Sawah kemarau.Ilustrasi: Sawah kering. (Foto: AI/Sumatralink.id)

SUMATRALINK.ID – Oleh Ir. Muhammad Hakiem Sedo Putra, S.T., M.T. *)

Kemarau panjang sering kali baru mendapat perhatian ketika masyarakat mulai kesulitan memperoleh air. Sumur menurun, sumber air mengecil, lahan pertanian mengering, dan kebutuhan air rumah tangga meningkat. Padahal, persoalan kekeringan tidak seharusnya baru dibicarakan ketika kondisi sudah darurat.

Kemarau merupakan bagian dari siklus iklim. Yang perlu dipersiapkan adalah bagaimana masyarakat dan pemerintah mampu mengurangi dampaknya ketika periode kering berlangsung lebih lama dari biasanya.

Bagi Provinsi Lampung, persoalan ini penting karena air berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat, pertanian, perkebunan, dan aktivitas ekonomi daerah.

Ketahanan Air bukan Sekadar Ketersediaan Air

Ketahanan air sering dipahami secara sederhana sebagai tersedianya air yang cukup. Padahal, persoalannya lebih luas. Ketahanan air berarti kemampuan suatu wilayah menyediakan air yang cukup, menjaga kualitasnya, melindungi sumbernya, serta memastikan masyarakat tetap dapat memperoleh air ketika terjadi tekanan seperti kekeringan.

Dalam konteks Lampung, hal tersebut perlu menjadi bagian dari perencanaan pembangunan. Kita tidak cukup hanya mencari sumber air baru. Sumber air yang sudah ada harus dijaga. Air hujan yang tersedia harus dikelola. Infrastruktur penyimpanan harus diperkuat.

Jika langkah tersebut tidak dilakukan, setiap kemarau panjang akan kembali menjadi keadaan darurat.

Pertanian Berhadapan dengan Risiko

Sektor pertanian menjadi salah satu sektor yang paling sensitif terhadap perubahan ketersediaan air. Ketika curah hujan menurun, tanaman membutuhkan sumber air alternatif. Namun tidak semua lahan memiliki akses terhadap irigasi atau sumber air yang memadai. Akibatnya, petani harus menghadapi risiko penurunan produksi.

Dampaknya kemudian dapat meluas. Produksi yang menurun dapat mengurangi pendapatan petani dan memengaruhi aktivitas perdagangan hasil pertanian. Karena itu, kebijakan kekeringan tidak boleh hanya berorientasi pada penyediaan air bersih bagi rumah tangga. Ketahanan air untuk pertanian juga harus menjadi prioritas.

Petani membutuhkan informasi iklim yang mudah dipahami, penyesuaian waktu tanam, teknologi irigasi yang efisien, dan fasilitas penyimpanan air.

Menyimpan Air Saat Hujan

Kita perlu mengubah cara berpikir dalam mengelola air. Selama ini, air hujan sering dipandang sebagai sesuatu yang harus segera dialirkan agar tidak menimbulkan genangan. Padahal, sebagian air tersebut merupakan potensi cadangan.

Embung, kolam retensi, kolam penampungan, konservasi tanah, dan perlindungan daerah resapan dapat membantu mempertahankan air lebih lama di dalam suatu wilayah.

Tidak semuanya membutuhkan investasi besar. Yang lebih penting adalah menentukan lokasi yang tepat dan memastikan fasilitas tersebut dikelola secara berkelanjutan.

Dengan pendekatan tersebut, air hujan tidak hanya menjadi sesuatu yang harus dibuang, tetapi menjadi aset yang dapat dimanfaatkan ketika kemarau datang.

Tata Ruang dan Air Tak Bisa Dipisahkan

Pembangunan wilayah juga harus mempertimbangkan siklus hidrologi. Ketika lahan yang sebelumnya mampu menyerap air berubah menjadi kawasan terbangun, kemampuan wilayah menyimpan air dapat berkurang.

Pada musim hujan, air lebih cepat menjadi limpasan. Pada musim kemarau, cadangan air lebih cepat berkurang. Karena itu, daerah resapan, kawasan vegetasi, sempadan sungai, dan sumber air perlu dipertahankan dalam perencanaan tata ruang.

Pembangunan ekonomi tetap penting, tetapi harus dilakukan dengan mempertimbangkan daya dukung lingkungan.

Mengubah Budaya dari Reaktif Jadi Preventif

Tantangan terbesar mungkin bukan kurangnya teknologi, tetapi cara kita mengelola risiko. Kita masih sering bergerak setelah masalah muncul. Ketika kekeringan terjadi, bantuan air dikirim. Ketika sumber air menurun, pencarian sumber alternatif dilakukan.

Langkah tersebut memang diperlukan dalam keadaan darurat. Namun dalam jangka panjang, pendekatan tersebut tidak cukup. Lampung perlu membangun budaya pencegahan.

Pemetaan wilayah rawan kekeringan harus dilakukan secara berkala. Sumber air perlu dipantau. Infrastruktur penyimpanan harus disiapkan. Petani harus mendapatkan informasi iklim. Dan tata ruang harus mempertahankan kemampuan wilayah dalam menyimpan air.

Perguruan tinggi dapat membantu melalui penelitian, pemodelan hidrologi, dan pemetaan risiko. Pemerintah menyediakan kebijakan dan infrastruktur. Masyarakat menjaga sumber air dan menggunakan air secara bijak.

Semua unsur harus bergerak bersama. Kemarau tidak dapat dihentikan. Hujan tidak dapat dipaksa turun sesuai kebutuhan. Namun kita dapat menentukan seberapa siap menghadapi keduanya.

Ketahanan air Lampung tidak dibangun ketika sumur sudah mengering. Ketahanan air dibangun ketika air masih tersedia. Karena itu, kemarau panjang yang kita alami seharusnya menjadi momentum untuk memperbaiki cara Lampung menyimpan, menggunakan, dan melindungi air.

Jika kita mampu melakukan itu, kemarau tidak lagi hanya menjadi ancaman, tetapi juga menjadi pelajaran untuk membangun daerah yang lebih siap menghadapi ketidakpastian iklim.

*) Penulis, Dosen Program Studi Rekayasa Tata Kelola Air Terpadu, Institut Teknologi Sumatera (Itera). Ahli hidrologi dan SDAserta aktif dalam penelitian mengenai pengelolaan SDA, konservasi lingkungan, dan risiko bencana hidrometeorologi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *