Pekerja gerobak dorong sedang mengisi air bersih dari Sumur Suteng. (Foto: Mursalin Yasland) SumatraLink.id — Bila banyak gerobak dorong muatan jeriken air sedang parkir di pinggir jalan, itulah tempat Sumur Suteng. Sumur yang berada di Jl Ikan Bawal, Kecamatan Telukbetung Selatan, Bandar Lampung tersebut, buka setiap hari dari pagi sampai petang. Secara bergantian pemilik gerobak dorong mengisi air sumur ke jeriken. Setelah penuh 12 atau 18 jeriken dalam gerobak, pemiliknya mengantarkan kepada pelanggan (pemesan) di seputaran Telukbetung dan Kotakarang. Pengisian air sumur ini masih menggunakan pompa air manual. Untuk mempercepat pengisian pengelola menambah jadi tiga pompa air, tapi dua yang berfungsi. Satu per satu gerobak dorong masuk area sumur. Aktivitas pengisian dan pengantaran air kepada pelanggan berlangsung sejak selepas Subuh hingga menjelang Maghrib. Pelanggan air bersih dari Sumur Suteng ini mayoritas pedagang dan juga sebagian warga. Sarin (55 tahun), seorang bapak pemilik gerobak dorong mulai mengisi air sumur ke jeriken. Sebanyak 18 jeriken dalam gerobaknya terisi penuh setelah 10 menit dipompa. “Kalau lamanya tergantung seberapa cepat memompa airnya,” kata Sarin saat ditemui, beberapa waktu lalu. Hari itu, lelaki paruh baya tersebut sudah mengantar air bersih dalam gerobaknya tiga kali. Pertengahan hari, ia beristirahat sejenak. Pengiriman air bersih tersebut dilakukannya dengan mendorong gerobak, terkadang melintasi jalan menanjak dan menurun. Menurut dia, permintaan air bersih meningkat bila terjadi musim panas atau kemarau. Meski kemarau, air Sumur Suteng tidak berpengaruh debitnya. Permintaan yang banyak dari pelanggan, membuat pemilik gerobak dorong kwalahan melayaninya, lantaran banyak yang tidak sanggung mendorong gerobak di siang hari. Sumur Suteng sudah terkenal di kawasan Telukbetung dan Tanjungkarang. Lokasi sumurnya berada persis di pinggir Jl Ikan Bawal dekat Kantor Polda Lampung (lama). Kehadiran sumur ini telah mempekerjakan lebih 50 orang pemilik gerobak dorong. Baca juga: Pemulung Kayu Gerobak Dorong Mampu Jadikan Anak Sarjana Kendati sumur ini terus dipompa dan dimanfaatkan sejumlah warga, debit air sumur ini tidak pernah kering. Apalagi saat musim kemarau, sumur ini malah makin penuh airnya dan permintaan semakin meningkat. Pelanggannya kebanyakan warga yang bermukim dekat Teluk Lampung. Gerobak dorong isi jeriken mengantre masuk Sumur Suteng. (Foto: Mursalin Yasland) Mengenai kisah Sumur Suteng ini, Achmad (79 tahun), pengelola sumur menuturkan, ia bergabung sebagai pekerja gerobak dorong air Ssumur Suteng ini sejak tahun 1967. "Jadi sumur ini sudah ada di bawah tahun 1967," ujar Achmad. Ia mengatakan, tadinya cuma satu pompa, sekarang sudah menjadi tiga pompa. Namun, yang berfungsi dua pompa saja. Kehadiran sumur pompa Suteng ini membawa berkah bagi warga dan pedagang yang tinggal di sekitaran Telukbetung dan Kotakarang, yang berada di kawasan Teluk Lampung. Permintaan air bersih dari sumur ini terus mengalir, apalagi saat musim kemarau. Bahkan, sampai ada pelanggannya datang langsung meminta diantarkan segera, karena minimnya pekerja gerobak dorong ini, membuat banyak permintaan tertunda. Rata-rata pekerja gerobak sumur pompa ini berasal dari luar Lampung. Ketika bulan Ramadhan, beberapa pekerja ada yang libur, pulang kampung, untuk berpuasa bersama keluarga. Namun, Sarin, yang asal Serang, Banten ini, tetap bertahan di Lampung. Bapak tiga anak ini sudah bekerja sebagai penarik gerobak jeriken air bersih di sumur Suteng ini lebih dari 10 tahun. Ia menuturkan penghasilan dari penarik gerobang jeriken air ini lumayan, untuk kebutuhan dirinya di Lampung maupun keluarganya di Banten. Saat bergabung di Sumur Suteng, ia dan pekerja lainnya harus memiliki gerobak dan jeriken sendiri. Setiap bulan, ia dan pekerja lainnya harus menyetor uang ke pengelola sumur Rp 150 ribu per bulan. Pekerja menarik gerobak kepada pelanggannya tiga sampai lima kali sehari, bergantung dari jarak tempuh yang harus diantarkan ke pelanggannya. Pekerja gerobak jeriken ini mematok harga satu gerobak berisi 12 jeriken seharga Rp 20 ribu dengan jarak normal. Sedangkan jarak tempuh yang diluar normal, mereka memasang tarif Rp 40 ribu. Sarin menyenangi pekerjaan tersebut. Menurut dia, yang dibutuhkan dalam pekerjaan ini hanya tenaga bukan pemikiran. Semakin banyak pesanan, semakin banyak dapat uang, tapi tenaga terkuras. Dalam sehari, ia bisa mengantongi rezeki di bawa ke rumah rata-rata Rp 100 ribu. (Mursalin Yasland) Facebook WhatsApp Twitter Threads Navigasi pos Sepenggal Cerita dari Negeri Habasyah Cara Allah Mengabulkan Doa-doa Kita