Menara Masjid Al Ikhlas, Kemiling, Bandar Lampung. (Ilustrasi Foto: SumatraLink.id/Mursalin Yasland) SumatraLink.id — Hidayah adalah petunjuk yang secara halus menunjukkan dan mengantarkan kepada sesuatu yang dicari. Dan yang paling dicari manusia semestinya adalah keselamatan di dunia. Untuk mendapatkannya, Allah Subhanallahuwata’ala (SWT) telah memberi bekal bagi setiap manusia dengan berbagai arahan yang akan membawa menuju keselamatan. Namun Allah SWT juga memberinya pilihan. Sehingga ada yang mengikuti petunjuk lalu selamat dan ada yang tidak mengacuhkannya, lalu celaka. Imam Ibnul Qayyim dan Imam al Fairusz Abadi menjelaskan, Allah SWT telah memberikan petunjuk secara halus kepada setiap manusia agar selamat hingga hari kiamat, bahkan sejak hari kelahirannya. Beliau menyebutkan, tahapan pertama adalah memberikan al hidayah al amah, hidayah yang bersifat umum yang diberikan kepada setiap manusia, bahkan setiap mahluknya. Yaitu petunjuk berupa insting, akal, kecerdasan dan pengetahuan dasar agar makhluknya bisa mencari dan mendapatkan berbagai hal, yang memberinya maslahat. Hidayah seperti inilah yang dimaksud dalam ayat, “Musa berkata; ‘Rabb kami ialah (Rabb) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk” (QS. Thaha: 50) Dengan bekal ini, manusia bisa menyerap, memahami dan melaksanakan berbagai arahan dan bimbingan yang diberikan kepadanya. Tahapan kedua adalah hidayatul dilalah wal bayan atau Hidayatul Irsyad, yaitu petunjuk berupa arahan dan penjelasan yang akan mengantarkan manusia kepada keselamatan dunia akhirat. Semua itu terangkum dalam risalah yang disampaikan melalui Nabi dan Rasul-Nya Sholallahu’alahi wassalam (SAW). Allah SWT berfirman: “Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami.” (QS.Al-Anbiyaa’: 73) Risalah yang dibawa oleh Nabi SAW adalah hidayatul bayan yang paripurna yang telah Allah SWT berikan kepada manusia. Sifatnya hanya memberi penjelasan dan arahan agar manusia bisa meraih keselamatan. Mengikuti atau tidak, Allah memberikan pilihan kepada setiap manusia berupa ikhtiar. Baca juga: Hidayah Itu Dicari, Bukan Ditunggu (1) Sehingga ada diantara mereka yang mengetahui, kemudian mengikuti dan terus melazimi hingga menjadi mukmin yang taat. Namun ada pula yang enggan bahkan menentang. Yang mengetahui, lalu mengikuti dan berusaha tetap berada diatas kebenaran akan selamat, sebaliknya yang mengetahui lalu berpaling akan binasa. Kemudian, tahapan ketiga adalah hidayatut taufiq, yaitu petunjuk yang khusus diberikan kepada orang–orang yang dikehendaki Allah SWT. Hidayah yang menuntun hati seseorang untuk beriman dan beramal sesuai dengan tuntunan-Nya. Cahaya yang menerangi hati dari gelapnya kesesatan dan membimbingnya menuju jalan kebaikan. Hidayah yang mutlak hanya dimiliki dan diberikan oleh Allah inilah yang melunakkan hati seseorang hingga ia mau menjawab seruan dakwah. Dan hidayah ini pulalah, yang menuntun mereka agar tetap berada di atas jalan yang lurus. Hidayah ini adalah buah dari hidayatul irsyad. Seseorang tidak mungkin akan mendapat hidayah ini, jika belum mendapatkan hidayatul irsyad sebelumnya. Namun, tidak semua orang yang sudah mendapat hidayatul irsyad pasti mendapatkan hidayatut taufiq. Baca juga: Saat Lapang dan Sempit, Rezeki Itu Ujian Seperti sudah dipaparkan tadi bahwa tugas dan kewenangan Nabi SAW, juga orang-orang yang menjadi pewaris para Nabi SAW hanyalah menjelaskan dan menyampaikan. Mereka tidak akan mampu membuat atau memaksa seseorang mengikuti apa yang mereka dakwahkan, jika orang tersebut lebih memilih jalan kesesatan dan tidak diberi hidayatut taufiq oleh Allah. Allah SWT berfirman: ”Sesungguhnya engkau takkan bisa memberikan hidayah (taufiq) kepada orang yang engkau cintai, akan tetapi Allah memberikan hidayah kepada siapa pun yang Dia kehendaki, dan Dia Maha Mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. “ (QS. Al-Qashash: 56). Tahapan keempat terakhir adalah hidayah di akhirat. Petunjuk di akhirat yang menuntun manusia menuju jannah. Rasulullah SAW bersabda, “Demi yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, salah seorang dari mereka lebih tahu arah menuju rumah-Nya di Jannah daripada arah menuju rumahnya di dunia.“ Keempat fase ini saling terkait secara berurutan. Tanpa adanya hidayah pertama, seseorang tidak akan bisa mendapatkan hidayah yang kedua berupa irsyad, arahan dan bimbingan dari Rasulullah SAW. Sebab orang yang akalnya tidak sempurna (gila maupun idiot) tidak bisa menyerap dan menalar berbagai ilmu dan bimbingan dari siapapun. Kalaupun bisa, daya serapnya sangat minim, sehingga mereka justru di bebaskan dari semua taklif dan tanggung jawab. Sedang hidayah yang ketiga, tidak mungkin bisa diraih sebelum seseorang mendapatkan hidayah yang pertama dan kedua. Taufiq dari Allah hanya akan turun kepada orang yang telah mendengar risalah dan kebenaran. Demikian pula hidayah yang keempat. Dan Allah Maha Mengetahui siapa yang benar-benar mencari dan berhak mendapatkan hidayah dari-Nya. Hidayah Al Amah kita semua sudah memilikinya. Adapun hidayah di akhirat, bukan lain adalah buah dari yang kedua dan ketiga. Sehingga yang harus kita cari semasa hidup di dunia adalah hidayatul irsyad dan hidayatut taufiq. Ibnu Katsir menjelaskan hidayah yang kita pinta dalam surat Al Fatihah adalah dua hidayah tersebut. (Dinukil dari Buku Sepotong Paha dari Aisyah, penulis Mursalin Yasland) Facebook WhatsApp Twitter Threads Navigasi pos Hidayah Itu Dicari, Bukan Ditunggu (Bag. 1) Hidayah Itu Dicari, Bukan Ditunggu (Bag. 3/Habis)