Nasi minyak atau nasi samin dan aneka lauknya khas orang Palembang. (Foto: SumatraLink.id/Mursalin Yasland)
Nasi minyak atau nasi samin dan aneka lauknya khas orang Palembang. (Foto: SumatraLink.id/Mursalin Yasland)

SumatraLink.idWong Plembang menyebutnya nasi minyak, ada juga yang mengatakan nasi samin. Dua-duanya sama, yakni nasi yang diolah dengan minyak samin dicampur rempah-rempah khas hasil akulturasi budaya Melayu Palembang, Timur Tengah, dan India. Nasi minyak ini terkenal di Kota Palembang atau daerah-daerah di Sumatra Selatan (Sumsel) lainnya sejak zaman dulu.

Sudah jarang yang buat, sudah jarang pula yang menjualnya di pasar kuliner. Nasi minyak ini semakin langka. Hanya pada acara-acara tertentu dengan orang-orang tertentu pula yang menyediakan hidangan khusus nasi minyak dengan aneka lauk yang mengiringinya.

Acara-acara dimaksud diantaranya prosesi pernikahan, acara adat Palembang dan daerah di Sumsel, juga syukuran kelahiran anak, hari raya, dan acara keagamaan Islam lainnya. Itu pun tidak sembarang orang yang berniat atau mau menyediakan hidangan nasi minyak berikut aneka lauk pengiringnya pada acara-acara semisal.

Misalnya keluarga Zulkarnain. Warga Kota Bandar Lampung yang asal usulnya keturunan sesepuh orang Palembang di Seberang Ulu pinggiran Sungai Musi, sudah dua kali pesta pernikahan anaknya menyajikan nasi minyak.

“Kalau resepsi pernikahan anak kami, aku idak lupo pake nasi minyak. Walaupun bukan di Palembang,” kata Zulkarnain di Bandar Lampung, beberapa waktu lalu.

Menjelang acara pernikahan, ia mendatangkan langsung tukang masak nasi minyak khusus dari tempat kelahirannya Kota Palembang. Menurut dia, masak nasi minyak tidak bisa sembarang orang yang masak dan mengolah racikan bumbunya, karena beda orang berbeda rasa khas nasi minyak seperti zaman bingen (dulu) Palembang.

Penjualnya Tempat Tertentu

Bagi pengunjung atau wisatawan yang sengaja berkunjung ke Kota Palembang dan sekitarnya, sudah sangat sulit mencari atau ingin mencicipi nasi minyak khas Palembang. Hidangan nasi minyak beserta kerabat lauk pauknya biasa disantap keluarga Sultan Palembang jaman dulu.

Baca juga: Tekwan Palembang, Bukan Makanan Raja

Hanya tempat-tempat tertentu ada warga yang masih menjual nasi minyak atau nasi samin di Kota Palembang ini. Bila berkenan menyusuri Pasar Kuto di Kelurahan 8 Ilir, misalnya. Atau juga ada di Kawasan Suro atau Tangga Buntung, serta kampung seberang ulu. Kawasan tersebut memang masih banyak keturunan orang bingen Kota Palembang.


Nasi minyak dimasak menggunakan kayu bakar dan diaduk setiap saat agar tidak gosong. (Foto: SumatraLink.id/Mursalin Yasland)
Nasi minyak dimasak menggunakan kayu bakar dan diaduk setiap saat agar tidak gosong. (Foto: SumatraLink.id/Mursalin Yasland)

Nasi minyak ini ada yang warna kuning ada juga merah. Biasanya, pesta pernikahan yang masih menjalani adat istiadat, nasi khas Palembang ini hadir. Orang yang memasak nasi minyak juga tidak sembarangan. Penikmat nasi minyak ini memang dulunya kalangan keluarga Sultan Palembang, karena rakyat biasa tidak sanggup membuat karena biayanya mahal.

Biasanya, kalau tidak ada acara hajatan, selepas Shalat Jumat, atau bulan Ramadhan, hari raya, tersedia nasi minyak. Kalangan sultan Palembang makan nasi minyak (samin) dengan lauk pauknya acar timun, kedondong, sambal nanas, juga ayam kecap, sate pentol, atau malbi. Jadi, mereka menyantap nasi minyak memang tidak setiap hari.

