SUMATRALINK.ID – Musim hujan air melimpah, musim panas air kering. Dua hal kontradiktif ini memberi hikmah berharga bagi manusia untuk selalu bersyukur atas nikmat Allah Subhanahuwata’ala (SWT) berupa air dalam kehidupan. “…Kami menjadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air. Maka tidakkah mereka beriman?” (QS. Al-Anbiya: 30). Air menjadi sumber kehidupan di bumi ini. Artinya, tak ada air, maka tak ada kehidupan. Semua makluk membutuhkan air, untuk kelangsungan hajat hidupnya. Dalam Al-Quran lebih dari 200 ayat membahas tentang air yang tersebar dalam 42 surah, sedangkan kata air itu sendiri disebutkan 63 kali (Fahda Afifah, dosen Fisika UIN Sunan Kalijaga/2022). Air hujan, sumber kehidupan di dunia, banyak ayat dalam Al-Quran yang menerangkannya. “Apakah kamu tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, maka diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi kemudian ditumbuhkan-Nya dengan air itu tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya…,” (QS. Az-Zumar: 21). “Allah yang telah menciptakan langit dan bumi serta menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan berbagai buah-buahan menjadi rezeki untukmu…,” (QS. Ibrahim: 32). Air memang menjadi karunia terbesar dari Allah SWT bagi manusia. Peneliti air dari Jepang, Dr Masaru Emoto mengatakan, sebanyak 70 persen tubuh orang dewasa terdiri dari air. “Biasanya, kita meminum air tanpa memerhatikan untuk apa kita minum. Kita tahu bahwa air itu penting guna mempertahankan hidup, tetapi karena hal ini sudah sering kita dengar maka sangat jarang orang menghargai air,” kata Masaru Emoto dalam bukunya The True Power of Water (MQ. Publishing/2006). Untuk itu, ia mengajak untuk mengenal air, agar dapat melihat diri sendiri. Semakin jelas melihat diri sendiri, maka akan dapat melihat masyarakat, bangsa, dunia, bumi, alam, dan bahkan Tuhan. Dalam penelitiannya tentang air bersama Kazuya Ishibashi (peneliti ahli mikroskop) selama dua bulan, Masaru Emoto menyatakan, bahwa air ketika diberi respon positif (doa), akan menghasilkan bentuk heksagonal yang indah. Begitu sebaliknya, bila air diberi respon negatif (celaan) malah tidak membentuk ikatan apapun atau kacau dan tidak beraturan. Nah, apalagi dengan khasiat air zam zam yang sudah berabad-abad sampai kini terus mengalir dan dikonsumsi manusia. Betapa indah dan mahalnya air sebagai sumber kehidupan manusia, dinukil dari buku Rezeki Rumah Miring (Ust Bobby Herwibowo/2012) terdapat kisah menarik dari Raja Harun Al-Rasyid, khalifah kelima dari Dinasti Abbasiyah yang berkuasa 786-803 M di Khurasan (Iran Timur Laut). Saat safar sepanjang gurun pasir di bawah terik matahari, Raja Harun Al-Rasyid bersama penasehat raja Ibnu As-Samak terhenti dari tunggangan untanya. Mereka berteduh di sebuah tempat. Raja kehausan, tenggorokan telah kering. Penasehatnya menggelar tikar untuk beristirahat. As-Samak memberikan segelas air bening kepada sang Raja. Saat itulah terjadi dialog bermakna antara raja dan penasehatnya. “Khalifah, dalam kondisi haus seperti ini, jikalau tidak ada air minum (segelas ini) tetapi harus ditebus dengan separuh kekayaanmu, apakah engkau mau membayarnya?” kata As-Samak. Kondisi padang pasir yang panas ditambah kerongkongan yang sudah mengering, tentu air sangat-sangat dibutuhkan untuk hidup. “Saya bersedia membayarnya (segelas air tadi) seharga separuh kekayaan, asal tidak mati,” jawab Harun Al-Rasyid. As-Samak menimpali lagi dengan pertanyaan kedua. “Andai air segelas tadi yang masuk ke lambungmu tetapi tidak dapat dikeluarkan beberapa hari dan terasa sakit di perutmu, apakah engkau sudi akan mengeluarkan separuh kekayaanmu untuk berobat hingga air itu dapat keluar dari perutmu?” Sang Raja terdiam sejenak dan merenungi. “Saya juga akan membayarnya meskipun dengan harga separuh harta saya,” kata Harun Al-Rasyid. Ibnu As-Samak, sang penasehat ulung raja berkata, “Ternyata seluruh harta milik tuan Raja itu nilainya hanya segelas air saja. Tidak lebih.” (Mursalin Yasland) Facebook WhatsApp Twitter Threads Navigasi pos Beribadah Semalam Diganjar Seribu Bulan Miras dan Judi, Biang Mudhorat Maksiat