Nasihat Diri Sendiri.Ilustrasi perenungan. (Foto: AI/Sumatralink.id)

JADILAH kalian orang-orang yang paling kokoh sikapnya, paling lapang dadanya, paling dalam pemikirannya, paling luas cara pandangnya.

Paling rajin amal-amalnya, paling solid penataaan organisasinya, dan paling banyak manfaatnya.

Merendahlah, engkau akan seperti bintang gemintang. Berkilau dipandang orang di atas riak air dan sang bintang pun berada nun jauh tinggi.

Janganlah seperti asap yang mengangkat diri tinggi di langit, padahal dirinya rendah hina.

Lupakan kebaikan-kebaikan yang pernah kamu lakukan kepada orang lain. Namun, jangan sekali-kali kamu melupakan kebaikan-kebaikan yang pernah orang lain lakukan terhadapmu.

Lupakan keburukan-keburukan yang pernah orang lain lakukan terhadapmu. Akan tetapi, jangan sekali-kali kamu melupakan keburukan-keburukan yang pernah kamu lakukan terhadap orang lain.

Dakwah adalah cinta. Cinta akan meminta semuanya dari dirimu, pikaranmu, sampai perhatianmu.

Berjalan, duduk, dan tidurmu, bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah, tentang umat yang kau cintai.

Itulah dakwah, menyedot saripati energimu, tulangmu. Sampai daging terakhir yang menempel di tubuh rentamu. Tubuh yang luluh lantak diseret-seret. Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari.

Dakwah bukannya tidak melelahkan, bukannya tidak membosankan, bukannya tidak menyakitkan. Bahkan, para pejuang risalah bukannya sepi dari godaaan kefuturan.

Bukan…. Justru rasa sakit itu selalu bersama mereka sepanjang hidupnya. Setiap hari akhirnya menjadi adaptasi dan rasa lelah itu sendiri akhirnya lelah untuk mencekik iman. Begitu pula rasa sakit hingga luka pun tak kau rasa lagi sebagai luka.

Teruslah bergerak hingga kelelahan itu lelah mengikutimu. Teruslah berlari hingga kebosanan itu bosan mengerjamu. Teruslah berjalan hingga keletihan itu letih bersamamu. Teruslah bertahan hingga kefuturan itu futuran menyertaimu. Teruslah berjaga hingga kelesuan itu lesu menemanimu.

Sekali lagi, amanah terembankan pada pundak yang semakin lelah. Bukan sebuah keluhan, ketidakterimaan, keputusasaan! Terlebih surut ke belakang. Ini adalah awal pembuktian tentang siapa di antara kita yang beriman.

Wahai diri, sambutlah seruan-Nya. Orang-orang besar lahir karena beban perjuangannya, bukan menghindar dari peperangan. (*)

Editor: Mursalin Yasland

Disadur dari buku: Mengisi Hati di Lorong Kehidupan (2), Ibnu Basyar, Gema Insani, 2016.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *