SUMATRALINK.ID – Oleh Andi Firmansyah (* Selama ini, kita seolah sudah terbiasa “ketergantungan” pada pasokan luar negeri setiap kali berbicara soal bahan bakar. Ketergantungan pada impor Bahan Bakar Minyak (BBM) fosil ini sebenarnya bukan hanya soal angka yang membebani devisa negara, tapi juga membuat ketahanan energi kita menjadi sangat rapuh di tengah gejolak dunia yang tak menentu. Namun, secercah harapan mulai muncul sejak pemerintah meresmikan program bioetanol nasional tahun lalu. Harapan itu kini terasa makin nyata lewat langkah strategis PT Enero yang memutuskan untuk memprioritaskan seluruh produksi fuel grade ethanol mereka bagi Pertamina Patra Niaga. Di balik kesepakatan bisnis tersebut, sebenarnya ada sebuah misi yang jauh lebih besar: kita sedang berusaha mandiri dan menjahit kembali kedaulatan energi dari ladang tebu kita sendiri. Sejujurnya, jika kita menengok ke belakang, tantangan terbesar pengembangan energi terbarukan di Indonesia adalah kabut keraguan. Selama bertahun-tahun, kita terjebak dalam dilema klasik “ayam dan telur”. Di satu sisi, produsen enggan memproduksi massal karena tidak ada kepastian pembeli yang mampu menyerap volume besar. Di sisi lain, distributor seperti Pertamina ragu untuk memperluas infrastruktur energi hijau karena pasokan bahan bakunya sering kali dianggap belum stabil. Di sinilah sinergi antara PT Enero dan Pertamina menjadi kepingan puzzle yang sangat krusial. Kolaborasi ini seharusnya menjadi jawaban telak atas ketidakpastian pasar tersebut. Namun, kita tidak boleh menutup mata terhadap realitas yang masih mengganjal di lapangan. Meski program ini sudah diresmikan dengan penuh optimisme, kabar bahwa produksi PT Enero belum sepenuhnya diserap oleh Pertamina menjadi catatan kritis yang tak boleh diabaikan. Fenomena ini mengindikasikan bahwa di balik semangat transisi energi, masih ada “kerikil” bernama ego sektoral antar-BUMN dan benturan kepentingan yang menghambat laju program nasional. Sangat disayangkan jika potensi besar bioetanol domestik harus tertahan di tangki penyimpanan hanya karena mekanisme birokrasi atau tarik-ulur kepentingan yang belum selaras antara sisi hulu dan hilir. Padahal, jika sinergi ini berjalan tanpa hambatan ego sektoral, dampaknya bagi kesehatan ekonomi nasional akan sangat masif. Logikanya sederhana: setiap liter bioetanol yang dihasilkan dari tetes tebu petani domestik adalah satu liter bensin fosil yang tidak perlu kita impor. Logikanya sederhana: setiap liter bioetanol yang dihasilkan dari tetes tebu petani domestik adalah satu liter bensin fosil yang tidak perlu kita impor. Jika penyerapan ini dilakukan secara total dan konsisten, penghematan devisa negara bukan lagi sekadar angka di atas kertas, melainkan suntikan tenaga bagi neraca perdagangan kita. Tak hanya itu, campuran bioetanol mampu mereduksi emisi karbon hingga 14 persen — sebuah langkah konkret untuk mengejar target penurunan emisi nasional sebesar 31,89 persen pada tahun 2030. Mengolah tetes tebu menjadi fuel grade ethanol berkualitas tinggi membutuhkan investasi teknologi yang masif dan biaya operasional yang tidak sedikit. Prioritas alokasi yang diberikan PT Enero kepada negara adalah bentuk pengorbanan strategis yang seharusnya dijawab dengan komitmen penyerapan yang maksimal oleh Pertamina. Di sinilah peran pemerintah diuji. Sebagai pemegang mandat, pemerintah harus hadir sebagai “dirigen” yang mampu menyelaraskan irama antar instansi dan perusahaan plat merah. Jangan sampai program yang sudah diresmikan dengan megah tahun lalu justru layu karena ego sektoral yang lebih mengutamakan keuntungan jangka pendek masing-masing pihak daripada kedaulatan energi jangka panjang. Pada akhirnya, keberhasilan program bioetanol nasional ini adalah ujian kedewasaan bagi industri strategis kita. Langkah PT Enero memberikan prioritas kepada Pertamina adalah bukti nyata bahwa sisi hulu sudah siap bergerak. Kini, bola panas ada di tangan regulator dan pihak hilir untuk meruntuhkan sekat-sekat ego sektoral demi kepentingan yang lebih besar. Jika kolaborasi dari ladang hingga ke mesin kendaraan ini benar-benar dirajut dengan jujur, setetes bioetanol dari tebu kita bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan motor penggerak utama bagi Indonesia yang lebih hijau, lebih bersih, dan benar-benar berdaulat di kaki sendiri.*** *) Penulis, Asisten Komunikasi Perusahaan dan Hubungan Stakeholder PTPN I. Facebook WhatsApp Twitter Threads Navigasi pos Bila Imam Keliru, Bila Imam Batal Ketika “Sang Pemutus Keadilan” Diperlakukan Tak Adil, Akankah Rakyat Dapat Keadilan?