Masjid Agung PalembangMasjid Agung SMB Jayo Wikromo Palembang. (Foto: Sumatralin.id/Mursalin Yasland)

SUMATRALINK.ID – Tidak semua masjid atau musala mampu menggelar majelis taklim setiap hari selepas salat fardhu. Tapi berbeda dengan Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikramo (SMB) Palembang, masjid tertua yang dibangun tahun 1738 dan selesai tahun 1748.

Masjid yang berada di pusat Kota Palembang dekat Sungai Musi dan Jembatan Ampera ini rutin menggelar cawisan bakda salat wajib. Istilah cawisan menjadi tradisi wong plembang mengisi kajian Islam di masjid berarsitektur Melayu, Cina, dan Eropa.

Suasana cawisan bakda Maghrib. (Foto: Sumatralink.id/Mursalin Yasland)
Suasana cawisan bakda Maghrib. (Foto: Sumatralink.id/Mursalin Yasland)

Berdasarkan keterangan yang diperoleh, tradisi cawisan atau majelis taklim bakda salat fardhu ini berawal dari selepas salat Subuh yang berlangsung sejak lama. Cawisan terus berkembang hingga saat ini selain bakda Subuh juga bakda Zuhur, Asar, dan Magrib.

Cawisan di Masjid Agung SMB Palembang ini menjadi perhatian jamaah sekitar masjid yang letaknya strategis dengan aktivitas masyarakat kota. Selain jamaah tetap masjid, juga terdapat jamaah datang dari Pasar 16 Ilir, pusat perdagangan di dalam kota, aktivitas di bawah Jembatan Ampera dan Sungai Musi, dan juga jamaah safar dari luar kota Palembang atau Provinsi Sumatra Selatan yang kebetulan singgah di masjid bersejarah ini.

Beragam latar belakang jamaah masjid, membuat materi cawisan juga terbagi menjadi beberapa tema. Diantaranya kajian tentang Ilmu Tauhid, Tafsir Al-Quran Jalalain, Fikih, dan beberapa kajian kitab-kitab yang ditulis ulama secara tematik.

Tampak depan Masjid Agung SMB Palembang. (Foto: Sumatralink.id/Mursalin Yasland)

Sedangkan pengisi cawisan berasal dari kiyai, ulama, dai, dan ustadz yang sudah ternama dan juga terseleksi berdasarkan bidang keilmuannya.

“Ada yang ustadz muda, ada juga yang sudah kiyai senior yang sudah malang melintang di dunia dakwah,” ujar seorang jamaah tetap masjid, belum lama ini.

Masjid Agung SMB Jayo Wikramo Palembang menjadi ikon Kota Palembang dan Provinsi Sumatra Selatan. Masjid yang didirikan Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikromo (1724-1758) ini masuk dalam cagar budaya. Tadinya, awal pembangunan masjid dengan luas lahan 1.080 meter persegi dengan kapasitas 1.200 orang.

Setelah mengalami beberapa kali renovasi dan revitalisasi seiring perkembangan zaman, terakhir pada tahun 2000 Masjid Agung SMB Palembang bertambah luas menjadi 15.400 meter persegi. Dengan luas ini dapat menampung jamaah 9.000 orang dan kalau Idul Fitri atau Idul Adha lebih dari 15.000 orang.

Kolam depan masjid terdapat tempat air wudhu. (Foto: Sumatralink.id/Mursalin Yasland)

Adanya cawisan bakda salat fardhu ini setidaknya menambah wawasan keislaman jamaah dari berbagai latar belakang dan dari berbagai domisili. Setidaknya, ada jamaah yang tadinya tidak tahu atau kurang faham tentang keilmuan Islam setelah mendengarkan cawisan menambah wawasan untuk dapat diamalkan.

“Sangat bermanfaat sekali, karena belum tentu ada masjid yang menggelar kajian siang setelah salat Zuhur atau Asar setiap hari,” kata Iwan, seorang jamaah yang berprofesi pedagang di depan Masjid Agung Palembang.

Menurut dia, selepas shalat Zuhur biasanya hanya diisi dengan istirahat atau tidur karena panas terik, akan tetapi adanya cawisan seperti ini dapat menambah ilmu baru dari kiyai atau ustadz.

Masjid Agung SMB Palembang dilihat dari Bundaran Air Mancur. (Foto: Sumatralink.id/Mursalin Yasland)

Ia mengatakan, rata-rata umat Islam yang biasa hanya mendengarkan kajian hanya sepekan sekali yakni pada hari Jumat setelah khotib naik mimbar. Kondisi saat khtobah itu, jamaah harus tertib dan serius.

“Tapi, kalau cawisan seperti ini lebih santai, sekali-sekali diisi dengan hiburan guyonan kiyai atau ustadz biar tidak tegang,” ujarnya.

Keuntungan adanya cawisan di Masjid Agung SMB Palembang ini, setidaknya dapat memberikan setitik pencerahan bagi jamaah yang sama sekali tidak pernah mengikuti majelis taklim, meskipun mereka mengakui Islam. Mudah-mudahan cawisan ini berbuah hidayah bagi jamaahnya. (Mursalin Yasland)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *