Mengaji Al Quran. (Foto: Sumatralink.id/Mursalin Yasland)

SUMATRALINK.ID – Al-Quran, kitab suci umat Islam yang diturunkan Allah Subhanahuwata’ala (SWT) kepada Nabi Muhammad Sholallahu’alaihi wassalam (SAW), untuk mencerahkan umat dari kondisi ‘gelap’ kepada ‘terang-benderang’. Sebagai umat Nabi SAW, malu bila tidak bisa membaca Al-Quran dari baligh hingga meninggal dunia.

Al-Quran sebagai pedoman hidup untuk membimbing umat ke jalan lurus, yang sebelum turun bangsa Arab terus bergejolak dalam zaman kejahiliyaan dan kemusyrikan parah. Al-Quran turun memperbaiki kondisi umat terutama akhlaknya jauh menyimpang dari fitrah manusia dan sebagai hamba Allah SWT.

Sejarah membuktikan, para sahabat sangat antusias untuk menerima Al-Quran dari Rasulullah SAW, mereka langsung menghafal dan memahami arti dan maksudnya.

Anas bin Malik, pembantu Rasulullah SAW, Rodhiyallahuanhu (ra) mengatakan, “Seseorang diantara kami bila telah membaca Surah Al-Baqarah dan Ali Imron, orang itu menjadi ‘besar’ menurut pandangan kami.” Para sahabat Nabi SAW bila mendapat pelajaran Al-Quran, selain menghafal ayat-ayatnya juga langsung mengamalkannya sesuai dengan hukum-hukumnya.

Dalam belajar Al-Quran, para sahabat yang membaca ayat-ayat Al-Quran seperti Utsman bin Affan ra dan Abdullah bin Mas’ud ra, sedangkan para sahabat yang lainnya menceritakan, mereka belajar dari Nabi SAW sebanyak 10 ayat, mereka tidak berpindah ke ayat selanjutnya sebelum mengamalkan ilmu dan amalnya.

Nabi SAW juga meminta para sahabatnya untuk tidak mengizinkan mereka menuliskan sesuatu dari dia seperti hadist selain Al-Quran, karena ia khawatir Al-Quran tercampur dengan yang lain selain wahyu dari Allah SWT.

Dari Abu Sa’id Al-Khudri, bahwa Rasulullah SAW berkata, “janganlah kamu tulis dari aku, barang siapa menuliskan dari aku selain Al-Quran, hendaklah dihapus. Dan ceritakanlah apa dari aku, dan itu tiada halangan baginya. Dan barang siapa yang sengaja berdusta atas namaku, ia akan menempati tempatnya di api neraka.” (HR. Muslim).

Namun, sesudah iktu, Rasul SAW mengizinkan para sahabat untuk menulis hadist, tetapi hal yang berhubungan dengan Al-Quran tetap didasarkan riwayat yang melalui petunjuk di zaman Rasul SAW di masa ke khalifahan Abubakar Ash-Siddiq ra dan Umar bin Khotob ra. Hingga zaman khalifah Utsman bin Affan untuk menyatukan kaum muslimin makan dibuat satu mushaf yang disebut Ar-Rasmul Usmani.

Dari giatnya para sahabat mempelajari Al-Quran di zaman serba terbatas, maka tiada alasan lagi bagi umat Nabi SAW di zaman serba ada dan serba canggih, justru tidak bisa membaca Al-Quran, atau tidak mau belajar Al-Quran.

Sangat aneh dan malu mengaku Islam dan beriman kepada Allah SWT dan Rasul SAW, tetapi sebagai hamba-Nya dan umat Nabi SAW tidak bisa membaca Al-Quran sedikitpun. Bagaimana nanti setelah meninggal dunia, akan menghadap Allah SWT tetapi tidak bisa membaca kitab sucinya Al-Quran.

Sadarilah, sesungguhnya tidak ada daya upaya setelah diri kita yang lemah dan hina ini ketika berhadapan dengan Allah SWT tetapi tiada bekal minimal mampu membaca Al-Quran. Tidak perlu mempelajari dan membaca Al-Quran harus nantinya menjadi qori yang bersanad atau pengajar Al-Quran.

Sediakan waktu untuk belajar membaca Al-Quran, jangan sampai kita menjadi orang lalai yang bisa menyediakan waktu yang banyak untuk sekedar bermain HP di tangan. Bagaimana kita menjawab ketika Allah SWT meminta pertanggungjawaban kita selama di dunia. Tidak ada kata terlambat, meski usia sudah memakan separuh lebih hidup kita.

Setelah mampu membaca dan menghafal ayat-ayat Allah SWT, sebaiknya dapat ditingkatkan lagi dengan membaca terjemahan ayat-ayatnya, dan juga mengetahui tafsir dan asbabul nuzulnya. Ketika sudah melalui hal tersebut, maka akan dapat dirasakan ilmu Al-Quran itu sangat luas dibandingkan dengan diri kita  tiada ada apa-apanya. Allahua’lam bishawab. (Mursalin Yasland)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *