Pengunjung berobat di salah satu puskesmas Kota Bandar Lampung. (Ilustrasi Foto: SumatraLink.id/Mursalin Yasland)
Pengunjung berobat di salah satu puskesmas Kota Bandar Lampung. (Ilustrasi Foto: SumatraLink.id/Mursalin Yasland)

SumatraLink.id (REPUBLIKA NETWORK) — Allah subhanahuwata’ala (SWT) menciptakan Nabi Adam ‘alaissalam (AS) menjadi bapak moyang manusia di muka bumi. Kehadiran Nabi Adam AS memupuskan teori Evolusi Darwin bahwa asal manusia dari kera yang berevolusi.

Malaikat, makhluk ghaib yang diciptakan Allah SWT dari cahaya, sedangkan manusia makhluk nyata. Malaikat selalu tunduk kepada Sang Pencipta. Ia berkuasa dan dapat menjelma sesuai kehendak-Nya. Malaikat tidak berketurunan dan tidak berjenis kelamin.

Allah SWT memberi tugas Malaikat Jibril menyampaikan wahyu kepada para rasul. Malaikat Israfil, peniup sangkakala dan pemikul Arasy. Dan Malaikat Mika'il yang mengurusi hujan dan tumbuh-tumbuhan. Ketiga malaikat tersebut mengurusi kehidupan. Yakni, Jibril mengurusi kehidupan hati, Mika'il mengurusi kehidupan bumi, dan Israfil mengurisi kehidupan pada hari kebangkitan.

Ada malaikat yang mencabut nyawa manusia atas perintah Allah. Malaikat maut ditugaskan mencabut nyawa manusia. Jadi Allah yang mewafatkan manusia. Tidak ada nama malaikat yang mencabut nyawa manusia, karena tidak ada dalilnya secara shahih.

"Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)-mu akan mematikanmu," (As-Sajdah: 11).

Ada malaikat berkeliling di muka bumi. Mereka mencari majlis-majlis ilmu (zikir). Mereka akan duduk bila bertemu halaqoh zikir atau majelis taklim. Terdapat pula malaikat yang mencatat amal manusia.

"Padahal, sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan," (QS. Al-Infithar: 10-12).

Baca juga: Jadikan Bulan Ramadhan Tahun Ini yang Terakhir

Dan juga dalil QS. Qaaf: 18, "Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat-malaikat yang selalu hadir."

Baca juga: Setiap Jiwa Menanti "Tamu Misterius"

Ini kisah Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah. Imam mazhad tersebut sakit. Seorang muridnya menjenguk sang guru. Sakitnya parah. Ia melihat gurunya merintih kesakitan, wajar karena manusia biasa.


Muridnya berkata, "Wahai Abu Abdullah (panggilan muridnya), kamu merintih sedangkan Thawus pernah berkata; 'Sesungguhnya malaikat menulis sampai rintihan orang sakit, karena Allah berfirman: 'Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir'."

Sontak Imam Ahmad berhenti merintih kesakitan. Ia menahan rasa sakitnya sekuat mungkin, agar mendapat perlindungan Allah, untuk mendapatkan pahala atas sakitnya yang dicatat malaikat.

Thawus bin Kaisan keturunan orang Persia yang wafat pada 106 H. Thawus panggilan akrabnya di zaman tabi'in, generasi kedua setelah sahabat Nabi Sholallahu’alaihu wassalam. Ibnu Hibban mengatakan, Thawus termasuk ahli ibadah dari penduduk Yaman, seorang ahli fiqih dan pemuka tabi'in.

Ada ungkapan Thawus yang melegenda sampai sekarang: "Tidak ada sedikitpun yang diucapkan anak Adam melainkan pasti dihitung atasnya hingga rintihannya saat sedang sakit."

Baca juga: Alquran, Manual Book Selamat Menuju Kampung Akhirat

Tatkala keluar ucapan baik akan dibalas atau diganjar kebaikan, sebaliknya ucapan yang buruk akan dibalas dan dicatat amal keburukan oleh malaikat. Allah SWT menugaskan para malaikat menjaga anak cucu Adam pada siang dan malam secara bergiliran.

"Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang mengikutinya bergiliran di muka dan di belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah,” (QS. Ar-Raad: 11).

Betapa banyak kita lupa dengan karunia Allah selama hidup kita. Kita lupa atas kenikmatan hidup sehat dan berkecukupan. Ketika sakit (mendapat musibah), kita mengeluh, kita merintih, kita menangis tersedu-sedu.

Baca juga: Musibah Datang, Jangan Salahkan Alam, Salahkan Siapa?

Bahkan ada juga sampai berteriak lalu mendurhakai Allah atau suudzon (berburuk sangka) kepada Sang Pencipta. Tak sedikit menempuh jalan akhir dengan bunuh diri. Naudzubillahi min dzalik.

Sekelas Imam Ahmad bin Hambal saja, yang faqih ilmu agamanya, taat amal ibadahnya, memohon ampun kepada Allah karena rintihan sakitnya. Lalu, siapa kita? Mari kita memohon ampun kepada-Nya. Allahua'alam bishawab. (Mursalin Yasland)