Kemerdekaan yang Visioner, (2016).

Larut malam pun tiba, Bung Hatta harus istirahat. Rumah Residen Palembang di Jalan Indrapura saat itu masih sangat terbatas. Kamar Leila, menjadi tempat tidur Bung Hatta. Sementara Leila sendiri tidur bersama ibunya. Bung Hatta biasa minum sari kunyit sebelum tidur.

Seusai sarapan pagi, Bung Hatta melanjutkan agenda lawatan untuk menemui rakyat Palembang. Ia mengadakan rapat umum di sebuah lapangan luas yang berada di Jalan Indrapura tak jauh dari rumah Mohamad Isa. Lapangan tersebut menjadi sarana masyarakat untuk olahraga dan bermain.

Lapangan luas tersebut menjadi tempat bersejarah bagi rakyat Palembang ketika bertemu dan melihat langsung sosok Bung Hatta, sang Proklamator Kemerdekaan Indonesia. Warga, tua dan muda, dewasa dan anak-anak, laki-laki dan perempuan hadir sejak pagi hanya ingin mendengar pidato Bung Hatta.

Baca juga: Bung Hatta di Stasiun Tanjungkarang

“Semua antusias dan benar-benar merasa gembira melihat sosok Bung Hatta dari dekat,” tulis Feris Yuarsa dalam bukunya.

Pada hari kemudian, lapangan nan luas tersebut diberi nama “Lapangan Hatta”, sebagai momentum pertemuan masyarakat Palembang dan Bung Hatta untuk pertama kalinya pascakemerdekaan Indonesia.

Dalam pidato politiknya, Bung Hatta berharap rakyat Palembang tetap berada di belakang republik, setia pada negara hasil Proklamasi dan tidak termakan bujuk rayu Belanda.

Selain itu, Wapres Bung Hatta menekankan untuk tidak percaya begitu saja kepada Belanda karena Belanda tidak akan rela Indonesia menjadi bangsa merdeka. Pada saat itu, Indonesia dan Belanda sedang terikat dalam Perjanjian Linggarjati.

Bung Hatta merasakan heroisme rakyat Palembang yang mencintai kemerdekaan bangsanya dengan menantang penjajahan Belanda. Hal ini dibuktikan dengan peristiwa “Perang Lima Hari Lima Malam” pada 1-5 Januari 1947. (Mursalin Yasland)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *