Bung Karno saat diwawancarai Cindy Adams tahun 1964. (Foto: Repro Buku Cindy Adams) SumatraLink.id – Di kala banyak orang (lelaki) yang melecehkan kaum perempuan dalam berbagai bidang kehidupan dan pekerjaan, justru Proklamator Indonesia Bung Karno berpandangan sebaliknya. “Kemerdekaan! Bilakah semua Sarinah-Sarinah mendapat kemerdekaan? Tetapi, ja — kemerdekaan jang bagaimana? Kemerdekaan seperti jang dikehendaki oleh pergerakan feminismekah, jang hendak menyamarakatan perempuan dalam segala hal dengan laki-laki? Kemerdekaan ala Kartini? Kemerdekaan ala Chalidah Hanum? Kemerdekaan ala Kollontay?” Demikian penggalan tulisan Ir Sukarno (Proklamator Bung Karno) dalam bukunya berjudul Sarinah (Kewadjiban Wanita dalam Perdjoangan Republik Indonesia), Cetakan III Tahun 1963), yang saya kutip utuh ejaannya. Dari buku tersebut, dapat diyakini Bung Karno sangat perhatian dengan sosok dan peran perempuan di negeri ini. Saat Bung Karno bertandang ke rumah kawannya seorang guru di Bengkulu. Kawannya sangat mencintai istrinya. Kedua pasangan tersebut sangat ia kenal baik hingga keduanya dianggap Bung Karno sebagai adiknya sendiri. Kawannya seorang suami yang “moderen”, tetapi istrinya seperti orang “kuno” atau “terkungkung”. Hal tersebut pernah disampaikan istrinya kepada Bung Karno. Kepada kawannya, Bung Karno menganjurkan agar memberikan kelonggaran atau kemerdekaan sedikit kepada istrinya. Ia (kawannya) menjawab, bahwa ia tidak mengizinkan istrinya keluar rumah, justru karena ia amat cinta dan menjunjung tinggi kepadanya. Ia tidak mengizinkan istrinya keluar rumah justru untuk menjaga jangan sampai istrinya itu dihina orang. “Percayalah Bung, saya tidak ada maksud mengurangi kebahagiaannya, saya hargakan dia sebagai sebutir mutiara,” kata kawannya. Bung Karno menyatakan, mereka memuliakan istri mereka yang mereka cintai sebagai barang yang berharga, mereka jadikan sebagai mutiara. Tetapi justru, kata dia, sebagaimana orang menyimpan mutiara di dalam kotak, demikian pulalah mereka menyimpan istrinya itu di dalam kurungan atau pingitan. “Bukan untuk memperbudaknya, bukan untuk menghinanya, bukan untuk merendahkannya, melainkan justru untuk menjaganya, untuk menghormatinya, dan untuk memuliakannya,” tulisnya. Persoalan peran perempuan memang masih menjadi dilematis. Bahkan, bagi Soekarno urusan posisi perempuan masih harus dipecahkan di Tanah Air ini. Posisi perempuan masih terbelakang, tetapi dibalik keterbelakangan justru juga ada yang bermanfaat. Hasil pergerakan feminisme di Eropa, menurut Soekarno, kaum perempuan Eropa sendiri tidak puas lagi dengan hasil feminisme atau neofeminisme itu? Memang peran perempuan semakin pelik. Perempuan mencari nafkah juga terjadi kesenjangan, antara perempuan sebagai ibu dan istri dan juga perempuan sebagai pekerja di masyarakat. Untuk bertindak sempurna perempuan sebagai ibu dan istri tidak cukup waktu. Untuk itulah, pergerakan feminisme dan neo-feminisme ternyata tidak mampu menyembuhkan keretakan tersebut. Bung Karno dan tiga anak perempuannya tahun 1965. (Foto: Repro Buku Cindy Adams) Islam sangat memuliakan kaum perempuan. Sejak hijrahnya masyarakat zaman jahiliyah memasuki zaman terang benderang bersama hadirnya Nabi Muhammad SAW, membuat harkat dan martabat perempuan mulai sangat dimuliakan. Dalam sejarahnya, ketika turunnya wahyu tentang hijab bagi wanita, membuat sejumlah wanita bergegas menutupi kepala dan tubuhnya rapat-rapat. Bahkan, ada yang langsung mengambil hordeng yang terpasang