SUMATRALINK.ID — Umar bin Khotob Rodhiyallohunahu (RA) masuk ke rumah Nabi Muhammad Sholallahu’alaihi wassalam (SAW). Sejenak melepas lelah, ia memandangi perabotan dalam rumah kecil Nabi SAW di Madinah. Tak ada yang aneh apalagi istimewa perabotan rumah tangga suami Aisyah Rodhiyallahuanha (RH) itu. Tak ada perhiasan atau gemerlap benda bergelantungan di ruang tamunya, layaknya seorang pembesar sebuah negeri. Umar RA hanya melihat ada sebuah guriba (tempat air) yang terbuat dari kulit kambing tergatung di sisi dinding dalam ruangan itu. Guriba tersebut digunakan Nabi SAW hanya untuk berwudhu tatkala bangun malam untuk Shalat Tahajud. Keesederhanaan seorang utusan (Rasul) Allah Subhanahuwata’ala (SWT), seorang pemimpin umat Islam, seorang yang dimuliakan Allah SWT, seorang yang dijamin masuk surga, karena telah dihapuskan dosa-dosanya sebelum dan sesudah dalam hidupnya. Baca juga: Sebaki Kurma Hadiah Pelaku Gibah Sekuel singkat ini membuat Umar RA, sahabat yang kelak memimpin umat Islam sepeninggal Nabi SAW, setelah sahabat Abubakar RA, meneteskan air mata. Umar terdiam, Umar pun menangis. “Mengapa Engkau menangis ya… Umar?” tanya Nabi SAW. Rasulullah SAW seorang pemimpin umat dan pemimpin perang, juga pembawa risalah dari langit, tak sepatutnya hidup dalam kemiskinan seperti itu. Dakwah Islam yang ditebarkannya ke semua negeri telah mencapai titik kejayaan. Semua negara dan bangsa takluk dan mengakui keberadaan Islam. “Seluruh Masyrik (bangsa timur) dan Maghrib (bangsa barat) telah tunduk ke bawah kekuasaan Engkau ya Rasulullah. Anak kunci seluruh jazirah Arab telah (Engkau) terpegang di tangan Tuan. Padahal, Tuan masih begini saja,” jawab Umar. Sebagian besar orang yang telah berhasil menaklukan sebuah keinginannya, dia sepatutnya dapat menikmati hasil jerih payahnya, yang sudah berjuang bersusah payah, berkeringat, dan berdarah-darah meraih kemenangan atau kesuksesan dalam hidup. Sudah dapat dipastikan, mereka yang seperti itu akan hidup bersenang-senang, menikmati hidup dunia di kursi kekuasaan, kursi kemewahan, dan bergelimang harta benda dan perhiasan, dengan permaisuri dan ‘budak’ rumah tangga yang membantunya. Mereka bahkan cenderung lupa daratan dan lupa ingatan. Tapi, berbeda dengan perangi hidup Nabi Muhammad SAW dalam menyikapi kesuksesan dakwah Islam yang diserukannya melawah kejahiliyahan dan kezholiman selama 13 tahun di Makkah, dan 10 tahun di Madinah. Mendengar pernyataan Umar tersebut, yang membandingkan dengan raja Persia dan Romawi, dan para raja berkuasa lainnya, Nabi SAW hanya tersenyum. “Ingatlah Umar! Soal ini bukanlah soal ke-Kaisaran seperti di Romawi, dan bukan juga soal Kisra di Persia. Aku adalah Nabi, wahai umar. Aku bukan Raja!” kata Nabi Muhammad SAW seperti dikutip Buya Hamka dalam bukunya Pandangan Hidup Muslim, 1961. Pernyataan Nabi SAW ini memang bukan kaleng-kaleng atau hoaks. Meski beliau orang termulia di muka bumi ini, dihapuskan dosa-dosanya, dijamin masuk surga, mendapat sholawat dari Allah dan umatnya, tak ada seberkas atau setitik hitam untuk berlaku jumawa. “Sesungguhnya, aku ini hanya seorang manusia sepertimu, yang diwahyukan kepadaku….” (QS. Al-Kahfi: 110). Sangat bertolak belakang dengan gaya hidup ‘pembesar’ zaman sekarang, yang hidupnya diliputi hedonisme. Padahal, orang-orang seperti ini, hidup bergelimang dosa, akhir hidup belum terjamin, surga masih jauh dari mata, tapi yakin dengan kemewahan dan kenikmatan dunianya. “Sesungguhnya kehidupan dunia adalah permainan dan sesuatu yang melalaikan…. Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadid: 20). Sepeninggal Nabi SAW, tidak ada harta benda waris yang ditinggalkan untuk keluarganya. Ia dan keluarga hidup dalam sangat kesederhanaan sesuai dengan kebutuhan. Tidak ada harta warisan dan pusaka agung yang dimiliki. Dalam rumahnya hanya tersisa setengah karung gandum yang terletak di bilik rumahnya. Dan sebuah baju besi yang masih tergadai pada seorang Yahudi, yang belum sempat ia tebus semasa hidupnya. Baca juga: Orang Kaya yang Saya Kenal Nabi SAW, orang miskin? Tidak… Semasa hidupnya ia berkurban 100 ekor unta pada bulan Dzulhijjah. Ia menyembelih 63 ekor unta, sisanya oleh Ali bin Abitholib RA. Artinya, 14 abad lalu Nabi SAW sejatinya seorang “sultan”, istilah generasi kini. Bila dikalkulasi, seekor unta seharga 3.000 Riyal Saudi (RS) atau setara Rp12 juta (1 RS Rp4.000), kalau 100 unta Nabi SAW berkurban Rp3,6 miliar. Meski demikian, beliau hidup berumahtangga dengan Aisyah RH di pojok Masjid Nabawi, Madinah. Rumahnya berukuran 3,5 meter (m) x 5 m x 2,5 m. Saking sempitnya, ketika Nabi SAW shalat malam, beliau harus memindahkan kaki istrinya. Lantainya masih tanah dan alas tidurnya pelepah kurma kasar. Ketika bangun tidur, tikarnya membekas di tubuhnya. (Mursalin Yasland) Facebook WhatsApp Twitter Threads Navigasi pos Sebaki Kurma Hadiah Pelaku Gibah Menyikapi Bencana Menimpa Kita