WAJAH Imam (51 tahun), tak pernah murung. Saban hari, dari Subuh hingga menjelang Maghrib, bersama dua anak buahnya menarik tali sling rakit di sungai yang arusnya kadang kuat. Pemilik rakit penyeberangan di Sungai Suoh, Kabupaten Lampung Barat (Lambar), Lampung, setiap harinya menyeberangkan ratusan warga dan kendaraan di sungai hilir mudik ke dan dari Suoh – Sekincau. Memang, Sungai Suoh persis berada di perbatasan antara Kecamatan Sekincau dan Suoh. Sungai ini berada di antara dua perbukitan yang tinggi menjulang. Semua warga dan kendaraan khususnya roda dua, mau tidak mau harus melintasi di sungai tersebut. Baca juga: Asyiknya Jelajah Bukit Suoh dengan Motor Ketika musim panas, sungai ini sebatas lutut orang dewasa. Saat musim hujan arus sungai menjadi deras hingga sebatas leher orang dewasa. Rakit bertingkat dua, yang memiliki lebar tiga meter dengan panjang 10 meter, dengan seutas kawat sling, tak pernah berhenti setiap menitnya. Bahkan, setiap menitnya tak pernah ia sempat menhela nafas untuk beristirahat, sudah datang motor yang hendak menyeberang. Jasa penyeberangan rakit di Sungai Suoh. (Foto: Mursalin Yasland) Memang, arus kendaraan roda dua (ojek dan pribadi) yang mengangkut bahan pokok dari Sekincau, maupun kendaraan yang mengangkut hasil bumi dari Suoh ke Sekincau tak pernah berhenti. Imam dan tiga anak buahnya mematok tarif Rp2.000 per motor sekali menyeberang. Bisa dikalkulasi penghasilannya, bila seharinya ratusan motor menyeberang, lumayan untuk dibawa pulang ke rumah. Sekali angkut dibatasi tiga sampai empat motor. “Bersihnya, bisa Rp200 ribu per hari,” katanya. Ia menuturkan, bila musim panas mereka tidak terlalu kerja keras untuk menarik rakitnya. Tapi, kalau hujan turun hantaman air dari bukit cukup deras, akibatnya mereka kesulitan menyeberangkan rakit. Baca juga: Melirik Keajaiban Alam Suoh Bukan itu saja, kecemasan Imam dengan arus deras seperti ini adalah keselamatan jiwanya maupun pengguna jasa. “Alhamdulillah, sejak kami hidup dengan rakit belum pernah ada kejadian,” ujar Imam, yang memiliki tiga anak, dengan penghasilan hanya menarik rakit. Ternyata, ia dan temannya bermukim jauh dari tempatnya mencari rezeki. (*) *) Tulisan Mursalin Yasland/Wartawan Republika. Disadur dari koran Republika Edisi Juni 2006. Facebook WhatsApp Twitter Threads Navigasi pos Asyiknya Jelajah Bukit Suoh dengan Motor