Jelajah bukit SuohMenjajak bukit Suoh dengan motor. (Foto: Mursalin Yasland)

PENGALAMAN menumpang kendaraan, apalagi yang mengendarai motor trail di wilayah Suoh, takkan pernah terlupakan. Siapa pun yang ingin melihat keajaiban alam Suoh, harus naik motor trail, kalau tidak menggunakan helikopter.

Sepanjang perjalanan sekitar 32 kilometer di atas motor, penuh petualangan. Rasa cemas bercampur haru, menghiasi penjelajahan. Cemas, karena medannya terjal, berlumpur, berbukit, dan di kiri atau kanan jurang menganga. Haru, karena takjub dengan keeksotikan alamnya yang dikelilingi perbukitan.

Ada puluhan tukang ojek yang melintas setiap harinya di jalan berbahaya tersebut. Betapa tidak, hasil bumi alam Suoh, mau tidak mau, harus diangkut ke luar, dan bahan pokok dari luar harus dikirim ke Suoh, agar aktivitas ekonomi warga Suoh berjalan.

Baca juga: Melirik Keajaiban Alam Suoh

Bagi yang sudah berpengalaman hilir mudik Suoh – Sekincau, tak masalah. Tapi, bagi pemula, harus menyiapkan tutup masker, baju jas hujan, dan perlengkapan keselamatan lainnya. Tak lupa bekal makanan secukupnya.

Pasalnya, jalan tanah setapak yang dilalui selain berliku juga menanjak dan menurun begitu tajam dan terjal. Tak jarang terdapat jurang-jurang dan jembatan kayu, yang hanya untuk satu roda motor. Bila roda terpeleset sedikit, motor bisa terjungkal ke jurang atau terbalik maupun terguling.

Menyeberang sungai dengan rakit. (Foto: Mursalin Yasland)

Herannya, para tukang ojek yang menggunakan motor trail, menganggap hal tersebut sudah biasa. “Tidak usah takut, Mas,” ujar Narto (29 tahun), tukang ojek motor trail yang sudah dua tahun hilir mudik daerah ini. Ia pun menuturkan, sudah biasa kalau motor ojek mengalami putus rantai atau rusak sama sekali.

Baca juga: Meraup Rezeki dengan Rakit Sungai Suoh

Bila turun hujan deras, tak ada tukang ojek yang berani mengambil risiko melintas jalan tanah liat bercampur lumpur. Mereka yang menggunakan jasa ojek, bila terjebak di tengah jalan, tiba-tiba hujan turun, terpaksa bermalam di jalan atau kedai kopi warga. Alasannya, mereka takut melanjutkan perjalanan karena berbahaya.

Namun, bila sudah menginjakkan kaki dan menjelajahi alam Suoh hingga ke ladang panas bumi, pasti ingin kembali. “Apalagi, bila panas bumi sudah dikelola,” tutur Poniman, seniman lukis, yang bermukim sudah puluhan tahun di kawasan panas bumi tersebut. (*)

*) Tulisan Mursalin Yasland/Wartawan Republika. Disadur dari koran Republika Edisi Juni 2006.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *