Zaka Kurnia Rahman, mahasiswa FT Unila. (Foto: Dok. Humas Unila)

SUMATRALINK.ID, LAMPUNG – Zaka Kurnia Rahman, mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Lampung (Unila) mengaplikasikan Artificial Intelligence (AI) Gate System. Aplikasi kecerdasan buatan ini mampu menangkal peredaran domain dan konten judi online (judol) di bawah naungan Kementrian Komunikasi dan Digital (Komdigi).

Inovasi ini hadir di tengah masifnya serangan konten judol yang menyasar berbagai lapisan masyarakat. Gate System dirancang menggunakan teknologi mutakhir untuk melakukan deteksi dini secara otomatis terhadap ribuan domain dan konten mencurigakan, sehingga mampu mempercepat proses verifikasi sebelum dilakukan pemutusan akses (take down).

Sistem ini diharapkan dapat meningkatkan efektivitas pengawasan serta memperkuat upaya pemerintah dalam menekan penyebaran konten ilegal di ruang digital.

Direktur Jenderal Pengawasan Ruang Digital Kementerian Komdigi, Alexander Sabar mengapresiasi terhadap terobosan yang dibawa oleh talenta muda asal Lampung tersebut.

Tujuan utama pengembangan sistem ini adalah efisiensi. Dengan volume konten negatif yang mencapai jutaan, kita membutuhkan ‘gerbang’ otomatis yang mampu menyaring konten secara presisi sebelum masuk ke tahap eksekusi oleh tim teknis Komdigi. – Zaka Kurnia Rahman

Ia mengatakan, kolaborasi antara pemerintah dan akademisi menjadi faktor krusial dalam menghadapi dinamika kejahatan siber yang semakin kompleks.

Gate System adalah bukti nyata kepedulian generasi muda terhadap masalah bangsa. Inovasi ini sejalan dengan misi kami memberantas judi online. Sejak 20 Oktober 2024 hingga 16 September 2025 lebih dari 2,17 juta konten judi berhasil kami tangani, mayoritas berasal dari situs dan IP,” ujar Alexander Sabar dalam keterangan pers Humas Unila, Rabu (18/2/2026).

Zaka Kurnia Rahman mengatakan, Gate System mengintegrasikan kemampuan pemrosesan bahasa alami (Natural Language Processing/NLP) dan visi komputer untuk mengenali pola-pola spesifik yang kerap digunakan situs judol guna mengelabui sistem sensor konvensional.

“Tujuan utama pengembangan sistem ini adalah efisiensi. Dengan volume konten negatif yang mencapai jutaan, kita membutuhkan ‘gerbang’ otomatis yang mampu menyaring konten secara presisi sebelum masuk ke tahap eksekusi oleh tim teknis Komdigi,” kata Zaka.

Keberhasilan implementasi ini diharapkan dapat menjadi standar baru bagi perguruan tinggi di Indonesia untuk berkontribusi langsung dalam proyek strategis nasional. Capaian tersebut sekaligus mempertegas posisi Unila sebagai institusi pendidikan tinggi yang mampu mencetak inovator teknologi berdaya saing nasional.

Pemerintah melalui Kementerian Komdigi pun berkomitmen untuk terus memperkuat infrastruktur pengawasan ruang digital. Inovasi seperti Gate System diproyeksikan menjadi komponen vital dalam menjaga ekosistem digital Indonesia agar tetap sehat, aman, dan produktif. (*)

Editor: Mursalin Yasland

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *