SUMATRALINK.ID — Setelah memeluk Islam, tidak serta merta kaum muslimin Makkah aman. Mereka yang jumlahnya masih segelintir dari mayoritas penduduk paganisme tersebut mendapatkan perlakuan kasar secara fisik hingga pembunuhan. Nabi Muhammad Sholallahu’alaihi wassalam (SAW), pembawa risalah Islam, meminta mereka hijrah ke Habasyah (Abisinia), negeri yang kita kenal saat ini Ethiopia di Benua Afrika. Penduduk di benua ini mayoritas berkulit hitam dengan rambut ikal. Dua belas orang laki-laki ditambah empat orang perempuan penduduk pribumi Makkah dari kalangan kaum Quraisy berangkat ke Habasyah. Mereka disebut orang yang hijrah pertama kali pada tahun ke-5 Hijriah atau 615 Masehi, sebelum ke Yastrib (Madinah). Secara diam-diam dan sembunyi-sembunyi mereka meninggalkan Tanah Air-nya bergerak ke Habasyah pada malam hari. Mereka meninggalkan harta benda dan rumah-rumah mereka di Kota Makkah, tanah kelahiran mereka. Mereka juga rela memutus hubungan keluarga dan penduduk Makkah, demi menyelamatkan keimanan mereka dari pengaruh orang-orang Quraisy. Habasyah, sebuah negeri yang waktu itu mayoritas penduduknya beragama Nashrani yang diperintah seorang raja yang baik dan adil bernama Najasyi (dikenal dengan nama Negus). “Tak ada orang yang dianiaya di situ. Itu bumi jujur, sampai nanti Allah membukakan jalan buat kita semua,” seperti ditulis Muhammad Husain Haekal dalam bukunya Sejarah Hidup Muhammad. Raja Najasyi mendapat tamu dua orang utusan Kaum Quraisy; Amr bin al-As dan Abdullah bin Abi Rabi’ah. Mereka membujuk raja dan pengawalnya agar sudi mengembalikan 16 penduduk Makkah ke Tanah Airnya. Setelah mendengar langsung jawaban Ja’far bin Abi Thalib, perwakilan kaum muslimin, Raja Najasyi meminta kedua tamu itu pulang. Ia menjamin keamanan kaum mulismin di negerinya tanpa ada gangguan apapun. Hijrah pertama gelombang satu ke Habasya dari Makkah 15 orang, kemudian disusul lagi hijrah gelombang kedua penduduk Muslim Makkah sebanyak 80 orang. Negeri Habasya kala itu sangat makmur. Hasil pertanian dan perkebunannya subur. Tidak seperti di Makkah yang kering kerontang dan tidak ada buah-buahan. Dari Abu Hurairah Rodhiyallahuanhu, seperti dikutip Kitab Alfu Mu’jizati Rasulullah karya Ibnu Jauzi, ia berkata, “Rasulullah SAW mengucapkan belasungkawa atas meninggalnya Raja An-Najasyi pada hari meninggalnya, dan keluar bersama orang-orang menuju mushalla untuk melakukan shalat ghaib. Setelah itu beliau bertakbir sebanyak empat kali.” Penduduk Habasya mayoritas Nashrani sangat damai menjalankan syariat Nabi Isa ‘Alaihissalam, sehingga kaum muslimin aman menjalankan syariat Islam dan berkembang di Negeri yang bernama Ethiopia hingga hari ini. Dari negeri ini, lahir tiga manusia istimewa selain Raja Najasyi, terdapat Luqman al-Hakim yang dianugerahkan Allah Subhanahuwata’ala tersurat namanya di dalam Al-Quran, dan Bilal bin Robah, muadzin dan sahabat Rasulullah SAW. Allahua’lam bishawab. (Mursalin Yasland) Facebook WhatsApp Twitter Threads Navigasi pos Sedikit Kurma Tak Habis Dimakan 400 Orang