di jendela untuk penutup kepalanya. Dr Yusuf Qardhawi mengatakan, dilihat dari hitungan banyaknya, jumlah wanita mencapai separuh dari jumlah masyarakat dunia. Namun, dilihat dari pengaruhnya terhadap suami, anak-anak, dan lingkungan jumlah tersebut lebih dari separuh jumlah masyarakat dunia. Ada ungkapan, “Di balik keberhasilan setiap pembesar ada wanita.” Ada yang beranggapan, wanita sebagai sumber atau biang terjadinya berbagai bentuk bencana dan tindak kriminalitas di dunia. Bahkan, ada pendapat, bila terjadi musibah atau tindak kriminalitas, mereka mengatakan, “Coba periksa kaum wanitanya!” Memang, ada dua pendapat. Kelompok yang pro dan berbaik sangkat dengan wanita, juga ada yang menjadi musuh wanita. Semua itu bergantung dari mana melihatnya. Islam mengangkat harkat dan martabat wanita dengan memandang sebagai anak, istri, ibu, dan anggota masyarakat. Islam memandang wanita sebagai seorang manusia. Kejadian dikeluarkannya Nabi Adam as bersama Siti Hawa dari Surga sebagaimana dalam Surat Al-Baqarah: 35. Di dalam Alquran tidak ditemui nash yang mengatakan keluarnya mereka dari surga gara-gara wanita (Siti Hawa). Padahal, sebenarnya, Adam-lah yang bertanggung jawab, sedangkan wanitanya sebagai pengikut. (seperti dalam QS. Thaha: 115, 121-122). Dalam Islam, wanita bukanlah musuh atau lawan tanding kaum lelaki. Wanita adalah pelengkap laki-laki dan laki-laki pelengkap bagi wanita (seperti dalam QS. Ali Imran: 195). Dan juga Rasul SAW bersabda: Sebenarnya wanita adalah saudara kandung laki-laki.” Tak ada pengurangan atas hak wanita, Islam menurunkan syariatnya sama antara laki-laki dan wanita sekaligus. Islam adalah din yang sempurna sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Maidah: 3, ”Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhoi Islamsebagai agama bagimu…” Datangnya risalah Islam yang dibawa Rasulullah saw telah menjadi benteng pemisah antara peradaban jahiliyah dan peradaban Islam yang mulia. Peradaban jahiliyah yang telah menempatkan kaum wanita pada posisi hina dan direndahkan, akhirnya dihapuskan begitu Islam datang. Kedatangan Islam telah mengubah 180 derajat kaum wanita. Wanita telah mendapatkan kembali haknya dan derajatnya diangkat kembali kepada puncak kemuliaan. Islam memberikan posisi dan peran kaum wanita pada sosok yang dijaga harkat dan martabatnya. Wanita tidak lagi sebagai objek eksploitasi, tapi menjadi tempat persemaian generasi masa depan umat, sebagai pencetak atau arsitek generasi umat masa depan. Sebab, wanita (ibu) sebagai madrasah pertama generasi masa depan. Wahai wanita akhir zaman, meskipun kalian tidak semulia Bunda Khadijah rh, tidak sesabar Fathimah, dan tidak secerdas dan secantik Aisyah, namun sematkanlah cita-cita mulia itu. Bahwa kalian ingin menjadi wanita salehah. Bahwa di relung hati kalian pun sebenarnya merindukan surga-Nya. Duhai wanita akhir zaman, sungguh Allah telah memberikan seruan kepada hamba-hamba-Nya. Bahwa surga-Nya adalah sebaik-baik tempat kembali. Maka persiapkanlah dirimu untuk meraihnya. Janganlah kalian terlena karena menuruti hawa nafsu yang menyesatkan. Jangan pula terperdaya bujuk rayu setan yang selalu menawarkan kebahagiaan semu atas dunia ini. Janganlah kalian menjadi wanita akhir zaman dibenci Rasulullah karena perbuatan kalian yang jauh dari tuntunan Allah dan Sunah Rasul-Nya. (Mursalin Yasland) Facebook WhatsApp Twitter Threads Navigasi pos Manusia Bisa Jadi Kera dan Babi, Benarkah? Menjadikan Ta’awwun Solusi Masalah Dunia