Bumbu Kari Sudah Jadi

Cita rasanya, tak bisa dituliskan dengan kata-kata. Kota Palembang di Sumsel merupakan pusat perdagangan internasional yang banyak dilewati orang Arab (Timur Tengah), India, Cina dan lain-lain. Akulturasi budaya berbagai negara ini membuat corak kehidupan orang Palembang khususnya menjadi beragam, termasuk pengaruh sajian kulinernya.

Herlina, seorang ibu rumah tangga asal Palembang yang menetap di Lampung juga sering membuat nasi minyak pada hari-hari tertentu. Nasi minyak ini olahan bahan dari minyak samin dan campuran rempah-rempah. Ia terkadang kesulitan mencari minyak samin yang benar-benar untuk nasi minyak.

Menurut dia, hal utama dalam pembuatan nasi minyak ini yakni minyak samin, khususnya. Minyak samin ini tidak banyak di pasaran. Hanya ada toko-toko khusus penjual rempah-rempah, atau juga di pasar swalayan. Itupun jarang ada. Sekarang sudah ada juga yang jual bumbu kari sudah jadi, tinggal lagi menambah bumbu lainnya termasuk susu cair.

“Memang susah cari yang jual minyak samin yang khusus untuk buat nasi minyak. Tapi, sekarang sudah ada yang jual bumbu kari jadi,” kata Herlina, ibu dua anak ini.

Setelah minyak samin tersedia, nasi dari beras lokal dimasak dengan minyak samin dicampur racikan rempah-rempah seperti jintan, kunyit, dan pala yang rasanya seperti lidah orang melayu. Setelah nasi minyak dimasak, juga harus disediakan lauk pengiringnya seperti ayam kecap, sate pentol, sambel nanas, acar, dan juga kerupuk/kemplang.

Baca juga: Benjak Enjak, Kue Tradisional Lampung yang Mulai Luput

Selain itu, zaman dulu memasak nasi minyak ini harus menggunakan kayu bakar yang diletakkan di sebuah tungku dengan wajan besar. Pemasak nasi minyak menggunakan kayu khusus untuk mengaduk nasi yang dimasak setiap kali, agar nasi tidak lengket karena gosong di bagian bawah dekat dengan api kayu bakar.


Nasi minyak atau nasi samin ini makanan khas keluarga Sultan Palembang Darussalam zaman dulu. (Foto: SumatraLink.id/Mursalin Yasland)
Nasi minyak atau nasi samin ini makanan khas keluarga Sultan Palembang Darussalam zaman dulu. (Foto: SumatraLink.id/Mursalin Yasland)

Masak nasi minyak untuk pesta pernikahan ini biasanya dilakukan beberapa orang bergantian mengaduk dan mengganti kayu bakarnya. Istimewanya, juru masak nasi kuning ini biasanya laki-laki, karena mengolah bahan-bahannya membutuhkan banyak tenaga dalam waktu yang lama.

Abad 17 dan 18 M

Mengenai sejarah nasi minyak ini, tidak banyak literatur atau ahli tertentu yang membahasnya. Tradisi kuliner nasi minyak ini berjalan secara turun temurun dan masih berlaku di Palembang dan daerah di Sumsel lainnya. Berdasarkan keterangan yang diperoleh, nasi minyak ini hadir pada bangsawan Kesultanan Palembang sekira abad 17 menuju abad 18 masehi.

Baca juga: Sekubal, Kuliner Khas Lampung yang Mulai Terasing

Biasanya, seusai sholat Jumat dari masjid, para bangsawan dan tamu kehormatan disuguhi santap siang dengan nasi minyak disertai lauk pendamping ayam kecap, gulai daging, malbi sapi, sayur buncis, acar, sambal nanas, kerupuk/kemplang, dan buah-buahan.

Bagi yang ingin masak nasi minyak ini, bahan-bahanya selain beras, harus ada minyak samin. Kemudian rempah-rempah, seperti jintan, pala, bawang merah dan bawang putih, jahe, kunyit, susu, saus tomat, dan nanas. Bumbu kari jadi nasi minyak ini sekarang sudah banyak dijual di pasar. (Mursalin Yasland)