Pilkada serentak 2024. (Foto Ilustrasi: SumatraLink.id/Republika.co.id)
Pilkada serentak 2024. (Foto Ilustrasi: SumatraLink.id/Republika.co.id)

SumatraLink.id (REPUBLIKA NETWORK) – Sebentar lagi penduduk Indonesia menggelar Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak pada 27 November 2024. Mencari sosok pemimpin (presiden, gubernur, bupati, dan wali kota) yang akan mengayomi rakyatnya secara adil dan bijaksana sangatlah sulit di zaman ini.

Meski tidak seideal mencari pemimpin yang namanya sudah mahsyur di kalangan para nabi dan sahabatnya, setidaknya beberapa sosok pemimpin setelahnya dapat menjadi teladan dan panutan bagi penduduk akhir zaman ini. Ketika memimpin rakyatnya, mereka berjibaku menjalankan amanat sesuai dengan ajaran agama dan konstitusi yang disepakati bersama.

Sebut saja Iyadh bin Ghanam (wafat 641 H). Sosok pemimpin Negeri Syam ini telah membuktikan dirinya mampu menjalankan amanat rakyatnya sebagai gubernur di zaman Khalifah Umar bin Khotob Rodhiyallahu’anhu (RA). Gubernur Iyadh bin Ghanam sangat tegas dan adil dalam mengelola negaranya termasuk dalam lingkungan keluarganya.

Kekuasaan yang luas dalam genggamannya tak menjadikan Iyadh lalai dan lupa diri terhadap amanat yang diembannya dengan sumpah dan janji. Tak seperti sebagian besar para pemimpin atau pejabat di zaman ini, yang ketika menjabat mulai tergelincir oleh kekuasaan dan kemewahan hidup.

Dalam suatu riwayat, ada lima orang keluarga dekatnya datang ke rumah Iyadh bin Ghanam. Mereka bermalam beberapa hari, dan mengadukan kesulitan hidupnya selama ini. Ketika hendak pulang, Iyadh memberikan bekal untuk perjalanan sebesar 10 dinar kepada lima orang tersebut.

Baca juga: Khalifah Umar Meriang Ketika Anaknya Disebut Bakal Penggantinya

Uang yang hanya 10 dinar itu dinilai mereka sangatlah sedikit dari seorang gubernur yang menguasai negeri Syam tersebut dari kalangan keluarga dekatnya. Mereka marah dan mencaci sosok Iyadh bin Ghanam, karena harapan mereka datang ke rumah seorang gubernur itu, jauh panggang dari api.

“Bukankah engkau Gubernur Negeri Syam, tapi engkau hanya memberi uang kepada kami hanya sekedar ongkos perjalanan pulang,” kata salah seorang dari kemenakan Iyadh bin Ghanam kala itu.

Apa jawab Iyadh? “Saya tidak mengingkari hubungan kerabat keluarga dari kalian. Demi Allah, aku hanya dapat memberikan (uang) yang kamu terima tadi, dengan menjual budak dan menjual barang yang tidak aku butuhkan. Maafkanlah aku!”


Jawaban Iyadh ini tetap tidak digubris keluarganya bahkan mereka menyatakan, Allah tidak akan memaafkan Iyadh.

Iyadh melanjutkan, apakah dengan ini mereka akan meminta uang yang lebih dari itu, tetapi ia akan mengambil harta titipan Allah yang bukan haknya meski menjabat gubernur.

“Demi Allah, seandainya (tubuh) aku digergaji, itu lebih aku sukai dari pada aku berkhianat (menuruti kemauan keluarga) meski uang seperak saja,” kata Iyadh bin Ghanam (dalam buku Shifatush Shafwah, Ibnul Jauzi, I/277).

Perkataan Iyadh kepada keluarganya itu masih tetap tidak dapat dimaklumi oleh kemenakannya. Mereka berharap (mumpung ada keluarga pejabat) mendapat jabatan, pekerjaan, mendapat proyek dari keluarganya yang telah memegang jabatan.

Iyadh telah berjibaku untuk tidak korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) ketika mengemban jabatan gubernur yang telah diamanati rakyatnya dengan mengeluarkan uang sepeser pun tanpa hak.

Baca juga: Dinilai Pejuang Islam yang Kuat, Umar bin Khotob RA Dibunuh Kaum Yahudi

Selain takut kepada Allah Subhanahu wata’ala, Iyadh bin Ghanam juga sangat memegang dan menjaga amanah yang diberikan oleh Khalifah Umar bin Khotob RA. Seperti diketahui, Umar bin Khotob RA sangat tegas memimpin dan menindak siapapun tidak saja bagi kalangan kaum muslimin juga kaum nonmuslim bila melanggar syariat dan aturan bernegara.

Keteguhan Iyadh bin Ghanam ini menjadi teladan bagi kita semua, terutama bagi sosok pemimpin di segala lini kehidupan manusia yang dipimpinnya. Jabatan yang diemban, amanah yang diberikan apalagi diawali melalui sumpah dan janji atas nama Allah SWT, sangatlah berat pertanggungjawabannya baik di dunia maupun terlebih di akhirat kelak.

Imam asy-Syafi’i rohimahullah berkata, “Mengurusi manusia itu lebih sulit daripada mengurusi hewan.” Tapi, ironisnya banyak orang yang berebut mencari dan mendapatkan jabatan pada zaman akhir ini.

Semoga kita semua mendapatkan sosok pemimpin dan sosok pejabat yang meneladani perilaku Iyadh bin Ghanam. Allahua’lam bishawab. (Mursalin Yasland)